Dolar Tembus Rp18.100, Daya Beli Masyarakat Berpotensi Tertekan

JAKARTA, Majalah CEO. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, hingga menembus level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menambah perhatian terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, dan pergerakan modal asing.

Berdasarkan laporan Katadata dan FIN.CO.ID, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp18.105 hingga Rp18.110 per dolar AS pada awal perdagangan. Sementara itu, Bloomberg Technoz melaporkan tekanan terhadap rupiah juga terlihat di pasar offshore atau luar negeri, dengan kurs non-deliverable forward (NDF) berada di sekitar Rp18.125 per dolar AS pada pagi hari.

Perbedaan angka tersebut dipengaruhi oleh waktu pencatatan dan jenis pasar yang digunakan. Namun, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah sedang menghadapi tekanan yang perlu dicermati oleh pelaku pasar dan otoritas ekonomi.

Harga Minyak dan Arus Modal Jadi Sorotan

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak dunia. Bloomberg Technoz menyoroti harga minyak Brent yang bertahan di sekitar US$115 per barel. Jika harga energi tetap tinggi, beban impor Indonesia berpotensi meningkat, terutama untuk kebutuhan minyak dan produk energi yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Selain itu, arus keluar dana asing dari pasar saham serta ketidakpastian geopolitik turut menjadi sentimen yang membayangi pergerakan aset keuangan domestik. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana, termasuk pada aset di negara berkembang.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, mesin, dan barang modal. Apabila tekanan berlangsung lama, pelaku usaha dapat menghadapi kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya berisiko memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.

Meski demikian, besarnya dampak terhadap inflasi dan kegiatan ekonomi akan bergantung pada durasi pelemahan rupiah, pergerakan harga komoditas, serta kemampuan perusahaan menyerap kenaikan biaya.

Kebijakan Bank Indonesia Jadi Perhatian

Di tengah tekanan pasar, kebijakan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Reuters dalam laporan 21 Oktober 2026 memberitakan bahwa BI mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% dan menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5,00%.

Kebijakan suku bunga merupakan salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas moneter dan mendukung daya tarik aset keuangan domestik. Namun, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan suku bunga, melainkan juga oleh kondisi ekonomi global, harga komoditas, arus modal, serta kepercayaan investor.

Perkembangan kurs selanjutnya akan menjadi perhatian karena pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan terhadap dunia usaha, biaya impor, dan stabilitas harga. Sebaliknya, penguatan sentimen global dan aliran modal yang kembali masuk berpotensi membantu meredakan tekanan terhadap mata uang domestik.

Dengan demikian, pergerakan rupiah di atas Rp18.100 per dolar AS bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar internasional.

Sumber: Katadata, FIN.CO.ID, Bloomberg Technoz, Reuters, Herald.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *