Melampaui Ego: Mengapa Memberi Manfaat Kepada Orang Lain Justru Menguntungkan Diri Sendiri

Foto ilustrasi Pegadaian

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengira bahwa semakin banyak yang bisa mereka nikmati untuk diri sendiri, semakin bahagia pula hidup mereka. Karena itu, sebagian orang menghabiskan sebagian besar energi, waktu, dan sumber dayanya untuk memenuhi keinginan pribadi. Namun, temuan-temuan ilmiah modern justru menunjukkan sesuatu yang menarik: kebahagiaan yang paling mendalam dan bertahan lama seringkali tidak lahir dari apa yang kita ambil untuk diri sendiri, melainkan dari apa yang kita berikan kepada orang lain.

Dalam psikologi, perilaku yang bertujuan memberikan manfaat kepada orang lain dikenal sebagai prosocial behavior atau perilaku prososial. Perilaku ini mencakup banyak hal sederhana, seperti membantu tetangga, memberikan dukungan kepada teman yang sedang kesulitan, menjadi relawan, berbagi rezeki, atau sekadar meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain. Meskipun terlihat sederhana, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tindakan-tindakan semacam ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesejahteraan manusia.

Salah satu penelitian yang paling terkenal dilakukan oleh Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton. Mereka ingin menguji sebuah keyakinan yang sangat umum di masyarakat, yaitu bahwa seseorang akan lebih bahagia jika menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri. Untuk menguji hal tersebut, mereka melakukan penelitian di berbagai negara dengan latar belakang budaya dan tingkat ekonomi yang berbeda.

Hasilnya cukup mengejutkan. Orang-orang yang menggunakan sebagian uang, waktu, atau tenaganya untuk membantu orang lain ternyata secara konsisten melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang hanya menggunakan sumber dayanya untuk kepentingan pribadi. Temuan ini tidak hanya ditemukan di negara-negara kaya, tetapi juga di negara-negara yang tingkat pendapatannya lebih rendah. Artinya, manfaat emosional dari memberi tampaknya merupakan sesuatu yang bersifat universal dan tidak bergantung pada budaya tertentu.

Dalam salah satu eksperimen, para peserta diberi sejumlah uang. Sebagian diminta membelanjakan uang tersebut untuk diri mereka sendiri, sementara sebagian lainnya diminta menggunakannya untuk membantu atau membelikan sesuatu bagi orang lain. Secara logis, banyak orang memperkirakan bahwa kelompok yang membelanjakan uang untuk dirinya sendiri akan merasa lebih senang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kelompok yang menggunakan uang tersebut untuk membantu orang lain melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi setelahnya.

Bayangkan Anda memiliki uang Rp100.000. Dengan uang itu Anda bisa membeli sesuatu yang Anda sukai. Tentu ada rasa senang yang muncul. Namun bayangkan uang yang sama digunakan untuk membelikan makanan bagi teman yang sedang kesulitan atau membantu seseorang yang benar-benar membutuhkan. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kedua seringkali menghasilkan kepuasan emosional yang lebih dalam dan bertahan lebih lama. Kesenangan karena membeli sesuatu untuk diri sendiri biasanya cepat memudar, sedangkan kebahagiaan karena merasa telah memberi manfaat kepada orang lain cenderung meninggalkan kesan yang lebih mendalam.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Para psikolog menjelaskan bahwa ketika seseorang membantu orang lain, beberapa kebutuhan psikologis dasar manusia terpenuhi sekaligus.

Pertama adalah kebutuhan akan keterhubungan (relatedness). Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang ingin merasa terhubung dengan orang lain. Ketika seseorang membantu sesamanya, ia merasakan bahwa dirinya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadinya. Perasaan terhubung ini menciptakan kehangatan emosional, kedekatan sosial, dan rasa memiliki yang sangat penting bagi kesehatan mental.

Kedua adalah kebutuhan untuk merasa berguna (competence). Setiap manusia ingin merasa bahwa keberadaannya memiliki arti. Ketika seseorang melihat bahwa tindakannya mampu membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, muncul perasaan bahwa dirinya bernilai dan bermanfaat. Perasaan inilah yang membangun harga diri yang sehat, berbeda dengan kesombongan yang hanya berpusat pada pengakuan diri.

Ketiga adalah kebutuhan akan kebebasan memilih (autonomy). Manusia memperoleh kepuasan psikologis yang lebih besar ketika melakukan suatu tindakan secara sukarela dan sadar, bukan karena paksaan. Karena itu, memberi yang dilakukan dengan keikhlasan biasanya menghasilkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibanding memberi karena tekanan sosial, gengsi, atau sekadar ingin dipuji orang lain.

Yang menarik, manfaat memberi kepada orang lain tidak berhenti pada perasaan bahagia sesaat. Pada tahun 2022, Lara Aknin dan rekan-rekannya melakukan tinjauan terhadap berbagai penelitian dan eksperimen yang telah dilakukan selama bertahun-tahun mengenai perilaku memberi dan membantu orang lain. Mereka ingin mengetahui apakah temuan-temuan sebelumnya benar-benar kuat atau hanya kebetulan statistik semata. Kesimpulannya menunjukkan bahwa efek positif secara emosional dari perilaku memberi ternyata cukup konsisten dan dapat ditemukan berulang kali dalam berbagai penelitian yang berbeda. Dengan kata lain, ini bukan hasil dari satu penelitian tunggal, melainkan pola yang terus muncul dalam banyak studi ilmiah.

Lebih jauh lagi, para peneliti menemukan bahwa orang yang secara rutin membantu orang lain cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, risiko depresi yang lebih rendah, tingkat kesepian yang lebih rendah, kesehatan fisik yang lebih baik, bahkan dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan usia hidup yang lebih panjang. Tentu saja membantu orang lain bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan dan umur panjang, tetapi perilaku tersebut tampaknya menjadi salah satu unsur penting yang mendukung kesejahteraan manusia secara menyeluruh.

Untuk memahaminya secara sederhana, bayangkan ada dua orang. Orang pertama hampir setiap hari pikirannya berputar di sekitar dirinya sendiri: uang saya, masalah saya, keinginan saya, kekurangan saya, dan kebutuhan saya. Tanpa disadari, pusat perhatiannya semakin menyempit dan terus mengarah kepada ego. Ketika ada masalah kecil, masalah itu terasa sangat besar karena seluruh perhatian tertuju pada dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang kedua meluangkan sebagian waktunya untuk membantu keluarga, mendukung teman yang sedang kesulitan, mengajar anak-anak, atau terlibat dalam kegiatan sosial. Perhatiannya tidak hanya terpusat pada dirinya sendiri. Ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk merasakan hubungan sosial, makna hidup, rasa syukur, dan kesadaran bahwa dirinya berguna bagi orang lain. Faktor-faktor inilah yang dalam psikologi modern berhubungan erat dengan kesehatan mental dan kesejahteraan yang lebih baik.

Dari sudut pandang ilmiah, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa melampaui ego dan memberi manfaat kepada orang lain ternyata bukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Justru sebaliknya, tindakan tersebut memberikan keuntungan yang nyata bagi pelakunya, baik dalam bentuk kebahagiaan, kesehatan, hubungan sosial yang lebih baik, maupun rasa hidup yang lebih bermakna.

Dalam perspektif Islam, maknanya bahkan lebih dalam lagi. Memberi manfaat kepada orang lain bukan sekadar menghasilkan kebahagiaan psikologis, tetapi juga merupakan bagian dari proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Dalam pandangan para ulama, manusia tidak diciptakan hanya untuk mengejar kenikmatan sesaat, tetapi untuk menyempurnakan kualitas jiwanya menuju kedekatan dengan Allah. Ketika seseorang mampu mengendalikan ego dan mengutamakan kemaslahatan yang lebih luas, ia tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga sedang membentuk dan menyempurnakan dirinya sendiri.

Di sinilah letak paradoks yang menarik. Semakin seseorang hanya ingin mengambil untuk dirinya sendiri, semakin sempit ruang hidup yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin seseorang belajar memberi, berbagi, dan bermanfaat bagi sesama, semakin luas manfaat yang kembali kepadanya. Ia memperoleh kebahagiaan psikologis, kesehatan yang lebih baik, hubungan sosial yang lebih kuat, serta pertumbuhan spiritual yang lebih mendalam.

Psikologi modern mengatakan bahwa membantu orang lain membuat manusia lebih bahagia. Islam menerima kebenaran itu, tetapi menambahkan bahwa kebahagiaan dunia hanyalah salah satu buahnya. Tujuan yang lebih besar adalah transformasi jiwa, penyempurnaan diri, dan kebahagiaan yang lebih abadi. Karena itu, orang yang hidup hanya untuk memuaskan hasrat dirinya sebenarnya sedang menukar keuntungan yang besar dengan kenikmatan yang kecil dan sementara. Sebaliknya, orang yang belajar melampaui ego dan memberi manfaat kepada sesama tidak hanya mengangkat kehidupan orang lain, tetapi sekaligus sedang membangun kualitas jiwanya sendiri – sebuah investasi yang nilainya jauh melampaui kehidupan dunia.

*@pakarpemberdayaandiri*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *