Serangan Kapal di Hormuz Melonjak, Biaya Energi Global Dibayangi Risiko Baru

JAKARTA, MAJALAH CEO. Meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan keamanan maritim, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas rantai pasok energi dunia. Lonjakan insiden sepanjang Oktober 2026 memperlihatkan bahwa risiko geopolitik di kawasan Teluk Persia masih membayangi perdagangan minyak internasional.

Reuters pada 23 Oktober 2026 melaporkan, sebanyak 28 serangan terkonfirmasi maupun dilaporkan terjadi di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya sepanjang Oktober. Angka tersebut menjadi jumlah bulanan tertinggi yang tercatat dalam pemantauan Washington Institute for Near East Policy sejak konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Sejak konflik tersebut pecah, jumlah insiden yang tercatat oleh lembaga itu telah mencapai 113 kasus. Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat 120 insiden terkonfirmasi di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas hingga 22 Oktober 2026.

Kapal Tanker Jadi Titik Rentan Perdagangan Minyak

Dampak konflik semakin terlihat pada armada pengangkut minyak mentah berkapasitas besar. Berdasarkan penelaahan Reuters terhadap data IMO dan MarineTraffic, lebih dari 30 kapal tanker jenis *Very Large Crude Carrier* (VLCC) mengalami kerusakan selama periode konflik, termasuk 11 kapal sepanjang Oktober.

Satu kapal VLCC mampu mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Kapal-kapal yang tercatat mengalami kerusakan tersebut setara dengan sekitar 3,5 persen dari total armada VLCC dunia yang berjumlah lebih dari 900 kapal.

Kerusakan pada kapal tanker berpotensi menimbulkan konsekuensi berantai. Selain mengurangi ketersediaan kapal yang siap beroperasi, insiden keamanan dapat mendorong perusahaan pelayaran memperhitungkan kembali risiko perjalanan, biaya asuransi, dan kebutuhan pengamanan.

Namun, besarnya dampak terhadap pasokan minyak aktual tetap bergantung pada tingkat kerusakan kapal, waktu perbaikan, serta kemampuan eksportir dan importir mempertahankan kelancaran pengiriman.

Tarif Angkut Melampaui US$1 Juta per Hari

Di tengah meningkatnya risiko, sebagian pemilik kapal justru tetap bersedia mengangkut minyak dari kawasan Teluk. Reuters melaporkan, keputusan tersebut antara lain didorong oleh tarif angkut harian yang melampaui US$1 juta serta potongan harga minyak dari sejumlah produsen regional.

Situasi ini memperlihatkan dilema ekonomi yang dihadapi industri pelayaran. Potensi pendapatan yang besar harus diperhitungkan terhadap risiko kerusakan kapal, keselamatan awak, keterlambatan pengiriman, dan kemungkinan gangguan operasional.

Konsultan maritim Marisks menyebut periode Oktober sebagai fase dengan intensitas serangan tertinggi di sekitar Selat Hormuz sejak eskalasi konflik pada Maret. Dalam periode 5–11 Oktober saja, sebanyak 12 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan, menjadikannya pekan dengan jumlah serangan tertinggi sejak konflik dimulai.

Mengapa Selat Hormuz Penting bagi Ekonomi Dunia?

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan perairan internasional. Gangguan terhadap pelayaran di jalur ini dapat memengaruhi distribusi minyak mentah dan produk energi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.

Ketika pengiriman menghadapi hambatan, dampaknya tidak berhenti pada perusahaan minyak dan operator kapal. Biaya logistik yang meningkat dapat diteruskan ke berbagai bagian rantai pasok, sementara ketidakpastian pasokan berpotensi memperbesar volatilitas harga energi.

Bagi negara pengimpor energi, termasuk negara-negara Asia, perkembangan di Selat Hormuz menjadi faktor yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi biaya impor dan tekanan terhadap perekonomian domestik. Meski demikian, kenaikan harga minyak tidak otomatis terjadi setiap kali ada serangan; respons pasar juga ditentukan oleh persediaan, permintaan, jalur alternatif, serta ekspektasi pelaku pasar.

Data Insiden Belum Tentu Menggambarkan Skala Sebenarnya

Tantangan lain muncul dari keterbatasan pelaporan insiden. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan maritim Inggris, mencatat 135 insiden terkait konflik AS–Iran hingga 16 Oktober. Namun, lembaga tersebut mengakui bahwa kurangnya pelaporan sukarela dari perusahaan pelayaran menyulitkan pemetaan seluruh kejadian.

Perbedaan angka antara Washington Institute, IMO, dan UKMTO perlu dipahami berdasarkan cakupan wilayah, periode pencatatan, serta definisi insiden yang digunakan masing-masing lembaga. Angka-angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai jumlah yang identik atau dijumlahkan menjadi satu total.

Noam Raydan, peneliti senior Washington Institute for Near East Policy yang mengelola peta insiden pelayaran lembaga tersebut, menilai peningkatan serangan dapat menghambat pemulihan pengiriman dan mempertahankan tekanan terhadap pasar energi global. Penilaian mengenai tujuan strategis tersebut merupakan analisis yang disampaikan kepada Reuters, bukan kesimpulan independen yang telah dibuktikan oleh data insiden semata.

Bagi pasar energi dunia, persoalan utama kini bukan hanya berapa banyak kapal yang diserang, melainkan seberapa lama gangguan keamanan akan memengaruhi kelancaran pengiriman. Selama ketidakpastian di Selat Hormuz berlanjut, biaya pelayaran, keandalan pasokan, dan stabilitas harga energi akan tetap menjadi perhatian pelaku industri serta pemerintah berbagai negara. (andif)

sumber : Reuters, IMO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *