Oleh : Syahril Syam
Dalam kajian neuroscience modern yang dipelopori oleh Marcus Raichle, ditemukan bahwa otak manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar “diam”. Bahkan ketika kita tidak sedang mengerjakan apapun secara sadar, otak tetap aktif melalui suatu jaringan yang disebut Default Mode Network (DMN). Jaringan ini bekerja terutama saat kita tidak fokus pada dunia luar – misalnya ketika pikiran mengembara, melamun, atau merenung tentang diri sendiri. Dalam kondisi ini, otak justru sibuk memproses berbagai hal internal yang sering tidak kita sadari secara langsung.
Secara fungsi, DMN memiliki peran penting dalam kehidupan mental manusia. Ia membantu kita mengolah kembali pengalaman masa lalu, membayangkan kemungkinan masa depan, serta menyusun apa yang disebut sebagai “narasi diri”, yaitu cerita internal tentang siapa kita, bagaimana hidup kita berjalan, dan ke mana arah kita. Selain itu, DMN juga menjalankan berbagai pola pikir otomatis yang sudah terbentuk dari kebiasaan sebelumnya. Karena peran inilah, dalam bahasa sederhana, DMN sering disebut sebagai “mesin cerita internal” manusia – ia terus bercerita di latar belakang kesadaran kita, bahkan tanpa kita minta.
Lalu, apakah DMN bisa dianggap sebagai “auto-pilot kesadaran”? Secara ilmiah, jawabannya bisa “ya”, tetapi dengan catatan penting. DMN bukanlah kesadaran itu sendiri, melainkan wadah dari aktivitas mental otomatis yang berlangsung tanpa kontrol penuh dari kesadaran. Dalam istilah yang lebih teknis, DMN adalah baseline cognitive activity – yakni aktivitas dasar otak saat tidak ada tugas khusus. Sementara itu, fungsi kontrol sadar yang aktif dan terarah justru dijalankan oleh bagian lain dari otak, terutama prefrontal cortex dalam jaringan yang disebut task-positive network. Jadi, DMN lebih seperti arus bawah yang terus mengalir, sementara kesadaran aktif adalah pengarah yang bisa, jika dilatih, mengendalikan arus tersebut.
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apakah DMN bisa “diisi” dengan dzikir atau ingatan kepada Allah? Jawaban yang jujur dan berbasis ilmu adalah: bisa, tetapi tidak instan. Proses ini terjadi melalui dua mekanisme utama dalam otak, yaitu neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah) dan habituation (pembiasaan). Otak bekerja dengan prinsip sederhana namun kuat: “neuron yang sering aktif bersama akan membentuk koneksi yang semakin kuat”. Artinya, apa yang sering kita ulang dalam pikiran akan secara perlahan menjadi bagian dari struktur otak kita.
Jika kita secara sadar sering mengingat Allah – melalui dzikir – lalu mengulanginya dalam berbagai kondisi, baik saat tenang, sibuk, maupun stres, dan bahkan melibatkan emosi seperti rasa khusyuk, cinta, takut, atau harap, maka akan terjadi perubahan bertahap dalam diri kita. Proses ini dimulai dari state, yaitu kondisi sadar ketika kita sengaja berdzikir. Kemudian berkembang menjadi pattern, dimana dzikir mulai menjadi pola mental yang berulang. Dari situ terbentuk wiring, yaitu penguatan jaringan saraf di otak. Hingga akhirnya terjadi default mode shift, yaitu perubahan pada DMN itu sendiri, sehingga ia mulai “terisi” oleh konten dzikir.
Dalam kondisi ini, DMN tidak lagi dipenuhi oleh kecemasan atau pikiran yang tidak terarah, tetapi justru menjadi latar belakang yang secara otomatis mengingat Allah. Akibatnya, dalam kondisi santai, kosong, bahkan saat menghadapi tekanan, pikiran cenderung kembali kepada Allah sebagai pusatnya. Ini adalah bentuk transformasi yang sangat dalam – bukan hanya pada perilaku, tetapi pada struktur dan kecenderungan dasar kesadaran.
Namun, hal sebaliknya juga bisa terjadi. Jika seseorang lebih sering mengisi pikirannya dengan kekhawatiran, skenario negatif, atau ambisi duniawi yang berlebihan, maka DMN akan mengikuti pola tersebut. Ia akan secara otomatis menghasilkan overthinking, kecemasan yang berulang, dan narasi diri yang berpusat pada ego. Dalam istilah ilmiah, DMN bisa bersifat adaptif – membantu refleksi dan makna hidup – atau maladaptif, yaitu terjebak dalam rumination (pikiran berulang yang negatif) dan anxiety loop.
Ketika seseorang berada dalam kondisi stres tinggi, sistem lain dalam otak seperti amygdala (pusat emosi takut) dan salience network (pendeteksi ancaman) akan aktif dan bersaing dengan DMN dalam mengendalikan pikiran. Dalam situasi ini, apa yang sudah menjadi pola dalam DMN akan sangat menentukan. Jika dzikir sudah tertanam sebagai pola yang dalam, maka ia akan tetap muncul sebagai “jangkar” yang menenangkan, membantu menstabilkan emosi, dan meredakan respons stres.
Jika kita tarik seluruh penjelasan ini ke dalam kerangka Self Awareness Transformation (SAT), maka gambaran besarnya menjadi jauh lebih utuh dan mendalam. Apa yang dalam neuroscience disebut sebagai Default Mode Network (DMN) dapat dipahami, dalam bahasa filsafat jiwa, sebagai “lapisan nafs yang bergerak otomatis” – yakni bagian dari diri yang terus aktif, membentuk arus pikiran tanpa harus diperintah secara sadar. Ia bukan sekadar fenomena biologis, tetapi mencerminkan kecenderungan batin yang telah berulang dan mengendap.
Dalam konteks ini, latihan dzikir dapat dipahami sebagai sebuah “intervensi kesadaran” – usaha sadar manusia untuk mengarahkan ulang arus tersebut. Artinya, dzikir bukan hanya aktivitas spiritual, tetapi juga proses rekayasa ulang struktur batin dan otak sekaligus. Dari sinilah terbentuk dua arus besar dalam diri manusia. Arus pertama adalah arus otomatis lama, yang berbasis nafs, bersifat reaktif, dan cenderung terikat pada hal-hal duniawi.
Arus ini terbentuk dari kebiasaan lama: kekhawatiran, ambisi berlebihan, atau narasi ego yang terus diulang. Sedangkan arus kedua adalah arus otomatis baru, yang berbasis kesadaran, terlatih melalui pengulangan, dan mengarah pada dimensi Ilahiah. Arus ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi dibangun secara bertahap melalui latihan yang konsisten.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat krusial: apakah DMN masih berperan dalam kondisi ekstrem seperti menjelang kematian? Secara ilmiah, jawabannya perlu diluruskan. DMN memang bagian dari aktivitas dasar otak, tetapi dalam kondisi ekstrem – seperti trauma berat, kekurangan oksigen (hipoksia), atau menjelang kematian – yang terjadi bukan sekadar aktivasi DMN, melainkan gangguan global pada seluruh sistem otak.
Berbagai penelitian berbasis EEG dan fMRI menunjukkan bahwa aktivitas otak dalam kondisi ini bisa menjadi sangat tidak stabil: kadang terjadi lonjakan sinkronisasi, kadang justru penurunan drastis. Dengan kata lain, bukan DMN yang “mengambil alih”, tetapi otak masuk ke mode paling dasar yang masih tersisa dari keseluruhan sistem.
Dalam kondisi seperti ini, yang benar-benar “bekerja” bukan lagi kontrol sadar (top-down control), karena fungsi ini sangat bergantung pada kestabilan prefrontal cortex yang justru melemah. Yang muncul justru pola otomatis terdalam yang sudah tertanam kuat sepanjang hidup. Dalam istilah neuroscience, ini disebut sebagai implicit memory systems, habitual neural pathways, atau overlearned patterns – yaitu jejak-jejak yang sudah menjadi bagian dari struktur diri, bukan sekadar pikiran yang lewat.
Di titik ini, pemahaman menjadi sangat jelas: yang muncul dalam kondisi ekstrem bukanlah sesuatu yang kita pilih saat itu, melainkan sesuatu yang telah kita bangun sebelumnya. Maka benar bahwa dzikir bisa muncul secara otomatis dalam kondisi seperti ketakutan ekstrem, disorientasi, atau bahkan sakaratul maut – tetapi dengan syarat yang sangat spesifik. Dzikir tersebut harus sudah melampaui level verbal dan kognitif, dan masuk ke tiga lapisan yang lebih dalam: menjadi pola saraf yang terbiasa (habitual neural pattern), terikat dengan emosi yang kuat (affective encoding), dan menyatu dengan identitas diri (self-schema).
Jika ini tercapai, maka saat kontrol sadar runtuh, yang muncul adalah dzikir itu sendiri sebagai “refleks eksistensial”. Ia menjadi seperti jangkar yang tetap hadir, bahkan ketika sistem kesadaran sedang goyah. Namun, jika yang lebih dominan sepanjang hidup adalah kecemasan, keterikatan dunia, atau narasi ego, maka yang muncul dalam kondisi tersebut justru sebaliknya: panic loop, bayangan ketakutan, dan pikiran yang tidak teratur. Ini bukan karena seseorang memilihnya di saat itu, tetapi karena itulah pola yang paling dalam tertanam dalam dirinya.
Dalam kerangka ini, posisi DMN menjadi lebih tepat dipahami sebagai “arena latihan sehari-hari”, bukan aktor utama di momen kematian. Apa yang terus-menerus berulang dalam DMN selama hidup normal akan menjadi baseline mental content – isi dasar pikiran. Dan isi inilah yang kemudian “naik ke permukaan” ketika kontrol runtuh.
Menariknya, ini sangat paralel dengan konsep malakah dalam filsafat Mulla Sadra, yaitu sifat atau kualitas jiwa yang terbentuk melalui pengulangan hingga menjadi bagian permanen dari diri. Mulla Sadra menekankan bahwa jiwa manusia tidak statis, tetapi bergerak dan berubah sesuai dengan apa yang ia lakukan secara berulang. Dengan kata lain, jiwa bergerak menuju bentuk yang ia latih.
Maka kesimpulannya menjadi sangat tegas dan bahkan eksistensial: dzikir yang diulang bukan hanya menjadi kebiasaan, tetapi perlahan menjadi bentuk wujud itu sendiri. Sebaliknya, kelalaian yang diulang juga akan mengambil bentuknya sendiri dalam jiwa. Dan pada momen paling krusial dalam hidup manusia, yang muncul bukanlah pilihan baru yang tiba-tiba, melainkan hasil dari seluruh perjalanan panjang yang telah dibentuk – diam-diam – oleh apa yang kita ulang setiap hari. Kematian tidak menciptakan pola baru dalam kesadaran. Ia hanya menyingkap apa yang selama ini diam-diam kita latih.
@pakarpemberdayaandiri










