Emotion Changes Emotion: Mengapa Perubahan Manusia Tidak Dimulai dari Pikiran, Tetapi Dari Emosi

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Oleh: Syahril Syam *)

Ketika Leslie Samuel Greenberg menyelesaikan gelar doktor (PhD) di bidang psikologi pada tahun 1975 di York University, fokus utamanya sebenarnya bukanlah emosi. Ia tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sebagian orang benar-benar berubah setelah menjalani terapi, sementara sebagian lainnya tidak mengalami perubahan yang berarti? Bersama mentornya, Laura North Rice, Greenberg mulai mengamati secara sistematis apa yang terjadi di dalam sesi terapi. Ia merekam, menganalisis, dan membandingkan ratusan percakapan terapeutik untuk mencari pola-pola yang menjelaskan proses perubahan manusia.

Pada masa itu, banyak pendekatan psikologi masih sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa perubahan terutama terjadi melalui pemikiran rasional. Asumsinya sederhana: jika cara berpikir seseorang berubah, maka perasaannya juga akan berubah. Namun, hasil pengamatan Greenberg selama bertahun-tahun justru mengarah pada kesimpulan yang berbeda. Ia menemukan bahwa perubahan psikologis yang mendalam hampir selalu didahului oleh keterlibatan emosi yang kuat. Orang yang mengalami kemajuan besar dalam terapi bukan hanya memahami masalahnya secara intelektual, tetapi juga berani merasakan, menghadapi, dan mengolah pengalaman emosional yang selama ini mereka hindari.

Dari penelitian tersebut, Greenberg mulai mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik. Apa yang membedakan klien yang berhasil berubah dengan yang tidak? Apa yang terjadi beberapa menit sebelum seseorang mendapatkan pemahaman besar tentang dirinya? Mengapa dua orang yang memiliki masalah yang hampir sama bisa memperoleh hasil terapi yang sangat berbeda? Setelah menganalisis ratusan sesi terapi, ia menemukan pola yang konsisten.

Perubahan yang mendalam hampir selalu diawali oleh tiga hal. Pertama, munculnya emosi yang cukup kuat sehingga benar-benar terasa. Kedua, adanya kesadaran terhadap emosi tersebut. Ketiga, kemampuan seseorang untuk tetap hadir bersama emosinya tanpa langsung menghindari, menekan, atau melawannya. Temuan ini mulai menggoyahkan paradigma lama yang terlalu menekankan pikiran sebagai pusat perubahan.

Salah satu kesimpulan terpenting Greenberg adalah bahwa emosi bukanlah musuh rasionalitas. Selama berabad-abad, banyak tradisi filsafat maupun psikologi memandang emosi sebagai gangguan yang menghalangi logika. Menurut pandangan ini, semakin emosional seseorang, semakin tidak rasional ia bertindak. Namun Greenberg menemukan bahwa emosi sebenarnya berfungsi sebagai sistem informasi biologis yang sangat canggih. Emosi memberi tahu manusia apa yang penting bagi dirinya, apa yang perlu diperhatikan, dan bagaimana merespons lingkungan.

Sebagai contoh, rasa takut memberikan informasi bahwa ada ancaman atau bahaya yang perlu diwaspadai. Kesedihan memberi tahu bahwa ada sesuatu yang berharga yang telah hilang. Kemarahan menunjukkan bahwa ada batas diri yang dilanggar atau kebutuhan penting yang tidak terpenuhi. Dalam pandangan Greenberg, emosi tidak muncul secara acak. Emosi adalah sinyal yang membawa pesan tertentu. Karena itu, masalah utama manusia seringkali bukan emosinya sendiri, melainkan cara ia berhubungan dengan emosi tersebut. Banyak orang berusaha menekan, menyangkal, atau melawan emosinya, sehingga pesan yang dibawa emosi tidak pernah benar-benar dipahami.

Penelitian Greenberg kemudian berkembang lebih jauh menuju pemahaman tentang diri manusia (self). Menurutnya, manusia tidak sekadar memiliki emosi sebagaimana seseorang memiliki benda. Emosi justru berperan penting dalam membentuk identitas diri. Diri manusia dibangun melalui pengalaman emosional yang terus-menerus dialami, dimaknai, dan diintegrasikan sepanjang hidup. Cara seseorang memandang dirinya, merasa berharga atau tidak berharga, aman atau tidak aman, banyak terbentuk dari sejarah pengalaman emosionalnya. Dengan kata lain, diri bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus berkembang melalui pengalaman emosional yang berlangsung setiap hari.

Dalam penelitiannya, Greenberg juga menemukan bahwa tidak semua emosi memiliki fungsi yang sama. Karena itu, ia membedakan emosi menjadi beberapa kategori penting. Pertama adalah primary adaptive emotion, yaitu emosi primer yang sehat dan membantu manusia beradaptasi dengan realitas. Misalnya, sedih ketika kehilangan orang yang dicintai, takut saat menghadapi bahaya nyata, atau marah ketika diperlakukan tidak adil. Emosi seperti ini bukan masalah yang harus dihilangkan. Justru emosi tersebut berfungsi sebagai kompas alami yang membantu manusia merespons situasi secara tepat.

Kategori kedua adalah primary maladaptive emotion, yaitu emosi primer yang berasal dari pengalaman luka masa lalu dan tidak lagi sesuai dengan situasi saat ini. Misalnya, seseorang terus-menerus merasa tidak berharga meskipun memiliki banyak prestasi, selalu takut ditolak meskipun orang lain menerimanya, atau hidup dalam rasa malu yang kronis tanpa alasan yang jelas. Menurut Greenberg, banyak penderitaan psikologis berasal dari jenis emosi ini. Emosi tersebut awalnya mungkin terbentuk sebagai respons terhadap pengalaman traumatis atau hubungan yang menyakitkan, tetapi kemudian menjadi pola otomatis yang terus berulang dalam kehidupan seseorang.

Kategori ketiga adalah secondary emotion, yaitu emosi yang muncul untuk menutupi emosi lain yang lebih dalam. Misalnya, seseorang terlihat sangat marah. Namun setelah dieksplorasi lebih jauh, ternyata di balik kemarahan itu terdapat rasa terluka. Di bawah rasa terluka terdapat ketakutan. Dan di bawah ketakutan terdapat kebutuhan yang sangat mendasar, seperti kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan, atau rasa aman. Greenberg menemukan bahwa banyak terapi gagal menghasilkan perubahan mendalam karena hanya berfokus pada emosi yang tampak di permukaan tanpa menyentuh lapisan emosi yang lebih mendasar.

Penemuan lain yang sangat berpengaruh adalah gagasan bahwa emosi yang bermasalah tidak cukup diubah hanya dengan berpikir positif atau memahami masalah secara intelektual. Greenberg menemukan bahwa emosi maladaptif paling efektif diubah melalui pengalaman emosional baru yang lebih sehat dan lebih adaptif. Dari sinilah lahir prinsip terkenalnya: “Emotion changes emotion” atau emosi diubah oleh emosi.

Sebagai contoh, rasa malu kronis tidak hilang hanya karena seseorang diberi tahu bahwa dirinya berharga. Rasa malu tersebut lebih mungkin berubah ketika seseorang mengalami secara langsung perasaan penerimaan diri dan belas kasih terhadap dirinya sendiri (self-compassion). Demikian pula, rasa takut yang berlebihan tidak cukup diatasi dengan logika semata, tetapi perlu ditransformasikan melalui pengalaman nyata tentang rasa aman.

Perasaan tidak berharga berubah melalui pengalaman memiliki nilai diri (self-worth). Keputusasaan berubah melalui pengalaman harapan. Ketidakberdayaan berubah melalui pengalaman memiliki kekuatan dan kemampuan untuk bertindak (empowerment). Dengan kata lain, pengalaman emosional baru menjadi “obat” bagi luka emosional lama.

Berdasarkan puluhan tahun penelitian tersebut, Greenberg kemudian merumuskan empat mekanisme utama perubahan psikologis yang menjadi fondasi Emotion-Focused Therapy (EFT). Tahap pertama adalah emotional awareness, yaitu kemampuan menyadari secara jelas apa yang sedang dirasakan. Banyak orang sebenarnya merasakan sesuatu tetapi tidak mampu menamai atau mengenalinya dengan tepat.

Tahap kedua adalah emotional regulation, yaitu kemampuan untuk tetap hadir bersama emosi tanpa tenggelam di dalamnya atau berusaha melarikannya. Tahap ketiga adalah emotional reflection, yaitu memahami makna yang dibawa oleh emosi tersebut dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri. Tahap keempat adalah emotional transformation, yaitu proses mengubah emosi lama yang maladaptif melalui pengalaman emosional baru yang lebih sehat dan lebih sesuai dengan kebutuhan manusia.

Secara keseluruhan, kontribusi terbesar Greenberg dapat diringkas dalam tiga gagasan besar. Pertama, emosi bukan lawan akal, melainkan sistem kecerdasan biologis yang memberikan informasi penting tentang kehidupan manusia. Kedua, identitas diri dibentuk melalui pengalaman emosional yang terus berlangsung dan dimaknai.

Ketiga, perubahan psikologis yang mendalam tidak terjadi hanya karena seseorang berpikir berbeda, tetapi karena ia mengalami transformasi pada tingkat emosionalnya. Oleh karena itu, bagi Greenberg, jalan menuju perubahan bukanlah menjauh dari emosi, melainkan belajar mengenali, memahami, dan mentransformasikannya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *