Oleh: Syahril Syam *)
Toxic positivity adalah sikap memaksakan diri atau orang lain untuk selalu berpikir positif dalam segala keadaan, bahkan ketika sedang mengalami kesedihan, kehilangan, trauma, atau krisis hidup. Sekilas terlihat baik dan optimistis, tetapi secara psikologis sikap ini bisa menjadi bentuk penyangkalan terhadap kenyataan emosional yang sedang terjadi.
Yang menjadi masalah bukanlah berpikir positif itu sendiri. Berpikir positif pada tempatnya adalah hal yang sehat. Masalah muncul ketika pikiran positif digunakan untuk mengabaikan emosi negatif, menekan pengalaman sulit, atau menolak bahwa penderitaan itu nyata dan valid.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat seperti, “Sudah, jangan sedih. Bersyukur saja,” atau “Semua pasti ada hikmahnya,” atau “Kamu kurang positif saja.” Kalimat-kalimat ini terdengar menenangkan dan religius. Tetapi jika diucapkan pada saat yang tidak tepat, ia justru melewati pengalaman batin yang sedang dialami seseorang. Ia seperti langsung meloncat ke solusi tanpa memberi ruang bagi rasa yang sedang muncul.
Misalnya, seseorang baru saja kehilangan pekerjaan. Respons yang sehat adalah mengakui bahwa situasi itu memang berat. Misalnya dengan berkata, “Pasti berat ya. Wajar kalau kamu sedih.” Kalimat ini sederhana, tetapi ia mengakui kenyataan. Ia memberi validasi bahwa kesedihan adalah respons yang manusiawi. Sebaliknya, jika langsung dikatakan, “Sudah, jangan sedih. Pasti ada hikmahnya,” maka kesedihan yang wajar itu seakan tidak diberi tempat. Rasa yang sedang terjadi tidak diakui, melainkan ditutup oleh nasihat. Seolah-olah kesedihan itu tidak boleh ada.
Secara ilmiah, penekanan emosi bukanlah hal yang netral. Dalam penelitian psikologi, dikenal istilah emotional suppression, yaitu usaha sadar untuk menekan atau menyembunyikan emosi. Berbagai studi menunjukkan bahwa ketika seseorang menekan emosinya, sistem saraf simpatis – yang berhubungan dengan respons stres – tetap aktif. Denyut jantung bisa meningkat, hormon stres seperti kortisol naik, dan tubuh tetap berada dalam mode siaga. Di luar mungkin terlihat tenang dan tersenyum, tetapi di dalam, sistem biologis masih bekerja keras. Tubuh tidak serta-merta ikut “positif” hanya karena pikiran dipaksa positif.
Selain berdampak pada tubuh, penekanan emosi juga dapat mengganggu hubungan sosial. Orang yang terbiasa menekan perasaan cenderung kurang autentik dalam berinteraksi. Orang lain bisa merasakan jarak emosional, karena ada bagian diri yang tidak diungkapkan dengan jujur. Lama-kelamaan, hubungan menjadi dangkal atau terasa tidak sepenuhnya tulus.
Dari sisi perkembangan makna hidup, pendekatan psikologi positif gelombang kedua – yang dikembangkan antara lain oleh Paul Wong – menekankan bahwa makna seringkali justru lahir dari penderitaan yang diolah. Pengalaman sulit, jika dihadapi dan diproses, dapat menjadi sumber pertumbuhan. Namun jika penderitaan langsung ditolak dengan kalimat-kalimat positif, maka proses pengolahan itu terhenti. Makna tidak lahir dari penyangkalan. Ia lahir dari keberanian untuk mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan, lalu perlahan memahaminya.
Toxic positivity juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus melalui apa yang disebut spiritual bypassing. Ini adalah kecenderungan menggunakan konsep spiritual untuk menghindari menghadapi luka psikologis. Misalnya seseorang berkata, “Saya sudah pasrah,” padahal sebenarnya ia sedang menghindari rasa takut atau kecewa yang belum diproses. Spiritualitas yang sehat membantu seseorang menghadapi kenyataan dengan lebih matang. Tetapi jika konsep seperti syukur, ikhlas, atau pasrah digunakan untuk menekan rasa, maka ia berubah menjadi alat pelarian, bukan alat pertumbuhan.
Dalam jangka panjang, toxic positivity dapat merusak keaslian diri. Seseorang mulai merasa bahwa ia tidak boleh sedih, tidak boleh marah, tidak boleh kecewa. Ia merasa emosinya sendiri adalah tanda kelemahan atau kurang iman. Dari sini muncul rasa malu terhadap perasaan sendiri. Terjadi jarak antara apa yang benar-benar dirasakan dan apa yang “boleh” ditampilkan. Inilah yang bisa disebut sebagai fragmentasi batin: di luar tampak kuat dan optimistis, tetapi di dalam ada tekanan yang tidak pernah diakui.
Padahal secara biologis dan psikologis, emosi negatif bukanlah kesalahan. Kesedihan memberi sinyal adanya kehilangan. Marah memberi sinyal adanya batas yang dilanggar. Takut memberi sinyal adanya ancaman. Semua emosi memiliki fungsi adaptif dalam sistem saraf manusia. Mengakui emosi bukan berarti menyerah pada emosi. Itu berarti membaca sinyal yang diberikan oleh tubuh dan jiwa.
Sikap yang lebih sehat bukanlah menolak rasa, dan bukan pula tenggelam tanpa arah dalam rasa. Sikap yang sehat adalah mengakui terlebih dahulu apa yang sedang terjadi di dalam diri. Mengatakan, “Saya memang sedih,” atau “Saya memang kecewa,” tanpa langsung menghakimi diri sendiri. Setelah emosi diberi ruang dan dipahami, barulah optimisme dan pencarian makna bisa muncul secara alami.
Maka yang sebaiknya dilakukan bukanlah menolak emosi negatif, dan bukan pula membiarkannya menguasai diri. Sikap yang lebih sehat adalah mengakui, mengolah, lalu mengarahkan emosi secara sadar. Secara sederhana, ada tiga langkah yang bisa dilakukan. Pertama, Akui Emosi Apa Adanya. Jika sedih, katakan dalam hati, “Saya sedang sedih.” Jika kecewa, akui, “Saya kecewa.” Tidak perlu langsung mencari hikmah. Tidak perlu langsung memaksa diri bersyukur. Pengakuan ini penting karena emosi adalah sinyal biologis. Sistem saraf perlu merasa bahwa sinyalnya didengar, bukan ditolak. Penelitian tentang regulasi emosi menunjukkan bahwa memberi label pada emosi (affect labeling) justru membantu menurunkan aktivasi amigdala, yaitu bagian otak yang terkait dengan respons ancaman. Artinya, mengakui emosi secara sadar bisa membantu menenangkan sistem saraf.
Kedua, Beri Ruang untuk Merasakan tanpa Berlebihan. Memberi ruang bukan berarti larut tanpa batas. Ini berarti mengizinkan diri merasakan sensasi di tubuh – misalnya dada terasa berat, tenggorokan terasa sesak – tanpa langsung menghakimi. Tarik napas perlahan. Sadari bahwa emosi bersifat sementara. Dalam fisiologi, gelombang emosi biasanya naik dan turun. Jika tidak ditekan dan tidak diberi bahan pikiran tambahan, ia cenderung mereda dengan sendirinya.
Ketiga, Baru Kemudian Mencari Makna atau Langkah ke Depan. Setelah emosi cukup stabil, barulah bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari?” atau “Langkah kecil apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Di tahap ini, berpikir positif menjadi sehat karena ia lahir dari penerimaan, bukan dari penyangkalan. Optimisme yang sehat tumbuh di atas realitas yang diakui, bukan di atas rasa yang ditekan.
Dalam konteks relasi, yang sebaiknya dilakukan ketika orang lain sedang menderita adalah validasi terlebih dahulu, bukan nasihat. Katakan, “Saya bisa mengerti ini berat,” atau “Wajar kalau kamu merasa begitu.” Validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan, tetapi mengakui pengalaman emosionalnya. Setelah itu, barulah jika dibutuhkan, tawarkan perspektif atau solusi.
Dalam konteks spiritual, syukur dan pasrah tetap penting. Namun keduanya sebaiknya hadir setelah emosi diproses. Syukur bukan untuk menutup sedih, tetapi untuk menyeimbangkan setelah sedih diakui. Pasrah bukan untuk menghindari takut, tetapi untuk menyerahkan hasil setelah usaha dan pengolahan batin dilakukan. Intinya, yang sehat adalah integrasi: emosi diakui, tubuh didengar, pikiran diarahkan, dan nilai dijadikan panduan. Bukan memaksa diri selalu cerah, melainkan berani jujur terhadap gelap, lalu menyalakan cahaya secara sadar.
@pakarpemberdayaandiri






