Oleh: Syahril Syam *)
Aaron T. Beck (1976) mendefinisikan core beliefs atau asumsi dasar sebagai keyakinan fundamental dan absolut tentang diri kita, orang lain, dan dunia, biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak yang membentuk pikiran otomatis serta perilaku kita.
Dalam kerangka terapi kognitif, Aaron T. Beck menekankan pentingnya apa yang disebut core beliefs atau asumsi dasar. Asumsi dasar ini bisa dipahami sebagai keyakinan paling dalam dan seringkali tidak disadari, yang menjadi “kaca mata” kita dalam melihat dunia. Ia bekerja di bawah sadar dan memengaruhi cara kita berpikir sehari-hari – misalnya munculnya automatic thoughts (pikiran spontan), sikap yang kita ambil, hingga akhirnya perilaku yang kita lakukan.
Hubungan ini digambarkan dengan metafora pohon: asumsi dasar adalah “akar” yang tersembunyi di dalam tanah, sikap adalah “batang” yang tumbuh darinya, dan tindakan adalah “buah” yang tampak di permukaan. Jika akarnya sehat, pohonnya akan tumbuh baik; sebaliknya, jika akarnya rapuh atau sakit, maka batang dan buahnya pun akan terpengaruh. Misalnya, seseorang yang menyimpan keyakinan dasar “Saya tidak dicintai” akan cenderung bersikap pesimis dalam hubungan sosial.
Sikap pesimis ini kemudian membuatnya menarik diri dari orang lain, yang justru semakin menguatkan perasaan bahwa dirinya tidak dicintai. Dengan memahami pola ini, terapi kognitif membantu seseorang mengenali dan mengubah “akar” keyakinannya sehingga sikap dan tindakannya juga dapat berubah ke arah yang lebih sehat.
Beck menjelaskan akar dari banyak gangguan psikologis dengan melihat pola pikir manusia. Ia menemukan bahwa pasien yang mengalami depresi seringkali terjebak dalam pikiran negatif yang berulang, misalnya merasa tidak mampu, tidak berarti, atau putus asa. Beck kemudian bertanya: dari mana datangnya pikiran otomatis yang begitu cepat muncul ini?
Penelitiannya menunjukkan bahwa sumber utamanya adalah asumsi dasar atau core beliefs yang bersifat maladaptif, yaitu keyakinan terdalam yang keliru tentang diri sendiri, orang lain, atau dunia. Contohnya, keyakinan seperti “Saya tidak berharga”, “Saya gagal”, atau “Tidak ada yang mencintai saya” menjadi akar yang menumbuhkan pikiran otomatis negatif. Pikiran ini lalu membentuk sikap pesimis dan perilaku menarik diri, yang pada akhirnya memperkuat gejala depresi.
Dengan demikian, tujuan penelitian Beck adalah untuk memahami hubungan antara keyakinan inti yang keliru dengan gejala psikologis, sehingga dapat ditemukan cara untuk membantu pasien mengubah keyakinan maladaptif tersebut dan meringankan penderitaannya.
Tidak berhenti hanya pada menemukan bahwa asumsi dasar menjadi akar dari gangguan psikologis. Ia kemudian mengembangkan kerangka terapi yang disebut Cognitive Therapy, yang belakangan berkembang lebih luas menjadi Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Konsep utamanya sederhana namun mendalam: jika akar keyakinan inti negatif bisa diubah, maka pola pikir, perasaan, dan perilaku seseorang juga akan ikut berubah menjadi lebih sehat.
Dalam praktik terapi, pasien diajak untuk pertama-tama menyadari asumsi dasar yang mereka miliki, lalu menguji kebenarannya secara kritis, dan akhirnya menggantinya dengan asumsi yang lebih realistis dan adaptif. Proses ini disebut restrukturisasi kognitif. Dengan cara ini, CBT bukan hanya membantu mengatasi gejala depresi, tetapi juga berfungsi sebagai strategi preventif – mencegah pikiran negatif berulang tumbuh menjadi masalah yang lebih serius.
Jadi, penelitian Beck tentang asumsi dasar memiliki tiga tujuan besar: memahami akar gangguan psikologis (khususnya depresi), menciptakan terapi kognitif yang efektif, serta menyediakan cara praktis bagi individu untuk memperbaiki dan merawat kesehatan mental mereka melalui perubahan keyakinan inti.
Mekanisme terbentuknya pola pikir menurut Beck dapat dijelaskan secara bertahap dan sederhana. Asumsi dasar (core beliefs) biasanya mulai berkembang sejak kecil, terutama dari pengalaman penting dalam hidup, seperti hubungan dengan orangtua, keluarga, atau lingkungan terdekat.
Dari keyakinan inti inilah kemudian muncul aturan hidup atau asumsi menengah (intermediate beliefs), yang berupa pernyataan bersyarat seperti, “Kalau saya gagal, berarti saya tidak berharga.”
Aturan hidup ini menjadi semacam “filter” yang membentuk pikiran otomatis (automatic thoughts) yang muncul dalam keseharian. Pikiran otomatis inilah yang kemudian memengaruhi emosi, dan pada akhirnya mendorong tindakan nyata. Sebagai contoh: seseorang yang memiliki core belief “Saya tidak berharga” akan melahirkan asumsi menengah seperti “Kalau saya gagal, saya pasti ditolak.”
Dari sini, ketika menghadapi ujian, muncul pikiran otomatis “Saya pasti tidak bisa menghadapi ujian ini.” Pikiran tersebut menimbulkan emosi cemas, dan akhirnya mendorong tindakan menghindari ujian. Rangkaian ini menunjukkan bagaimana akar keyakinan terdalam bisa menjalar hingga memengaruhi perasaan dan perilaku sehari-hari, bahkan tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya.
Salah satu temuan penting dalam psikologi kognitif adalah bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh peristiwa eksternal, melainkan juga oleh bagaimana kita menafsirkan pengalaman tersebut. Pikiran otomatis yang muncul dalam keseharian seringkali menjadi pintu masuk untuk memahami keyakinan inti yang lebih dalam, yang disebut asumsi dasar. Sebagai contoh, ketika seseorang tidak mendapat balasan pesan dari temannya, ia mungkin langsung berpikir, “Mereka tidak peduli pada saya.” Pikiran otomatis ini, bila ditelusuri lebih jauh, kerap berakar pada asumsi dasar yang lebih menyeluruh, misalnya “Saya tidak berharga.”
Langkah berikutnya adalah menguji kebenaran asumsi dasar tersebut. Apakah keyakinan itu selalu benar? Apakah ada bukti lain yang menunjukkan sebaliknya? Proses pengujian ini membantu individu menyadari bahwa pikiran negatif tidak selalu mencerminkan kenyataan objektif.
Dengan demikian, terbuka ruang untuk membangun perspektif baru yang lebih sehat. Asumsi dasar yang maladaptif kemudian diganti dengan keyakinan yang lebih adaptif, misalnya “Saya punya nilai meskipun tidak sempurna.”
Proses ini bukan sekadar perubahan kognitif di ruang terapi, tetapi memerlukan latihan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali pikiran negatif muncul, individu diajak untuk secara sadar mengingat, mengulang, dan menghidupi asumsi baru tersebut.
Dengan latihan berulang, keyakinan inti yang lebih sehat perlahan-lahan menggantikan keyakinan lama yang merugikan. Hasilnya, gejala psikologis seperti perasaan tidak berharga atau putus asa akan berkurang, sementara kualitas hidup dan kesejahteraan subjektif meningkat.
Dari perspektif praktis, hal ini menunjukkan bahwa memilih bahagia bukan berarti menunggu keadaan eksternal berubah, melainkan berani menata ulang cara berpikir tentang diri sendiri.
Dengan menyadari pikiran otomatis, menelusuri asumsi dasar, lalu menggantinya dengan keyakinan yang lebih adaptif, kita sesungguhnya sedang mengambil langkah nyata untuk memilih kebahagiaan dalam hidup kita.
@pakarpemberdayaandiri






