Jakarta, Majalah CEO. Bagi CEO, angka 5,47% ini bukan sekadar statistik. Ini sinyal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada Triwulan III 2026, lebih tinggi dari konsensus ekonom 5,18% dan naik dari 5,29% di Triwulan II 2026. PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun.
Yang paling penting untuk ruang rapat direksi: konsumsi rumah tangga dan investasi menyumbang 82,78% dari struktur PDB. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% dengan kontribusi 51,97% terhadap PDB, sementara investasi tumbuh 6,06%. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi lapangan usaha, menyumbang 1,20 poin persentase.
Artinya, mesin ekonomi Indonesia saat ini digerakkan oleh dua hal: dompet konsumen dan keberanian perusahaan berinvestasi. CEO yang masih menahan belanja modal sambil menunggu kepastian, justru sedang tertinggal dari kompetitor yang sudah bergerak.
Pelajaran untuk Q4: fokuskan pada produk yang dibeli berulang, perkuat distribusi di Jawa, Bali-Nusra, dan Sulawesi yang tumbuh paling cepat, dan jangan remehkan belanja pemerintah yang tumbuh 8,95%, didorong belanja pegawai dan program Makan Bergizi Gratis. Pertumbuhan tidak menunggu yang ragu. (andif)
Sumber : BPS, antaranews, investortrust, ntvnews












