UMKM  

CEO STORY: Tiga Founder Jago Coffee, dari Gerobak Listrik Menuju Jejaring Bisnis Global

JAKARTA — Bisnis kopi tak selalu harus dimulai dari sebuah kedai. Jago Coffee justru membangun model bisnis berbeda: membawa kopi langsung mendekati konsumen melalui gerobak listrik yang ditopang teknologi.

Di balik model tersebut ada tiga founder dengan latar belakang berbeda Yoshua Tanu, Christopher Oentojo, dan Daniel Sidik. Pada September 2026, ketiganya mencatat babak baru dalam perjalanan Jago Coffee setelah terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia melalui International Selection Panel (ISP) Endeavor di Montreal, Kanada, pada 17 September 2026.

Bagi Jago Coffee, pencapaian tersebut bukan sekadar pengakuan. Masuknya tiga founder ke jaringan Endeavor membuka akses kepada mentor, entrepreneur, dan investor dari berbagai negara, sekaligus peluang untuk belajar dari perusahaan yang telah melewati fase ekspansi.

Dari Dua Prototipe Gerobak Listrik

Cerita Jago Coffee bermula pada 2019 ketika prototipe gerobak listrik mulai dikembangkan. Setahun kemudian, Jago Coffee resmi beroperasi dengan hanya tiga barista dan dua prototipe gerobak.

Konsepnya sederhana tetapi membawa pendekatan berbeda. Alih-alih menunggu konsumen datang ke kedai, gerobak Jago Coffee bergerak mendekati konsumen di kawasan permukiman, perkantoran hingga titik transit.

Model tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi untuk mengatur operasional, rute, pengiriman, serta membaca data permintaan.

“Kami percaya masa depan kopi bukan hanya tentang membangun lebih banyak kedai, tetapi tentang bagaimana kopi bisa hadir lebih dekat dengan konsumen,” ujar Yoshua Tanu, Co-Founder sekaligus CEO Jago Coffee.

Menurut Yoshua, gerobak listrik memungkinkan titik penjualan dipindahkan mengikuti kebutuhan konsumen, sementara teknologi membantu perusahaan mengelola model tersebut secara lebih efisien.

Tiga Founder, Tiga Keahlian

Kekuatan Jago Coffee juga terletak pada kombinasi pengalaman ketiga founder.

Yoshua Tanu merupakan Co-Founder dan CEO. Ia memiliki pengalaman kuat di industri kopi dan tercatat sebagai tiga kali juara Indonesia Barista Championship serta salah satu pendiri Common Grounds Coffee Roastery.

Christopher Oentojo, sebagai CTO dan Co-Founder, membawa pengalaman di bidang teknologi. Ia memiliki latar belakang dari Dropbox hingga GoTo dan memimpin pengembangan platform teknologi Jago Coffee yang menopang pengelolaan armada.

Sementara Daniel Sidik, CMO/COO dan Co-Founder, bergabung pada 2022. Sebelum bergabung dengan Jago Coffee, Daniel memiliki pengalaman membangun Reddog hingga mencapai sekitar 50 gerai waralaba dalam dua tahun.

Perpaduan antara pengalaman industri kopi, pengembangan bisnis, dan teknologi menjadi bagian penting dari model Jago Coffee.

Bukan Sekadar Jual Kopi

Jago Coffee juga mengembangkan konsep kemitraan melalui Jagoan Academy. Program tersebut memberikan pelatihan kepada para mitra melalui kelas daring dan ujian praktik.

Menurut perusahaan, proses onboarding dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam. Para mitra yang disebut “Jagoan” kemudian menjalankan armada dengan standar merek dan teknologi yang sama.

“Yang kami bangun bukan hanya armada kafe bergerak, tetapi budaya wirausaha mikro generasi baru: para Jagoan,” kata Yoshua.

Dengan pendekatan tersebut, Jago Coffee tidak hanya membangun jaringan penjualan kopi, tetapi juga menciptakan model kewirausahaan mikro yang terintegrasi dengan teknologi dan mobilitas.

Pendanaan dan Pertumbuhan

Perkembangan model bisnis tersebut turut menarik perhatian investor.

Jago Coffee telah menghimpun pendanaan lebih dari US$20 juta dan mencapai valuasi sekitar US$63,5 juta, setelah memperoleh pendanaan Seri B sebesar US$12,5 juta pada Februari 2026.

Perusahaan menawarkan minuman pada kisaran Rp8.000 hingga Rp12.000 serta layanan pemesanan melalui aplikasi tanpa biaya pengantaran, menurut keterangan perusahaan yang dikutip sejumlah media.

Angka tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah konsep yang berawal dari dua prototipe gerobak listrik berkembang menjadi bisnis ritel kopi berbasis teknologi.

Menembus Jaringan Global Endeavor

Pencapaian terbaru tiga founder Jago Coffee terjadi di Montreal.

Dalam International Selection Panel Endeavor, Yoshua, Christopher, dan Daniel mempresentasikan bisnis Jago Coffee di hadapan enam panelis dari Amerika Serikat, Inggris, Brasil, dan Kanada.

Menurut Endeavor Indonesia, seleksi tersebut tidak hanya melihat angka pertumbuhan perusahaan. Kualitas founder, model bisnis, strategi, kemampuan eksekusi, serta peluang pasar juga menjadi bagian dari penilaian.

Secara global, lebih dari 10.000 kandidat disaring sepanjang 2025. Sebanyak 117 kandidat mencapai tahap ISP dan 88 di antaranya kemudian terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur.

Dengan terpilihnya Yoshua, Christopher, dan Daniel, Jago Coffee kini masuk dalam jaringan global Endeavor yang menurut database Endeavor mencatat Jago Coffee sebagai perusahaan sektor Food & Beverage/Food Service yang terpilih pada 2026.

Dari Kopi Keliling ke Model Retail Masa Depan

Jago Coffee pada akhirnya membawa gagasan yang lebih besar dari sekadar menjual secangkir kopi.

Modelnya mempertemukan mobilitas, teknologi, kemitraan, dan ritel dalam satu ekosistem. Gerobak listrik menjadi titik penjualan yang bisa bergerak, teknologi menjadi sistem pengelolanya, sementara para “Jagoan” menjadi bagian dari jaringan usaha di lapangan.

Bagi tiga founder Jago Coffee, perjalanan dari dua prototipe gerobak listrik menuju jaringan bisnis global menunjukkan satu hal: inovasi dalam industri kopi tidak selalu berarti membuka kedai yang lebih besar.

Terkadang, inovasi justru berarti membawa kedai lebih dekat kepada konsumen.

Dan dari situlah perjalanan tiga founder Jago Coffee memasuki babak berikutnya dari bisnis kopi bergerak di Indonesia menuju jejaring kewirausahaan global. (andif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *