Jakarta, Majalah CEO, (3/10). Indonesia Fashion Chamber (IFC) mendorong pengembangan batik agar tidak berhenti pada upaya menjaga tradisi, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan industri mode melalui inovasi desain, pemilihan bahan, serta diversifikasi produk.
Desainer sekaligus National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting agar batik tetap diminati konsumen, khususnya generasi muda.
Menurut Lenny, batik memiliki peluang besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas apabila penggunaannya tidak hanya dikaitkan dengan pakaian formal, seragam, atau kegiatan tertentu.
“Pelestarian tradisi dan peningkatan daya saing harus berjalan beriringan melalui inovasi dan diversifikasi produk,” kata Lenny kepada PERS di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan pengembangan desain dapat dilakukan dengan menghadirkan batik dalam berbagai jenis busana yang lebih sesuai dengan gaya hidup masyarakat saat ini. Produk seperti outer, kemeja berukuran longgar, crop top hingga busana bergaya streetwear dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperluas penggunaan batik.
Pendekatan tersebut juga dinilai dapat mendekatkan batik dengan konsumen muda yang cenderung mencari pakaian dengan karakter kasual, nyaman, tetapi tetap memiliki unsur estetika.
Selain bentuk pakaian, inovasi dapat dilakukan melalui eksplorasi motif dan kombinasi warna. Lenny menilai pengembangan tersebut tetap perlu memperhatikan nilai filosofis yang terkandung dalam motif batik sehingga modernisasi tidak menghilangkan identitas budaya.
Penggunaan warna yang mengikuti perkembangan tren fashion, seperti pastel dan earth tone, menurut dia, dapat menjadi salah satu pilihan untuk membuat produk batik lebih mudah dipadukan dengan gaya busana kontemporer.
Di sisi lain, peningkatan kualitas produk menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi batik di pasar domestik maupun internasional.
Lenny mengatakan kenyamanan material, kualitas pengerjaan, serta kerapian jahitan perlu menjadi perhatian pelaku industri. Penggunaan bahan seperti katun premium, sutra, dan linen dapat menjadi pilihan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang sesuai kebutuhan pasar.
“Standardisasi kualitas, meningkatkan kenyamanan bahan, misalnya menggunakan katun premium, sutra, atau linen dan kerapian jahitan agar sebanding dengan merek internasional,” ujarnya.
Menurut Lenny, pengembangan industri batik juga membutuhkan kerja sama antara desainer dan perajin. Kolaborasi tersebut dapat mempertemukan kekayaan teknik serta pengetahuan tradisional dengan pendekatan desain modern.
Melalui kolaborasi itu, batik dapat dikembangkan menjadi koleksi siap pakai atau ready-to-wear yang tetap membawa karakter dan nilai seni tradisional, tetapi lebih mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri untuk meningkatkan nilai tambah produk batik. Dengan inovasi yang berkelanjutan, batik tidak hanya ditempatkan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif dan fashion yang memiliki potensi pasar lebih luas.
Pengembangan desain, diversifikasi produk, peningkatan kualitas, serta kolaborasi antara pelaku kreatif dan perajin menjadi sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat daya saing batik Indonesia di tengah perkembangan industri fashion global. (arfi)












