Kelelahan Manusia Modern: Saat Hidup Tidak Lagi Selaras dengan Fitrah

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam Islam, kehidupan bukan sekadar perjalanan biologis: lahir, bekerja, makan, lalu mati. Kehidupan dipandang sebagai proses pendidikan jiwa. Seluruh aktivitas manusia – cara berbicara, bekerja, mencintai, marah, memberi, bahkan cara menghadapi kesulitan – sedang membentuk kondisi batin dan kualitas hati manusia itu sendiri. Karena itu, inti perjalanan spiritual bukan hanya pertanyaan: “berapa banyak amal yang dilakukan?”, tetapi pertanyaan yang lebih dalam: “melalui semua amal itu, manusia sedang berubah menjadi siapa?”

Seseorang mungkin melakukan ibadah yang sama dengan orang lain, tetapi keadaan jiwanya berbeda. Ada yang beribadah karena terpaksa, ada yang beribadah demi imbalan, dan ada yang beribadah karena cinta dan kerelaan kepada Allah SWT. Secara lahiriah tindakannya bisa tampak mirip, tetapi secara batin kualitasnya berbeda jauh. Al-Qur’an dan para ulama akhlak menekankan bahwa nilai amal tidak hanya diukur dari bentuk lahirnya, tetapi juga dari orientasi hati ketika amal itu dilakukan.

Pada tingkat pertama, seseorang melakukan kebaikan karena tekanan atau keterpaksaan. Ia shalat karena takut dinilai buruk, bekerja jujur karena takut hukuman, atau bersikap baik demi menjaga citra diri. Dalam kondisi ini, konflik batin masih besar. Hati masih merasa berat. Kebaikan belum menjadi kebutuhan jiwa, melainkan sekadar kewajiban yang dipikul.

Pada tingkat berikutnya, seseorang mulai melakukan amal karena mengharapkan balasan. Ini lebih baik dibanding keterpaksaan, sebab hati mulai bergerak secara sadar menuju kebaikan. Namun pusat orientasinya masih banyak berputar pada diri sendiri: ingin pahala, ingin surga, ingin keselamatan, ingin ketenangan pribadi. Pada tahap ini, amal sudah lebih hidup, tetapi unsur pamrih masih kuat.

Tingkat yang lebih tinggi adalah ketika seseorang melakukan amal karena cinta dan kerelaan kepada Allah SWT. Di sini pusat hidup mulai bergeser. Kebaikan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan jiwa. Ia taat bukan karena dipaksa orang lain, bukan pula semata-mata karena menginginkan imbalan, melainkan karena hatinya memang condong kepada kebenaran dan kepada Allah. Pada keadaan ini, ketaatan menjadi lebih ringan, riya berkurang, konflik batin menurun, dan muncul rasa tulus yang lebih mendalam.

Karena itu, banyak ulama akhlak menjelaskan bahwa ikhlas bukan sekadar “niat awal” yang diucapkan sesaat sebelum beramal. Ikhlas adalah keadaan jiwa yang matang. Ia adalah hasil dari proses panjang pendidikan batin. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi ikhlas sempurna. Keikhlasan tumbuh melalui latihan terus-menerus: melawan ego, mengendalikan dorongan pamer, belajar jujur kepada diri sendiri, serta membiasakan hati untuk menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup.

Dalam perspektif filsafat Islam, jiwa manusia bergerak secara bertahap melalui konsep yang dikenal sebagai “gerak substansial” (al-harakah al-jawhariyyah). Artinya, manusia tidak hanya berubah pada perilaku luar, tetapi hakikat jiwanya sendiri ikut bergerak dan berkembang. Setiap pilihan hidup, kebiasaan, dan respons batin perlahan membentuk struktur jiwa manusia. Karena itu, hati manusia bisa berubah dari berat menjadi ringan, dari penuh pamrih menjadi lebih ikhlas, dari egoistik menjadi lebih Ilahiah, dan dari batin yang terpecah menjadi lebih utuh dan tenang.

Dalam pandangan ini, amal bukan sekadar “catatan pahala” yang berdiri sendiri. Amal adalah sarana pembentukan jiwa. Apa yang dilakukan manusia berulang kali akan perlahan menjadi sifat dirinya. Orang yang terus melatih kesabaran akan membentuk jiwa yang lebih tenang. Orang yang terus memelihara iri dan kebencian akan membentuk jiwa yang sempit dan gelisah. Dengan kata lain, manusia bukan hanya “melakukan perbuatan”, tetapi juga “dibentuk oleh perbuatannya sendiri”.

Karena itu, mengharap ridha Allah tidak cukup dipahami hanya sebagai berharap pahala atau surga. Dalam makna yang lebih dalam, ridha Allah berarti menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Artinya manusia berusaha menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakannya dengan kebenaran. Hidup dijalani bukan sekadar mengejar dunia, pengakuan, atau kepuasan ego, tetapi sebagai perjalanan menuju Allah.

Al-Qur’an menggambarkan tujuan akhir perjalanan manusia dalam firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai” (QS Al-Fajr: 27–28). Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan spiritual manusia bukan sekadar banyaknya aktivitas ibadah, melainkan transformasi jiwa. Perjalanan manusia diarahkan: dari gelisah menuju tenang, dari egoistik menuju tulus, dari batin yang tercerai-berai menuju utuh, dan dari sibuk mencari dunia menuju mencari Allah.

Frasa “radhiyatan mardhiyyah” (“ridha dan diridhai”) memiliki makna yang sangat dalam. Dimensi pertama adalah radhiyah – ridha kepada Allah. Ini berarti hati menerima Allah, menerima jalan-Nya, menerima kebenaran-Nya, dan tidak terus-menerus memberontak secara batin terhadap ketentuan-Nya.

Ridha bukan berarti manusia tidak pernah sedih atau sakit. Islam tidak mengajarkan mati rasa emosional. Seseorang tetap bisa menangis, kehilangan, atau merasa berat menghadapi ujian hidup. Namun di balik semua itu, hubungan batinnya dengan Allah tidak terputus. Ia bisa diuji tanpa membenci Allah. Ia bisa gagal tanpa kehilangan arah hidup. Ia bisa kehilangan sesuatu tanpa kehilangan Tuhan. Inilah makna ridha yang matang secara spiritual.

Dimensi kedua adalah mardhiyyah – diridhai Allah. Ini menunjukkan keadaan ketika jiwa manusia semakin selaras dengan fitrahnya. Hati, amal, dan orientasi hidupnya bergerak menuju Allah secara lebih murni. Dalam tafsir ulama, keadaan ini berkaitan dengan kemurnian hati, ketenangan jiwa, keikhlasan, dan kesatuan orientasi batin. Artinya, Allah ridha kepada hamba yang seluruh gerak hidupnya perlahan benar-benar menuju-Nya.

Pada akhirnya, perjalanan spiritual dalam Islam bukan sekadar upaya memperbanyak aktivitas lahiriah, tetapi proses pemurnian eksistensi manusia itu sendiri. Amal, ujian, hubungan sosial, pekerjaan, keluarga, dan seluruh pengalaman hidup menjadi medan pendidikan jiwa. Dari sanalah hati dilatih untuk bergerak sedikit demi sedikit menuju keadaan yang lebih tenang, lebih ikhlas, lebih utuh, dan lebih dekat kepada Allah.

Ikhlas dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar “tidak pamer”. Banyak orang memahami ikhlas hanya sebatas tidak memperlihatkan amal kepada orang lain. Padahal para ulama akhlak menjelaskan bahwa inti ikhlas adalah kesatuan orientasi batin. Ikhlas berarti hati tidak terpecah, tujuan tidak bercabang, dan pusat orientasi hidup tidak tersebar ke banyak arah. Ketika seseorang benar-benar ikhlas, pusat terdalam dari amalnya bergerak menuju Allah, bukan menuju ego, pengakuan, atau kebutuhan untuk dipuji manusia.

Karena itu, dalam tradisi tasawuf dan akhlak Islam sering dibahas tentang syirk khafī – syirik tersembunyi. Ini bukan selalu berarti menyembah berhala secara lahiriah, tetapi keterikatan halus dalam hati yang membuat manusia diam-diam menjadikan selain Allah sebagai pusat orientasi batinnya. Bentuknya bisa sangat halus: mencari validasi manusia, ingin dianggap suci, merasa lebih hebat dibanding orang lain dalam ibadah, menikmati pujian spiritual, atau membangun identitas diri di atas citra kesalehan.

Secara lahiriah seseorang mungkin rajin beribadah, aktif berdakwah, atau terlihat sangat religius. Namun secara batin ia terus haus pengakuan. Hatinya tidak benar-benar tenang jika tidak dipuji. Ia kecewa ketika tidak dihargai. Ia terluka ketika citranya jatuh. Dalam keadaan seperti ini, pusat orientasinya belum sepenuhnya Allah. Hatinya masih terbagi antara mencari Tuhan dan mencari diri sendiri.

Karena itu, para ulama akhlak memandang ikhlas sebagai proses pemurnian batin yang sangat dalam. Ikhlas bukan hanya persoalan ucapan niat di awal amal, tetapi proses penyatuan hati agar tidak hidup dalam keterbelahan orientasi. Semakin hati terpecah oleh banyak pusat kepentingan – ego, gengsi, pujian, ambisi citra – semakin manusia mengalami konflik batin.

Menariknya, dalam perspektif psikologi modern dan neuroscience, terdapat kesesuaian tertentu dengan konsep ini. Penelitian tentang konflik internal menunjukkan bahwa ketika seseorang terus-menerus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai terdalamnya, otak mengalami ketegangan psikologis. Dalam psikologi kondisi ini sering dikaitkan dengan konflik intrapsikis atau cognitive dissonance, yaitu keadaan ketika keyakinan, nilai, dan perilaku tidak selaras. Ketika manusia hidup dalam keterbelahan seperti itu, maka energi mental lebih cepat terkuras, muncul resistensi batin, motivasi menjadi rapuh, dan aktivitas terasa berat secara psikologis.

Sebaliknya, ketika tindakan selaras dengan nilai terdalam manusia, muncul keadaan integrasi psikologis. Hati menjadi lebih utuh. Aktivitas terasa lebih ringan. Bahkan dalam banyak penelitian psikologi motivasi ditemukan bahwa manusia cenderung lebih stabil dan tahan lama ketika digerakkan oleh motivasi intrinsik dibanding motivasi eksternal. Edward L. Deci dan Richard M. Ryan melalui Self-Determination Theory menjelaskan bahwa tindakan yang lahir dari orientasi intrinsik biasanya lebih bertahan lama, lebih sehat secara psikologis, dan lebih sedikit menghasilkan kelelahan mental dibanding tindakan yang hanya didorong tekanan luar atau pencarian validasi eksternal.

Dalam bahasa spiritual, keadaan ini sangat dekat dengan makna ikhlas. Ketika orientasi hati semakin murni, keterbelahan batin berkurang. Manusia tidak lagi terlalu sibuk mempertahankan citra diri di hadapan manusia. Energi psikis yang sebelumnya habis untuk menjaga pengakuan sosial mulai berkurang. Dari sana muncul kelapangan hati dan ketenangan yang lebih dalam.

Dalam Islam, keadaan ini berkaitan erat dengan fitrah Tauhid. Manusia diyakini diciptakan untuk menuju Allah. Karena itu, ketika jiwa bergerak sesuai fitrahnya, muncul rasa selaras secara eksistensial. Ibadah menjadi lebih hidup, lebih ringan, dan lebih bermakna. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena pusat batin mulai menemukan arah yang utuh.

Sebaliknya, ketika jiwa terus melawan fitrah, dimana terlalu terikat pada dunia, hidup demi citra, dipenuhi kontradiksi, atau menjadikan manusia sebagai pusat penilaian utama, maka hati cenderung mengalami kegelisahan yang kronis. Ketaatan terasa berat, ibadah terasa kering, dan hidup terasa penuh tekanan batin. Dalam keadaan seperti ini, manusia sebenarnya bukan hanya lelah secara fisik, tetapi lelah karena batinnya tercerai-berai.

Sedangkan orang yang tulus biasanya lebih kuat menghadapi kesulitan. Ia tidak mudah hancur hanya karena tidak dipuji. Ia tidak terlalu bergantung pada validasi manusia untuk merasa bernilai. Ketika dipandang baik ia tidak terlalu mabuk pujian, dan ketika diremehkan ia tidak langsung runtuh. Mengapa? Karena pusat orientasinya tidak berada pada manusia, tetapi pada Allah.

Dalam kondisi seperti itu, ibadah mulai berubah kualitasnya. Shalat tidak lagi sekadar gerakan rutin. Sedekah tidak lagi menjadi alat membangun citra diri. Ilmu tidak lagi menjadi sarana merasa superior. Pekerjaan tidak lagi hanya alat mencari status sosial. Semua perlahan bergerak menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Ketika hati semakin tulus, maka ibadah menjadi hidup, hubungan menjadi lebih murni, pekerjaan berubah menjadi amanah, ilmu menjadi cahaya, dan kehidupan perlahan berubah menjadi perjalanan pulang menuju Allah.

Inilah makna terdalam dari perjalanan spiritual dalam Islam: bukan sekadar memperbanyak aktivitas keagamaan, tetapi menyatukan hati agar seluruh gerak hidup perlahan kembali kepada-Nya – dalam keadaan radhiyatan mardhiyyah, ridha dan diridhai.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *