Ratusan Relawan Terlibat dalam Rehabilitasi Bukit Soeharto, Gerakan Pelestarian Hutan Diperluas

JAKARTA, MAJALAH CEO, (02/11). — Upaya menjaga kelestarian hutan Kalimantan terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah dan komunitas masyarakat. Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama komunitas Borneo Kind menggelar aksi penghijauan dengan menanam 1.000 bibit pohon di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kalimantan Timur, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk mendorong pemulihan kawasan yang terdampak kebakaran sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam perlindungan lingkungan.

Aksi yang berlangsung di Kilometer 47 Jalan Poros Samarinda–Balikpapan tersebut melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pemuda, mahasiswa, dan relawan lingkungan. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kontribusi aktif masyarakat.

Program tersebut dikembangkan melalui gerakan *Save Our Forest* yang digagas Borneo Kind. Komunitas ini berupaya mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi hutan melalui kegiatan langsung di lapangan. Penanaman pohon dipilih sebagai salah satu bentuk kontribusi dalam memperbaiki kawasan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan.

Dalam pelaksanaannya, bibit yang disiapkan terdiri atas sejumlah jenis tanaman yang memiliki peran ekologis bagi lingkungan Kalimantan. Di antaranya Balangeran, Bangris, Tengkawang, Kapur, Gaharu, Nyamplung, Meranti, serta Durian. Keberagaman jenis tanaman tersebut diharapkan dapat mendukung pembentukan kembali tutupan vegetasi dan memperkuat fungsi kawasan hutan.

Penggunaan tanaman lokal menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan rehabilitasi tersebut. Selain membantu memulihkan kondisi lahan, keberadaan berbagai jenis pohon juga berperan dalam menjaga kualitas lingkungan, menyediakan sumber pakan, serta mendukung keberlangsungan habitat satwa liar.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menekankan pentingnya membangun budaya menanam dan merawat pohon secara berkesinambungan. Menurutnya, kegiatan penghijauan tidak seharusnya hanya dilakukan pada momentum tertentu, melainkan perlu menjadi kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Otorita IKN sendiri mendorong kegiatan penanaman pohon secara rutin setiap dua pekan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran lingkungan. Pola tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi berbagai kelompok masyarakat untuk ikut mengambil peran dalam menjaga kawasan hijau.

Basuki juga menilai bahwa kerja sama dengan komunitas lokal merupakan bagian penting dalam memperluas gerakan pelestarian lingkungan. Melalui keterlibatan masyarakat, upaya menjaga hutan dapat dilakukan secara lebih luas, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap kelestarian sumber daya alam.

Di sisi lain, Borneo Kind melihat persoalan karhutla sebagai tantangan lingkungan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Kebakaran tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat mengganggu aktivitas warga dan menurunkan kualitas udara.

Ketua Borneo Kind Wawan Irawan menyampaikan bahwa gerakan *Save Our Forest* dirancang sebagai program berkelanjutan, bukan kegiatan yang berhenti setelah penanaman selesai. Aksi di Bukit Soeharto menjadi tahap awal untuk membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat agar dapat terlibat dalam kegiatan pemulihan lingkungan berikutnya.

Kawasan Tahura Bukit Soeharto memiliki nilai penting bagi kelestarian ekosistem Kalimantan Timur. Keberadaan kawasan hutan tersebut mendukung kehidupan berbagai jenis tumbuhan dan satwa, sehingga kerusakan akibat kebakaran perlu ditangani melalui langkah pemulihan yang terencana.

Salah satu perhatian dalam rehabilitasi kawasan adalah pemulihan habitat satwa liar, termasuk orang utan yang menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Kalimantan. Ketersediaan vegetasi dan kondisi hutan yang terjaga merupakan faktor penting bagi keberlangsungan kehidupan satwa di habitat alaminya.

Pelaksanaan kegiatan tersebut turut melibatkan dukungan sejumlah unsur pemerintah dan lembaga terkait di Kalimantan Timur. Koordinasi dengan jajaran Dinas Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta pengelola Tahura diperlukan untuk mendukung kegiatan penghijauan dan memperkuat upaya perlindungan kawasan.

Namun, rehabilitasi hutan membutuhkan proses panjang yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui penanaman bibit. Setiap tanaman memerlukan perawatan dan pemantauan agar dapat tumbuh dengan baik. Ketersediaan air, kondisi tanah, perlindungan dari gangguan, serta pengendalian potensi kebakaran menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Pencegahan kebakaran juga harus menjadi bagian dari strategi perlindungan hutan. Peningkatan kewaspadaan masyarakat, pengawasan kawasan rawan kebakaran, dan koordinasi antarlembaga diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan berulang. Dengan demikian, kegiatan rehabilitasi dapat berjalan seiring dengan perlindungan kawasan dari ancaman baru.

Gerakan penghijauan di Bukit Soeharto juga memiliki keterkaitan dengan visi pembangunan IKN yang mengedepankan konsep *Forest City*. Pengembangan kawasan ibu kota baru tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan.

Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan generasi muda, kegiatan ini diharapkan mampu memperluas kesadaran bahwa hutan merupakan aset ekologis yang harus dijaga bersama. Penanaman 1.000 bibit pohon menjadi langkah awal untuk membangun komitmen jangka panjang dalam memulihkan kawasan Bukit Soeharto dan mempertahankan kekayaan alam Kalimantan bagi generasi mendatang.(arfi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *