JAKARTA, MAJALAHCEO.co.id – Nelayan merupakan pilar penting dalam ketahanan pangan dan ekonomi, khususnya di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan. Di tengah krisis global, nelayan memiliki peran ganda: sebagai penyedia protein esensial dan penggerak ekonomi lokal.
Hal itu disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia [HNSI] Provinsi Sulawesi Tengah, H. Syarifudin Hafid, SH, Rabu [8/4/2026]
Menurut Syarifudin Hafid, meskipun menghadapi tantangan besar, nelayan tetap menjadi aktor krusial dalam menopang perekonomian, terutama dengan dukungan strategi adaptasi dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
“ Peran nelayan sangat strategis, salah satu garda terdepan dalam ketahanan pangan, dan penggerak ekonomi lokal,” kata Syarifudin Hafid.
“Melalui aktivitas penangkapan ikan setiap hari, mereka memastikan ketersediaan pangan yang konsisten, menggerakkan ekonomi maritim, serta menjaga kedaulatan pangan,” ujarnya.
Dalam momentum Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap 6 April, Syarifudin menyampaikan apresiasi sekaligus seruan kuat kepada pemerintah untuk lebih serius dalam melindungi dan memberdayakan nelayan Indonesia sebagai pilar ketahanan pangan dan ekonomi maritim nasional.
Politisi Demokrat ini menegaskan bahwa nelayan memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan protein bagi masyarakat sekaligus menjadi garda depan dalam pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Namun demikian, ia menyoroti bahwa masih banyak nelayan yang menghadapi berbagai tantangan mulai dari akses permodalan, fluktuasi harga hasil tangkapan, hingga ancaman perubahan iklim dan praktik illegal fishing yang merugikan.
Menurutnya, keberpihakan kebijakan terhadap nelayan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.
“Nelayan kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dengan nelayan yang kuat dan ekosistem pangan biru yang terbangun dengan baik, saya yakin Indonesia bisa semakin berdaulat secara pangan dan ekonomi maritim,” pungkas Syarifudin Hafid.
[jgd/red]












