Kebahagiaan Butuh Materi? Membedakan antara Kebutuhan Hidup dan Pengejaran Iktibar (Validasi)

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan membutuhkan materi. Pernyataan ini memang mengandung kebenaran, tetapi tidak sepenuhnya benar jika dipahami tanpa penjelasan yang lebih mendalam. Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika seseorang mencampurkan dua hal yang sebenarnya berbeda: kebutuhan hidup yang nyata dan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial atau iktibār. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang seolah tidak memiliki garis akhir.

Seseorang terus bekerja lebih keras, mencari lebih banyak uang, mengejar jabatan yang lebih tinggi, dan mengumpulkan berbagai simbol kesuksesan. Namun anehnya, semakin banyak yang diperoleh, semakin besar pula kelelahan yang dirasakan. Karena itu, pertanyaan yang penting untuk diajukan bukanlah apakah mencari uang itu baik atau buruk, melainkan bagaimana membedakan antara mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengejar validasi yang tidak pernah selesai.

Pada dasarnya, materi memang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kita membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tempat tinggal untuk berlindung, pendidikan untuk berkembang, layanan kesehatan untuk menjaga kondisi tubuh, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kehidupan yang kekurangan secara ekonomi seringkali membawa tekanan, kecemasan, dan penderitaan yang nyata.

Berbagai penelitian dalam psikologi dan ekonomi kebahagiaan menunjukkan bahwa ketika seseorang bergerak dari kondisi kekurangan menuju kondisi kebutuhan dasar yang terpenuhi, tingkat kesejahteraan hidupnya memang meningkat. Dengan kata lain, kemiskinan dapat menjadi sumber penderitaan yang nyata. Oleh karena itu, mencari penghasilan, bekerja keras, dan berusaha meningkatkan kondisi ekonomi bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan hal itu merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri dan keluarganya.

Namun persoalan mulai muncul ketika pencarian materi tidak lagi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan untuk memenuhi kebutuhan ego. Pada titik inilah banyak orang tanpa sadar mengubah fungsi uang. Semula uang hanyalah alat untuk menjalani kehidupan, tetapi kemudian berubah menjadi ukuran nilai diri. Dalam tradisi filsafat Islam, khususnya dalam hikmah, uang termasuk sesuatu yang bersifat iktibārī, yaitu sesuatu yang nilainya lahir dari kesepakatan sosial. Selembar uang tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya sendiri. Nilainya muncul karena masyarakat sepakat menggunakannya sebagai alat tukar.

Karena itu, hakikat uang adalah sarana, bukan tujuan. Akan tetapi, banyak orang mulai mengaitkan jumlah uang yang dimiliki dengan harga dirinya. Mereka berpikir bahwa semakin besar penghasilannya, semakin berharga dirinya. Sebaliknya, ketika penghasilannya kecil, mereka merasa gagal atau lebih rendah dibandingkan orang lain. Pada saat itulah uang tidak lagi berfungsi sebagai alat kehidupan, melainkan telah berubah menjadi identitas.

Ketika seseorang menggunakan uang untuk memperoleh rasa berharga, ia memasuki sebuah perlombaan yang tidak pernah selesai. Penyebabnya sederhana: validasi selalu bersifat relatif. Hari ini seseorang ingin memiliki kendaraan agar merasa berhasil. Setelah kendaraan itu dimiliki, muncul keinginan untuk memiliki kendaraan yang lebih mahal. Setelah itu muncul keinginan memiliki rumah yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, atau reputasi yang lebih luas.

Setiap pencapaian hanya memberikan kepuasan sementara sebelum muncul target berikutnya. Hal ini terjadi karena yang sebenarnya dicari bukanlah mobil, rumah, jabatan, atau bahkan uang itu sendiri. Yang dicari adalah perasaan bahwa dirinya berharga. Masalahnya, jika rasa berharga bergantung pada simbol-simbol di luar diri, maka rasa itu akan selalu rapuh. Begitu simbol tersebut hilang atau tergeser oleh orang lain yang lebih unggul, perasaan berharga itu ikut terguncang.

Di sisi lain, kita juga perlu bersikap realistis terhadap kenyataan sosial. Memang benar bahwa orang yang tidak memiliki kekayaan, jabatan, atau status tertentu seringkali lebih mudah diremehkan oleh lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menilai orang lain berdasarkan simbol-simbol lahiriah seperti kekayaan, gelar akademik, posisi pekerjaan, atau popularitas. Karena itu, pernyataan bahwa orang yang tidak memiliki apa-apa lebih mudah direndahkan seringkali benar secara sosial.

Akan tetapi, ada perbedaan penting yang perlu dipahami. Pertama, orang lain mungkin merendahkan kita. Kedua, kita merasa menjadi rendah karena direndahkan. Kedua hal ini tidak sama. Yang pertama adalah tindakan orang lain. Yang kedua adalah keputusan dan interpretasi yang terjadi di dalam diri kita. Banyak orang mencampurkan keduanya sehingga menganggap bahwa perlakuan orang lain otomatis menentukan nilai dirinya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara penghargaan sosial dan nilai eksistensial. Penghargaan sosial merupakan sesuatu yang bersifat iktibārī, yaitu nilai yang diberikan oleh masyarakat berdasarkan berbagai ukuran sosial. Seseorang mungkin dihormati karena profesinya, pendidikannya, atau kekayaannya. Sementara orang lain mungkin kurang mendapat perhatian karena pekerjaannya dianggap biasa. Namun perbedaan perlakuan sosial tersebut tidak mengubah hakikat keberadaan mereka sebagai manusia.

Seorang profesor dan seorang tukang kebun mungkin memperoleh tingkat penghormatan sosial yang berbeda, tetapi keduanya tetap memiliki martabat kemanusiaan yang sama sebagai makhluk yang ada. Masalah muncul ketika seseorang mulai menyamakan “orang menghargai saya” dengan “saya memang berharga”, atau menyamakan “orang merendahkan saya” dengan “saya memang rendah”. Padahal penghargaan sosial dan nilai keberadaan berada pada tingkat realitas yang berbeda.

Karena itu, tidak mengherankan jika kita menemukan orang yang sangat dihormati secara sosial tetapi tetap merasa kosong, cemas, dan tidak bahagia. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tidak terlalu dikenal, tetapi memiliki ketenangan batin yang kuat. Hal ini terjadi karena penghargaan sosial dan nilai eksistensial berasal dari sumber yang berbeda. Penghargaan sosial diberikan oleh masyarakat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Nilai eksistensial melekat pada keberadaan manusia itu sendiri.

Ketika seseorang menggantungkan rasa berharganya pada penilaian sosial, maka hidupnya akan selalu naik turun mengikuti opini orang lain. Ia merasa tinggi ketika dipuji, merasa rendah ketika dikritik, merasa berharga ketika dihormati, dan merasa tidak berarti ketika diabaikan. Padahal seluruh perubahan itu hanya terjadi pada tingkat penilaian sosial, bukan pada hakikat dirinya sebagai manusia.

Kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa kekayaan otomatis akan menyembuhkan rasa rendah diri. Banyak orang berpikir bahwa jika suatu hari mereka memiliki kekayaan yang sangat besar, maka seluruh rasa tidak aman dalam dirinya akan hilang. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan melimpah tetapi tetap mudah tersinggung, takut kehilangan status, haus akan pujian, sensitif terhadap kritik, dan terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Mengapa demikian? Karena yang sebenarnya terluka bukan kondisi ekonominya, melainkan struktur egonya. Luka pada ego tidak dapat disembuhkan hanya dengan menambah jumlah uang. Jika sumber penderitaannya adalah kebutuhan untuk merasa berharga, maka tidak ada jumlah uang yang benar-benar cukup.

Bayangkan seseorang memiliki kekayaan yang sangat besar. Apakah kekayaan itu membuatnya kebal terhadap hinaan? Ternyata tidak. Satu komentar negatif dari orang lain masih bisa membuatnya marah atau terluka. Ini menunjukkan bahwa sumber rasa sakit bukan terletak pada jumlah uang yang dimiliki, tetapi pada identitas yang masih bergantung pada penilaian orang lain. Jika harga diri dibangun di atas fondasi yang rapuh, maka kekayaan hanya akan menjadi lapisan luar yang menutupi luka tersebut tanpa benar-benar menyembuhkannya.

Karena itu, perbedaan antara mencari uang dan mengejar iktibār sebenarnya bukan terletak pada aktivitas lahiriahnya, melainkan pada motif batinnya. Dua orang bisa bekerja sama kerasnya, memiliki target pendapatan yang sama, bahkan membangun bisnis yang sama. Dari luar, keduanya tampak identik. Namun di dalam dirinya terdapat perbedaan yang sangat besar.

Orang pertama bekerja karena merasa harus membuktikan bahwa dirinya berharga. Ia bergerak dari rasa kurang, rasa takut, dan kebutuhan akan pengakuan. Pencapaian menjadi sumber identitasnya. Sementara orang kedua bekerja karena menyadari bahwa dirinya sudah memiliki nilai sebagai manusia. Ia ingin bertumbuh, berkarya, memberikan manfaat, dan menjalankan tanggung jawab hidupnya. Baginya, pencapaian adalah sarana untuk berkontribusi, bukan sumber harga diri.

Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), inti persoalannya bukan terletak pada uang, jabatan, atau keberhasilan itu sendiri. Yang lebih penting adalah siapa yang memimpin kehidupan kita. Apakah tindakan kita digerakkan oleh rasa takut, rasa kurang, kebutuhan validasi, dan keinginan untuk membuktikan diri? Ataukah digerakkan oleh kesadaran, tujuan hidup, pertumbuhan, kontribusi, dan amanah kehidupan? Ketika seseorang terus bergerak dari rasa kurang, maka seberapa pun banyak yang diperoleh, ia akan selalu merasa tertinggal.

Sebaliknya, ketika seseorang bergerak dari kesadaran, ia dapat terus bertumbuh, mencapai banyak hal, dan meningkatkan kualitas hidupnya tanpa kehilangan ketenangan batin. Ia tetap mencari uang, tetapi uang tidak lagi menentukan siapa dirinya. Ia menggunakan materi untuk menjalani kehidupan, bukan menjadikan materi sebagai ukuran nilai keberadaannya. Di situlah seseorang mulai terbebas dari perbudakan iktibār dan kembali berpijak pada hakikat dirinya yang lebih mendasar.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *