Oleh: Syahril Syam *)
Menjaga praktik dzikir dan shalat dengan benar sangat penting agar ibadah tidak bergeser dari fungsinya yang hakiki. Tanpa penjagaan ini, dzikir dan shalat mudah berubah menjadi klaim pengalaman spiritual (“saya merasakan ini”, “saya mencapai itu”), memicu ego spiritual yang halus, dan melampaui batas pengetahuan manusia tentang Tuhan.
Dalam kerangka yang aman dan jujur, ibadah justru berfungsi untuk menata diri manusia, bukan untuk membangun narasi tentang “pengalaman” Allah. Karena itu, perlu disadari sejak awal bahwa Allah bukan objek pengalaman manusia. Allah tidak bisa “dirasakan”, tidak bisa “dialami” seperti emosi, dan tidak bisa “dihadirkan” oleh usaha batin manusia. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah beribadah sesuai batasnya sebagai makhluk.
Nama-nama Allah, yang kita baca dalam dzikir dan shalat, berada pada wilayah makna. Dalam istilah sederhana, itu adalah makna yang dipahami dan disadari oleh akal – wilayah pengetahuan konseptual, bukan pengalaman langsung tentang Dzat Allah. Ketika seseorang menyebut “Ar-Rahman” atau membaca ayat dalam shalat, yang hadir bukanlah Allah sebagai objek yang dialami, melainkan bacaan itu sendiri, makna katanya, dan dampak psikologis yang muncul di dalam diri. Maka, kehadiran (hudhur) dalam ibadah bukanlah “merasakan Allah”, melainkan hadir penuh dalam proses ibadah yang sedang berlangsung. Hudhur di sini berarti tidak mengklaim apapun tentang Allah, melainkan sadar bahwa diri sedang beribadah.
Hudhur yang aman dan sehat saat dzikir dan shalat bukan ditandai oleh pernyataan seperti “saya merasakan kebesaran Allah” atau “saya memahami hakikat sifat Allah”. Pernyataan semacam ini, meskipun terdengar religius, sebenarnya sudah masuk ke wilayah klaim yang melampaui batas manusia. Hudhur yang tepat justru sederhana: membaca Nama, menyadari bahwa makna sedang hadir di dalam kesadaran, lalu tidak mengambil alih makna itu sebagai prestasi batin. Bahasa awamnya bisa dirumuskan seperti ini: “Saya sedang menyebut Nama. Makna itu muncul. Saya tidak menguasainya, tidak menilainya, dan tidak menjadikannya milik saya.” Dalam sikap seperti inilah hudhur terjaga.
Dengan pendekatan ini, ukuran kehadiran bukanlah kuatnya rasa, melainkan diamnya klaim. Jika dalam dzikir atau shalat muncul rasa haru, takut, tenang, atau tersentuh, itu wajar sebagai efek samping emosional. Emosi tersebut boleh ada dan tidak perlu ditekan. Namun, emosi itu tidak boleh dijadikan ukuran kedekatan dengan Allah atau bukti keberhasilan spiritual. Sama seperti seseorang yang membaca puisi indah lalu merasa tersentuh – yang terjadi adalah efek psikologis dari makna kata, bukan pengalaman langsung terhadap pengarangnya. Dengan memahami hal ini, praktik dzikir dan shalat tetap rendah hati, aman secara epistemik, dan terhindar dari jebakan ego spiritual yang halus namun berbahaya.
Oleh sebab itu, menjaga niat agar ibadah semata-mata karena Allah menjadi fondasi yang sangat penting. Niat ini menempatkan seseorang pada sikap batin yang jujur dan aman: “Saya tidak sedang mencari rasa tertentu, pengalaman batin khusus, atau makna istimewa. Saya hanya membiarkan ibadah berlangsung sebagaimana mestinya.” Dengan niat seperti ini, dzikir dan shalat tidak dijadikan alat untuk mengejar sensasi, melainkan dijalani sebagai ketaatan yang sederhana. Ibadah tidak dipaksa menghasilkan apapun; ia cukup dijalankan.
Dalam praktik membaca atau berdzikir, sikap yang sehat sebenarnya sangat biasa dan natural. Bacaan berjalan normal sebagaimana tuntunan ibadah. Makna dari bacaan boleh saja muncul di pikiran atau perasaan, tetapi tidak perlu ditahan, dipelihara, atau didalami secara berlebihan. Jika kemudian muncul rasa haru, tenang, takut, atau khusyuk, itu diperlakukan sebagai efek psikologis yang lewat. Sama seperti ketika mendengar musik yang menyentuh hati – emosi muncul, lalu berlalu. Tidak ada kewajiban untuk menilai, memperbesar, atau menyimpulkan apapun dari rasa tersebut.
Karena itu, penting untuk tidak menilai kualitas ibadah dari kuat atau lemahnya rasa yang muncul. Ibadah juga tidak boleh dijadikan dasar untuk menyimpulkan “kedekatan dengan Allah”, apalagi membandingkan pengalaman batin diri sendiri dengan orang lain. Lebih jauh lagi, pengalaman semacam itu tidak perlu diceritakan sebagai indikator spiritualitas. Ketika pengalaman batin dijadikan cerita pembuktian, di situlah ego spiritual mulai bekerja secara halus, seringkali tanpa disadari.
Di sinilah pentingnya membedakan antara makna aman dan makna menipu. Makna aman adalah makna yang muncul lalu berlalu dengan sendirinya. Ia tidak menuntut kesimpulan apapun, tidak membuat seseorang merasa istimewa, tidak mengubah identitas diri (“aku sekarang lebih tinggi”), dan tidak perlu dibicarakan. Contohnya sederhana: “Ada rasa tenang” atau “Ada kesadaran tentang kebesaran.” Kalimat ini hanya deskripsi singkat tentang apa yang lewat di batin, tanpa klaim lebih jauh.
Sebaliknya, makna menipu adalah makna yang ingin dipastikan kebenarannya, ingin dijelaskan atau disebarkan, dan perlahan membuat seseorang merasa “lebih dekat”, “lebih paham”, atau “lebih tinggi” dari orang lain. Makna seperti ini kemudian dijadikan ukuran spiritualitas dan bahkan menimbulkan ketergantungan emosional. Contoh yang bermasalah adalah kalimat seperti: “Ini tanda aku diterima” atau “Ini level tertentu”. Pada titik ini, makna tidak lagi sekadar disadari, tetapi diangkat menjadi klaim tentang diri dan Tuhan.
Yang dimaksud dengan “makna dipercaya” yang bermasalah adalah ketika pengalaman batin diubah menjadi klaim tentang realitas, diri, atau Allah. Misalnya: “Karena aku merasa tenang, berarti aku dekat dengan Allah”, atau “Karena aku mengalami ini, berarti pemahamanku benar”, bahkan sebaliknya, “Karena aku tidak merasakan apa-apa, berarti ibadahku gagal.” Di sini, makna pengalaman subjektif dijadikan indikator kebenaran metafisis. Inilah bentuk “makna dipercaya” secara keliru.
Padahal, pengalaman batin selalu bersifat subjektif, sangat mudah dipengaruhi kondisi emosi, situasi tubuh, dan lingkungan, serta mudah dimanfaatkan oleh ego. Karena itu, pengalaman tidak pernah bisa menjadi bukti kebenaran ontologis tentang Allah atau kedudukan diri di hadapan-Nya. Sikap yang aman dan dewasa adalah: makna disadari, tetapi tidak dipegang. Ia dilihat, lalu dilepas.
Kalimat pengaman yang sederhana namun penting untuk terus diingat adalah: “Makna boleh ada, klaim tidak.” Dan juga: “Rasa boleh ada, kesimpulan tidak perlu.” Dengan sikap ini, dzikir dan shalat tetap jernih, rendah hati, dan selaras dengan batas pengetahuan manusia.
@pakarpemberdayaandiri






