CIANJUR, Majalah CEO – Tidak semua kisah sukses lahir dari modal besar, investor ternama, atau strategi bisnis yang matang. Sebagian justru bermula dari perjuangan sederhana, keyakinan yang kuat, dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Kisah itu tercermin dari perjalanan Aa Milki dan Irwan, dua sahabat yang telah merintis usaha bersama sejak 2015. Berawal dari berjualan gorengan dan keju karamel, keduanya perlahan membangun usaha kuliner hingga berkembang menjadi Restoran Ladanya, sebuah tempat makan yang menghadirkan aneka hidangan Jepang di Kelurahan Sayang, kawasan belakang Stasiun Cianjur, Jawa Barat.
Namun, di balik sajian ramen dan sushi yang kini menjadi daya tarik pelanggan, tersimpan perjalanan panjang yang penuh tantangan. Bagi keduanya, bisnis bukan semata-mata tentang mengejar keuntungan, melainkan juga menjadi jalan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan sosial.
Berawal dari Perjuangan Sederhana
Sebelum dikenal melalui usaha kuliner, Milki dan Irwan lebih dahulu menekuni kegiatan pendidikan. Milki yang memiliki latar belakang pesantren berupaya membangun kemandirian ekonomi agar kegiatan pendidikan yang mereka jalankan dapat terus berlangsung.
Perjalanan usaha mereka dimulai dari menjual gorengan dan keju karamel. Produk tersebut dipasarkan ke sejumlah sekolah, dengan proses yang tidak mudah. Mereka harus menyiapkan dagangan pada malam hari, kemudian mengantarkannya ke sekolah-sekolah pada pagi hari, bahkan menjangkau beberapa kabupaten.
Dari perjuangan sederhana itu, peluang baru mulai terbuka ketika seorang teman memperkenalkan mereka pada kuliner Jepang.
Mereka kemudian belajar membuat sushi dan mulai memasarkannya melalui sistem pesan antar. Dari pengalaman tersebut, keduanya melihat peluang untuk membuka kedai sendiri.
Pada 2015, lahirlah Kedai Ladanya. Dengan keterbatasan modal, mereka menyewa ruang kecil berukuran sekitar 6 x 8 meter di lantai dua sebuah ruko. Tempat itu menjadi titik awal perjalanan panjang mereka membangun bisnis kuliner Jepang di Cianjur.
Nama Ladanya sendiri terinspirasi dari saus khas yang mereka kembangkan untuk menemani produk sushi yang dijual.
Tiga Tahun Bertahan, Keuntungan Tak Kunjung Datang
Membangun bisnis dari nol bukan perkara mudah. Terlebih, ketika kuliner Jepang belum begitu akrab bagi sebagian masyarakat Cianjur.
Pada masa awal, Milki dan Irwan harus bekerja keras memperkenalkan produk mereka kepada konsumen. Selama kurang lebih dua tahun pertama, tantangan terbesar mereka adalah membangun pasar dan membuat masyarakat terbiasa dengan sushi serta ramen.
Bahkan, omzet awal yang mereka peroleh pernah hanya sekitar Rp300.000 per bulan. Ada pula hari-hari ketika penjualan hanya mencapai Rp50.000.
Angka tersebut tentu jauh dari cukup untuk membangun usaha yang mapan. Namun, mereka memilih bertahan.
Di tengah keterbatasan itu, keduanya terus mencari cara agar usaha dapat berjalan. Ketika penjualan langsung belum memberikan hasil yang memadai, mereka memanfaatkan layanan pesan antar daring untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Perubahan mulai terasa sekitar Ramadan 2018. Penjualan melalui platform daring membantu meningkatkan pemasukan sekaligus membuka peluang pasar baru.
Bagi mereka, masa-masa sulit tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa usaha tidak cukup hanya bermodalkan semangat. Dibutuhkan kesabaran, keberanian beradaptasi, dan konsistensi untuk terus memperbaiki diri.
Bisnis yang Lahir dari Kepedulian terhadap Pendidikan
Ada satu hal yang membedakan perjalanan Ladanya dari kisah usaha kuliner pada umumnya.
Sejak awal, Milki dan Irwan tidak hanya memikirkan bagaimana usaha mereka menghasilkan uang. Mereka juga ingin membangun sumber pendanaan bagi kegiatan pendidikan yang dijalankan, termasuk kegiatan belajar membaca Al-Qur’an.
Pada masa awal kedai, kegiatan pelatihan membaca Al-Qur’an bahkan dilakukan setiap waktu Asar. Kedai ditutup sementara selama kegiatan berlangsung, kemudian kembali dibuka setelahnya.
Bagi mereka, usaha kuliner dan pendidikan merupakan dua hal yang saling mendukung. Bisnis diharapkan menghasilkan keuntungan agar kegiatan pendidikan, yang sebagian besar diberikan secara gratis, tetap dapat berjalan.
Prinsip inilah yang membuat mereka tetap bertahan ketika keuntungan belum kunjung datang.
Di tengah perjuangan mencari pelanggan, ada tujuan lebih besar yang ingin mereka jaga: memastikan kegiatan pendidikan tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pandemi Datang, Utang Menjadi Beban Baru
Ketika usaha mulai menemukan jalannya, pandemi COVID-19 menghadirkan ujian yang jauh lebih berat.
Pembatasan aktivitas masyarakat membuat kunjungan pelanggan menurun. Meski penjualan daring masih membantu menjaga usaha tetap hidup, pemasukan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi sebagian kebutuhan operasional.
Dampaknya tidak berhenti pada bisnis. Kegiatan pendidikan yang mereka jalankan turut mengalami hambatan karena pertemuan langsung tidak dapat berlangsung seperti sebelumnya.
Untuk mempertahankan usaha dan memenuhi kebutuhan yang terus berjalan, mereka terpaksa mengandalkan pinjaman bank. Tekanan keuangan itu meninggalkan beban utang yang harus diselesaikan bahkan setelah situasi mulai membaik.
Meski menghadapi kesulitan, mereka tetap berupaya mempertahankan usaha dan tidak memberhentikan pegawai selama masa pandemi, sebagaimana disampaikan dalam wawancara.
Kisah ini memperlihatkan bahwa di balik sebuah tempat usaha yang terlihat sederhana, terdapat perjuangan panjang yang tidak selalu diketahui pelanggan.
Sebuah restoran bukan hanya tentang makanan yang tersaji di meja. Di baliknya, ada orang-orang yang berjuang mempertahankan penghidupan, memenuhi kewajiban, dan menjaga harapan agar tidak padam.
Bangkit dengan Berani Berubah
Setelah melewati masa sulit, Ladanya kemudian berpindah ke lokasi yang lebih mendukung kebutuhan pelanggan di Kelurahan Sayang, tepatnya di kawasan belakang Stasiun Cianjur.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu titik perubahan dalam perjalanan bisnis mereka. Lokasi baru menyediakan ruang yang lebih luas untuk pelanggan menikmati makanan, berkumpul, hingga menggelar berbagai kegiatan.
Milki dan Irwan juga terus mengembangkan variasi menu. Selain ramen dan sushi, mereka menghadirkan pilihan makanan yang lebih akrab bagi masyarakat setempat, termasuk nasi liwet, sehingga pengunjung dari berbagai kalangan memiliki alternatif sesuai selera.
Salah satu menu andalan mereka adalah Imperial Ramen, yang kaldunya diolah selama kurang lebih delapan jam. Mereka juga mempertahankan saus khas Ladanya sebagai identitas produk.
Tidak hanya menjadi tempat makan, restoran ini mulai dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, arisan, pertemuan lembaga, hingga diskusi sejarah. Kapasitas tempatnya disebut dapat menampung sekitar 200 orang atau lebih, sesuai pengaturan acara.
Menurut penuturan pengelola dalam wawancara, setelah berpindah lokasi, omzet usaha meningkat sekitar lima hingga sepuluh kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi angin segar bagi mereka untuk kembali menata keuangan dan mencicil kewajiban yang tersisa dari masa pandemi.
Perjalanan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa bertahan bukan berarti menolak perubahan. Ada kalanya seseorang perlu berani mengambil langkah baru agar dapat melanjutkan perjuangan.
Sebelas Tahun Bersama, Kunci Utamanya Kepercayaan
Bekerja sama dalam bisnis selama lebih dari satu dekade tentu bukan hal mudah. Perbedaan pendapat, tekanan keuangan, dan ketidakpastian pasar dapat menjadi ujian bagi hubungan antarmitra.
Namun, Milki dan Irwan mengaku berusaha menjaga kerja sama melalui kepercayaan, komitmen, serta sikap saling menguatkan.
Mereka memahami bahwa keberhasilan tidak selalu datang secepat yang diharapkan. Ada masa ketika usaha terasa berjalan di tempat, ada pula masa ketika keadaan memaksa mereka mengulang perencanaan dari awal.
Kini, setelah melewati berbagai tantangan, keduanya mulai merancang pengembangan usaha yang lebih luas. Salah satu gagasan yang ingin diwujudkan adalah membuka peluang kerja sama atau waralaba, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Mereka juga berharap dapat mengembangkan bisnis lain yang saling mendukung, seperti usaha konveksi dan pembuatan seragam.
Meski demikian, pengalaman panjang mengajarkan mereka pentingnya menjaga fokus, konsistensi, serta memperhitungkan keuntungan agar bisnis mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Lebih dari Sekadar Bertahan
Bagi Milki dan Irwan, perjalanan Ladanya belum selesai. Mereka masih memiliki mimpi untuk membawa usaha tersebut berkembang ke berbagai tempat dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Namun, pelajaran terpenting dari kisah mereka bukan sekadar bagaimana sebuah usaha kecil tumbuh menjadi restoran yang lebih besar.
Kisah ini berbicara tentang keberanian memulai dari bawah, kesediaan menjalani proses panjang tanpa hasil instan, serta tekad untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak berpihak.
Mereka pernah berjualan gorengan, mengantarkan dagangan ke sekolah-sekolah, menghadapi omzet yang sangat kecil, melewati pandemi, hingga menanggung utang yang harus dicicil kembali. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk usaha mereka hari ini.
Dari pengalaman tersebut, Milki mengingatkan bahwa apa pun profesi yang dijalani, seseorang perlu memiliki fokus dan konsistensi. Sementara Irwan menekankan pentingnya kesiapan dalam menyambut kesempatan, karena peluang dapat datang kapan saja.
Pada akhirnya, kisah Ladanya membawa pesan sederhana tetapi bermakna: kesuksesan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari langkah kecil yang dijalani dengan tekun, dari persahabatan yang dijaga dengan kepercayaan, dan dari niat untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Sebab, usaha yang benar-benar bernilai bukan hanya usaha yang mampu bertahan menghadapi badai, tetapi juga usaha yang tetap memiliki tujuan untuk memberi arti bagi kehidupan orang lain. (andif)
Sumber : Channel Youtube Ruang UMKM Naik Kelas (PIONEER RESTO JEPANG DI CIANJUR | Milky & Irwan)










