JAKARTA, Majalah CEO. Bank Indonesia (BI) akhirnya menjelaskan strategi di balik kombinasi kebijakan moneter yang sempat membingungkan pelaku pasar. Di tengah tekanan terhadap rupiah dan gejolak pasar saham, BI memilih menahan suku bunga acuan, menaikkan bunga fasilitas simpanan, sekaligus melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan.
Dalam laporan Reuters, Jumat (23/10/2026), BI menegaskan bahwa langkah tersebut bukan kebijakan yang saling bertentangan, melainkan strategi untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, sementara suku bunga fasilitas simpanan semalam dinaikkan menjadi 5,00% dari sebelumnya 4,75%. Pada saat yang sama, BI merencanakan penurunan GWM secara bertahap hingga total 200 basis poin pada Desember 2026.
Kebijakan tersebut diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp90 triliun, sehingga bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit kepada dunia usaha.
Strategi ini memiliki dua sasaran utama. Pertama, menjaga daya tarik aset rupiah dan meredam tekanan terhadap nilai tukar. Kedua, memastikan ketersediaan likuiditas agar pembiayaan usaha dan aktivitas ekonomi tetap bergerak.
BI juga menyesuaikan skema insentif likuiditas makroprudensial agar penyaluran pembiayaan lebih fleksibel dan dapat diarahkan ke sektor-sektor yang membutuhkan dukungan.
Meski demikian, tantangan BI belum berakhir. Tekanan pasar keuangan dan sentimen investor masih berpotensi memengaruhi rupiah, sementara efektivitas pelonggaran likuiditas akan bergantung pada kesediaan perbankan menyalurkan dana ke sektor riil.
Intinya, BI sedang menempuh dua jalur sekaligus: menjaga stabilitas rupiah tanpa mematikan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan strategi ini akan terlihat dari kemampuan rupiah bertahan, likuiditas perbankan terjaga, dan kredit benar-benar mengalir ke dunia usaha. (andif)
Sumber: Reuters,BI.












