Oleh: Syahril Syam *)
Dalam pandangan hikmah dan irfan, hubungan antara hakikat (ḥaqīqah) dan iktibar (i‘tibār) tidak sesederhana membedakan antara sesuatu yang nyata dan sesuatu yang palsu. Banyak orang mengira bahwa hakikat adalah sesuatu yang benar-benar ada, sedangkan iktibar hanyalah khayalan atau rekayasa manusia. Padahal persoalannya jauh lebih dalam. Dalam kehidupan manusia, iktibar dapat menjadi penghalang yang menutupi hakikat, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi jembatan yang mengantarkan seseorang menuju hakikat. Karena itulah agama, amal ibadah, simbol-simbol, aturan, adab, dan berbagai latihan spiritual memiliki peran yang sangat penting dalam proses pertumbuhan manusia.
Hakikat adalah realitas yang benar-benar membentuk keberadaan seseorang. Ia bukan sekadar konsep yang dipahami oleh pikiran, melainkan sesuatu yang mengubah kualitas diri manusia secara nyata. Cinta yang tulus, keikhlasan, kesadaran, ketenangan batin, rasa takut, ego, cahaya hati, dan kedekatan kepada Allah adalah contoh-contoh hakikat. Semua itu tidak dapat ditimbang atau dilihat secara fisik, tetapi dampaknya sangat nyata. Seseorang yang dipenuhi rasa takut akan menjalani hidup dengan cara yang berbeda dibandingkan orang yang dipenuhi ketenangan. Orang yang memiliki hati yang ikhlas akan memandang dunia secara berbeda dibandingkan orang yang dikuasai ego. Dengan kata lain, hakikat adalah realitas yang membentuk siapa diri kita sebenarnya.
Sebaliknya, iktibar adalah bentuk, simbol, aturan, atau konstruksi yang digunakan manusia untuk memahami, mengatur, dan menjalani kehidupan. Bahasa, istilah, gelar, jabatan, status sosial, aturan hukum, simbol agama, dan berbagai identitas adalah contoh iktibar. Semua itu memiliki fungsi penting, tetapi bukan hakikat itu sendiri. Uang misalnya, bukanlah nilai kehidupan yang sesungguhnya. Uang hanyalah alat yang disepakati manusia untuk mempermudah pertukaran. Gelar akademik bukanlah hakikat ilmu, melainkan simbol yang menunjukkan seseorang telah menempuh proses pendidikan tertentu. Demikian pula ketika seseorang mengatakan, “Aku mencintaimu,” kalimat tersebut bukanlah cinta itu sendiri, melainkan representasi dari sesuatu yang lebih dalam yang hidup di dalam hati.
Masalah muncul ketika manusia berhenti pada tingkat iktibar dan mengira bahwa bentuk luar sudah cukup. Inilah salah satu kritik utama dalam tradisi irfan. Seseorang mungkin menghafal banyak istilah spiritual, memahami teori Tauhid, aktif berdiskusi tentang filsafat, atau menampilkan simbol-simbol religius yang kuat. Namun semua itu bisa saja hanya berada pada lapisan luar. Bentuknya ada, tetapi realitas batinnya belum berubah. Keadaannya seperti seseorang yang terus membaca buku resep masakan tetapi tidak pernah memasak dan mencicipi makanannya. Atau seperti seseorang yang menghafal seluruh peta suatu wilayah tetapi tidak pernah melangkahkan kaki untuk melakukan perjalanan. Pengetahuan ada, tetapi transformasi belum terjadi.
Namun di sinilah letak keindahan pandangan hikmah dan irfan. Iktibar tidak selalu menjadi penghalang. Justru iktibar dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengantarkan manusia menuju hakikat. Banyak bentuk lahiriah yang Allah tetapkan dalam agama sebenarnya dirancang sebagai alat transformasi jiwa. Shalat, puasa, dzikir, tilawah Al-Qur’an, adab, amal saleh, bahkan latihan mengendalikan emosi adalah contoh-contohnya. Dari luar, semua itu tampak sebagai tindakan biasa yang dapat diamati oleh siapapun. Akan tetapi ketika dilakukan dengan kesadaran dan penghayatan, tindakan-tindakan tersebut perlahan mengubah struktur batin seseorang.
Pada awalnya seseorang mungkin beribadah karena kewajiban. Ia mungkin masih merasa dipaksa, belum sepenuhnya tulus, atau masih menjalankan semuanya secara formal. Namun sebagaimana tubuh berubah melalui latihan yang berulang, jiwa pun berubah melalui amal yang dilakukan secara terus-menerus. Sedikit demi sedikit, perhatian menjadi lebih terjaga, emosi lebih terkendali, hati menjadi lebih peka, dan kesadaran kepada Allah semakin hidup. Dalam proses inilah iktibar berubah menjadi jalan menuju hakikat.
Karena itu syariat memiliki banyak unsur yang bersifat iktibari. Syariat berisi aturan, tata cara, kategori hukum, bentuk ibadah, kewajiban, larangan, serta berbagai struktur kehidupan sosial. Jumlah rakaat shalat, arah kiblat, tata cara wudhu, aturan muamalah, dan berbagai ketentuan lainnya termasuk dalam wilayah ini. Semua itu bekerja dalam dunia tindakan manusia. Ia berfungsi sebagai sarana pendidikan, pembiasaan, dan pembentukan jiwa. Dalam bahasa filsafat Islam, bentuk-bentuk ini disebut sebagai i‘tibārī tasyri‘ī, yaitu konstruksi normatif yang ditetapkan syariat untuk mengarahkan manusia menuju tujuan tertentu.
Yang penting dipahami adalah bahwa meskipun bentuk-bentuk syariat memiliki aspek iktibari, tujuan akhirnya bukanlah sesuatu yang bersifat imajiner atau ilusif. Tujuannya adalah perubahan yang sangat nyata dalam diri manusia. Syariat bertujuan melahirkan penyucian jiwa, pengendalian nafsu, keteraturan batin, dan kedekatan kepada Allah. Semua itu berada dalam wilayah hakikat. Shalat misalnya, secara lahiriah hanyalah rangkaian gerakan dan bacaan tertentu. Namun ketika dilakukan dengan kesadaran, ia melatih perhatian, membangun disiplin diri, menenangkan sistem saraf, mengurangi dominasi ego, dan menumbuhkan kehadiran batin. Bentuk lahiriahnya mungkin bersifat iktibari, tetapi dampak eksistensial yang dihasilkannya benar-benar nyata.
Hubungan antara syariat dan hakikat dapat dipahami melalui analogi peta dan perjalanan. Peta bukanlah tujuan akhir. Tidak ada orang yang bepergian hanya untuk mengagumi peta. Namun tanpa peta, banyak orang akan tersesat. Kesalahan pertama adalah memegang peta tanpa pernah berjalan. Kesalahan kedua adalah ingin sampai ke tujuan sambil menolak peta dan jalan yang tersedia. Dalam pandangan para arif, keduanya sama-sama bermasalah. Peta dibutuhkan agar perjalanan memiliki arah, tetapi peta harus digunakan untuk bergerak, bukan sekadar dikoleksi.
Analogi lain yang lebih sederhana adalah nasihat dokter. Ketika dokter mengatakan, “Makan makanan sehat, olahraga secara teratur, dan tidur yang cukup,” semua itu hanyalah aturan normatif. Aturan tersebut bukan kesehatan itu sendiri. Namun apabila dijalankan secara konsisten, ia akan menghasilkan kesehatan yang nyata. Demikian pula syariat. Wudhu bukan sekadar membasuh anggota tubuh. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Shalat bukan sekadar berdiri, rukuk, dan sujud. Semua itu adalah bentuk-bentuk latihan yang dirancang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu penyucian jiwa, pengendalian diri, kejernihan hati, dan kedekatan kepada Allah.
Oleh sebab itu, syariat dapat dipahami sebagai bahasa transformasi. Ia adalah arsitektur latihan yang dirancang untuk membentuk manusia. Melalui tindakan-tindakan yang tampak sederhana dan berulang, manusia perlahan mengalami perubahan dari dalam. Pada awalnya mungkin terasa mekanis, formal, dan berat. Namun dengan kehadiran hati dan kesadaran, bentuk-bentuk lahir tersebut mulai membentuk karakter, sensitivitas batin, kestabilan emosi, dan kesadaran spiritual yang lebih dalam.
Inilah sebabnya para arif menekankan bahwa transformasi sejati tidak cukup dicapai hanya melalui pemahaman intelektual. Mengetahui sesuatu berbeda dengan menjadi sesuatu. Jiwa tidak berubah hanya karena mendengar ceramah, membaca buku, atau memahami teori. Jiwa berubah melalui amal, perhatian, pengulangan, pengalaman langsung, dan kehadiran yang terus-menerus. Pengetahuan memberikan arah, tetapi latihanlah yang membentuk keberadaan.
Karena itu kehidupan sesungguhnya adalah proses pembentukan diri yang berlangsung setiap saat. Setiap pilihan yang kita ambil, setiap respons yang kita berikan, setiap kebiasaan yang kita ulangi, dan setiap cara kita memandang dunia sedang membentuk kualitas jiwa kita. Sedikit demi sedikit, manusia bergerak dari sekadar mengetahui menuju mengalami, dari sekadar konsep menuju keberadaan, dari sekadar iktibar menuju hakikat.
Maka agama dalam pandangan hikmah bukanlah kumpulan simbol kosong yang berdiri untuk dirinya sendiri. Syariat bukan tujuan akhir, melainkan perangkat transformasi. Shalat dapat menjadi gerakan tanpa makna, tetapi juga dapat menjadi jalan perubahan kesadaran. Dzikir dapat berhenti sebagai suara bibir, tetapi juga dapat membentuk struktur hati. Ilmu dapat menjadi identitas ego yang membanggakan diri, tetapi juga dapat menjadi cahaya yang menerangi keberadaan seseorang. Perbedaannya terletak pada apakah bentuk-bentuk itu berhenti sebagai iktibar, atau berhasil mengantarkan manusia kepada hakikat yang menjadi tujuan akhirnya.
@pakarpemberdayaandiri






