Oleh: Syahril Syam *)
Dalam tradisi spiritual Islam, ungkapan seperti “menyatu dengan kehendak Allah”, “melebur dalam kehendak-Nya”, atau fana’ sering dipahami secara keliru. Sebagian orang mengira bahwa ketika seorang hamba mencapai tingkat spiritual tertentu, ia berubah menjadi Tuhan, kehilangan dirinya sepenuhnya, atau identitas manusianya lenyap. Padahal, dalam kerangka Tauhid Islam, khususnya dalam pemikiran Mulla Sadra dan Ibn Arabi, yang dimaksud bukanlah penyatuan dzat antara manusia dan Allah. Islam tetap menegaskan adanya perbedaan mutlak antara Sang Pencipta dan makhluk. Yang berubah bukan hakikat ketuhanan manusia, melainkan arah batin, kualitas kesadaran, dan cara manusia menjalani hidup.
Dalam filsafat Islam, Allah disebut sebagai Wājib al-Wujūd, yaitu Keberadaan Yang Niscaya dan tidak bergantung pada apapun. Sementara manusia adalah mumkin al-wujūd, keberadaan yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Artinya, manusia tidak pernah memiliki eksistensi mandiri seperti Tuhan. Ia hidup, bergerak, berpikir, dan ada karena terus ditopang oleh Allah. Karena itu, perbedaan ontologis antara Tuhan dan manusia tidak pernah hilang. Manusia tidak berubah menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak berubah menjadi manusia. Jika batas ini dihapus, maka konsep Tauhid runtuh. Islam sangat tegas menjaga perbedaan antara Khalik dan makhluk.
Lalu apa sebenarnya makna “menyatu dengan kehendak Allah”? Maksudnya adalah bahwa pusat penggerak hidup manusia mulai berubah. Pada tahap awal, manusia biasanya hidup dengan dorongan ego: ingin dipuji, takut ditolak, mudah marah, serakah, defensif, atau selalu ingin mengontrol keadaan. Dalam kondisi ini, tindakan manusia banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan impuls reaktif.
Namun dalam perjalanan spiritual, manusia belajar membersihkan batinnya sedikit demi sedikit. Ia mulai bertindak bukan semata karena ego pribadi, tetapi karena nilai yang lebih tinggi: kebenaran, kasih sayang, amanah, kebijaksanaan, dan kesadaran kepada Allah. Jadi yang mengalami transformasi bukan “dzat manusia menjadi Tuhan”, melainkan struktur jiwanya menjadi lebih selaras dengan nilai Ilahi.
Tradisi filsafat dan irfan Islam sering menggunakan analogi cermin untuk menjelaskan hal ini. Allah diibaratkan seperti matahari yang memancarkan cahaya, sedangkan manusia seperti cermin yang memantulkan cahaya tersebut. Jika cermin penuh debu dan kotoran, cahaya akan tampak kabur, terdistorsi, bahkan kadang tidak terlihat samasekali. Tetapi jika cermin dibersihkan, cahaya dapat dipantulkan dengan jernih. Walaupun demikian, cermin tetap bukan matahari. Ia hanya menjadi media pantulan yang lebih baik.
Demikian pula manusia. Ketika hati dipenuhi kesombongan, iri hati, dendam, riya’, kerakusan, dan keterikatan berlebihan pada dunia, maka sifat-sifat Ilahi sulit tercermin dalam perilakunya. Tetapi ketika jiwa mulai disucikan, kasih sayang menjadi lebih nyata, kebijaksanaan lebih stabil, ketenangan lebih hidup, dan keadilan lebih mudah muncul. Bukan karena manusia menjadi Tuhan, tetapi karena hatinya menjadi lebih bersih untuk memantulkan nilai-nilai Ilahi.
Konsep ini sebenarnya sangat praktis dan bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ada dua orang yang sama-sama membantu orang miskin. Secara lahiriah tindakannya terlihat sama. Namun orang pertama membantu karena ingin dipuji, ingin dianggap paling baik, atau ingin merasa lebih superior dari orang lain. Kebaikannya masih berpusat pada ego.
Sedangkan orang kedua membantu karena belas kasih, rasa amanah, dan kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang harus dihormati. Tindakan luar mereka mungkin mirip, tetapi struktur batinnya berbeda. Yang kedua lebih dekat dengan nilai rahmat dan kasih sayang Ilahi. Dalam Islam, kualitas batin seperti inilah yang sangat menentukan nilai spiritual suatu amal.
Jika dikaitkan dengan kerangka SAT (Self Awareness Transformation), maka “menyatu dengan kehendak Allah” dapat dipahami sebagai pergeseran internal governance atau pusat kendali internal manusia. Awalnya hidup manusia lebih banyak digerakkan oleh ketakutan, kemarahan, keserakahan, kebutuhan validasi, dan survival mode. Sistem saraf dan psikologinya terus berada dalam pola reaktif.
Namun melalui kesadaran diri, latihan batin, refleksi, dan penyucian jiwa, pusat kendali itu perlahan bergeser menuju kesadaran ruhani yang lebih tinggi. Manusia mulai bertindak berdasarkan hikmah, makna, amanah, kasih sayang, dan kesadaran yang lebih jernih. Dengan demikian, spiritualitas dalam Islam bukan pelarian dari dunia atau penghapusan identitas manusia, melainkan transformasi cara manusia hadir di dalam dunia. Ia tetap manusia, tetapi manusia yang lebih selaras dengan cahaya nilai-nilai Ilahi.
Dalam spiritualitas Islam, ego sering dipandang sebagai salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan batin manusia. Namun yang dimaksud “ego” di sini bukan sekadar identitas diri atau kesadaran bahwa seseorang adalah individu. Yang menjadi masalah adalah ketika ego mengambil posisi sebagai pusat utama kehidupan. Ego selalu ingin menjadi yang paling penting. Ia ingin memiliki, menguasai, dipuji, menang, diakui, dan dianggap pusat dari segala sesuatu.
Karena itu, ego cenderung melihat dunia berdasarkan pertanyaan: “Apa keuntungan untuk diriku?”, “Bagaimana aku terlihat di mata orang lain?”, atau “Bagaimana aku bisa lebih unggul?”. Dalam kondisi seperti ini, tindakan manusia seringkali tidak lagi dipandu oleh kebenaran atau kebijaksanaan, tetapi oleh kebutuhan mempertahankan citra diri dan kepentingan pribadi.
Sementara itu, orientasi Ilahi bergerak ke arah yang berbeda. Nilai-nilai Ilahi dalam Islam lebih berkaitan dengan memberi, menebarkan rahmat, menghadirkan keadilan, menjaga amanah, dan menempatkan kebenaran di atas kepentingan diri. Karena itu, selama ego masih menjadi pusat penggerak utama, manusia akan sulit benar-benar selaras dengan nilai-nilai tersebut. Ego cenderung defensif, mudah tersinggung, haus validasi, dan sering menjadikan orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya.
Akibatnya, walaupun seseorang tampak religius secara lahiriah, batinnya masih bisa sangat egoistik. Ia bisa beribadah untuk dipuji, membantu untuk dianggap mulia, atau mencari ilmu agar merasa lebih tinggi dari orang lain. Di sinilah spiritualitas Islam menekankan bahwa perjuangan terbesar manusia bukan menghancurkan eksistensi dirinya, melainkan membersihkan pusat orientasi dirinya.
Karena itu, konsep penyucian jiwa dalam Islam sebenarnya sangat berkaitan dengan transformasi motivasi batin. Manusia tidak diminta berhenti menjadi manusia, tetapi belajar melepaskan dominasi “aku palsu” yang terus ingin menjadi pusat segalanya. Dalam bahasa psikologi modern, ego yang terlalu dominan sering membuat manusia hidup dalam mode reaktif: mudah marah ketika harga dirinya terluka, takut kehilangan citra, atau terus mencari validasi eksternal untuk merasa berharga. Akibatnya, ketenangan batin menjadi sulit tercapai karena hidup terus berputar pada perlindungan identitas ego. Semakin besar keterikatan pada ego, semakin mudah manusia terseret kecemasan, iri hati, kesombongan, dan konflik batin.
Di sinilah konsep fana’ dalam tradisi sufi sering disalahpahami. Banyak orang mengira fana’ berarti manusia “lenyap menjadi Tuhan” atau melebur secara ontologis dengan Allah. Padahal dalam kerangka Tauhid Islam, hal itu tidak dimaksudkan samasekali. Dalam pemikiran tokoh-tokoh seperti Ibn Arabi dan Mulla Sadra, yang “lenyap” dalam fana’ bukan keberadaan manusia sebagai makhluk, tetapi keakuan egoistiknya. Yang memudar adalah kesombongan spiritual, klaim diri yang berlebihan, rasa paling penting, dan ilusi bahwa manusia bisa berdiri sendiri tanpa Allah. Dengan kata lain, yang hilang adalah “aku sebagai pusat semu”, bukan “aku sebagai hamba”.
Karena itu, seseorang yang mengalami transformasi spiritual tetap hidup seperti biasa. Ia tetap bekerja, makan, berbicara, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Secara lahiriah mungkin tidak ada yang tampak berbeda. Namun pusat batinnya berubah. Jika sebelumnya ia bertindak demi pengakuan diri, sekarang ia lebih dipandu oleh kesadaran, amanah, dan nilai yang lebih tinggi. Jika sebelumnya ia mudah tersulut emosi karena ego terluka, sekarang ia lebih stabil dan tidak terlalu dikuasai kebutuhan untuk selalu menang atau dianggap benar. Dalam arti ini, fana’ bukan penghapusan identitas manusia, tetapi transformasi cara manusia memandang dirinya sendiri.
Tradisi spiritual Islam melihat bahwa semakin ego mendominasi, semakin manusia terpisah dari kejernihan batinnya. Sebaliknya, semakin ego dibersihkan, semakin mudah sifat-sifat luhur muncul secara alami: kasih sayang, ketulusan, kesabaran, keadilan, dan kebijaksanaan.
Maka tujuan perjalanan spiritual bukan menjadikan manusia “makhluk tanpa diri”, tetapi menjadikan dirinya tidak lagi diperbudak oleh pusat ego yang sempit. Manusia tetap memiliki identitas, kehendak, dan kesadaran diri, tetapi semua itu menjadi lebih selaras dengan nilai-nilai Ilahi. Dalam kondisi seperti inilah manusia dapat hidup lebih tenang, lebih jernih, dan lebih mampu menghadirkan rahmat dalam kehidupan sehari-hari.
@pakarpemberdayaandiri






