Oleh: Syahril Syam *)
Kalau kita membaca kisah dalam Al-Qur’an tentang Adam dan Iblis, ada satu momen penting yang sangat menarik untuk dipikirkan. Dalam QS. Al-A‘raf [7]:12, Allah SWT bertanya kepada Iblis, “Apa yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku memerintahkanmu?” Iblis menjawab dengan penuh kesombongan: “Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia dari tanah.”
Dari jawaban ini terlihat jelas bahwa alasan Iblis menolak sujud bukan karena tidak paham perintah, tetapi karena ia merasa lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan Adam. Ia membandingkan asal-usul penciptaan, lalu menilai dirinya lebih hebat.
Dalam bahasa sederhana, Iblis tidak mau tunduk karena egonya lebih besar daripada ketaatannya. Ia merasa gengsi untuk mengakui kedudukan makhluk lain, meskipun Allah SWT yang memerintahkan. Jadi, yang membuat Iblis menolak sebenarnya adalah kesombongan yang muncul dari pikirannya sendiri – perasaan lebih unggul, lebih layak, dan lebih hebat. Sikap ini menunjukkan bahwa keangkuhan bisa menutup hati dari kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang langsung dari Sang Maha Sempurna.
Apakah Iblis menggunakan akalnya untuk menolak perintah dengan berdalih bahwa ia lebih mulia dibandingkan Adam? Untuk menjawabnya, mari kita lihat hasil penelitian neurosains. Dalam kondisi normal, otak bagian Prefrontal Cortex (PFC) – yang berada di belakang dahi – berfungsi sebagai pusat kendali. Di sinilah kita menimbang pilihan, merencanakan tindakan, mengendalikan emosi, dan membuat keputusan rasional. PFC biasanya bekerja untuk mengatur respon dari sistem limbik, yaitu bagian otak yang berhubungan dengan emosi (termasuk amygdala yang sangat cepat bereaksi terhadap ancaman atau rangsangan emosional).
Dengan mekanisme ini, manusia bisa menahan diri, tidak langsung bertindak mengikuti dorongan emosi atau hawa nafsu, melainkan menimbang baik-buruk dan dampak jangka panjang.
Namun, ketika emosi sangat kuat – seperti marah, takut, iri, atau dorongan nafsu yang intens – terjadi amygdala hijack atau emotional hijacking. Dalam situasi ini, sistem limbik melepaskan reaksi cepat dan kuat sehingga membajak PFC. Akibatnya, alih-alih otak rasional mengendalikan emosi, justru emosi yang memerintahkan otak rasional untuk bekerja sesuai kepentingannya. Inilah yang dalam psikologi disebut motivated reasoning: akal tidak lagi mencari kebenaran objektif, melainkan dipakai untuk membenarkan keinginan atau dorongan yang sudah muncul sebelumnya.
Dengan kata lain, akal menjadi seperti pengacara pribadi bagi hawa nafsu. Ia akan mencari argumen, bukti, atau logika yang kelihatan masuk akal demi mendukung keinginan emosional, sekalipun logika itu lemah atau bias.
Dalam kehidupan sehari-hari: seseorang yang sudah sangat ingin membeli barang mahal akan menggunakan akalnya untuk menyusun alasan “rasional” – misalnya, “toh ini investasi”, atau “aku pantas menghadiahi diriku sendiri”. Padahal, motivasi utamanya adalah keinginan emosional, bukan kebutuhan nyata. Dalam konteks Iblis: ia sudah menolak secara emosional (kesombongan dan gengsi), lalu menggunakan “logika” bahwa api lebih mulia daripada tanah untuk membenarkan penolakannya. Jadi, ia tidak mencari kebenaran, melainkan membuat pembenaran.
Dalam ayat tersebut tampak jelas bahwa Iblis bukan makhluk yang bodoh atau tidak tahu perintah Allah SWT. Ia tahu dengan sangat baik bahwa sujud kepada Adam adalah perintah langsung dari Allah SWT, dan secara akal sehat seharusnya ia tunduk. Artinya, pengetahuan (cognitive awareness) ada pada dirinya. Tetapi, masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada dominasi hawa nafsu – berupa kesombongan, ego, dan rasa lebih tinggi dibandingkan Adam.
Normalnya, akal (Prefrontal Cortex) mengendalikan emosi dan hawa nafsu (sistem limbik), sehingga keputusan diambil dengan pertimbangan jernih. Namun, ketika emosi seperti gengsi, iri, atau kesombongan terlalu kuat, sistem limbik justru membajak otak rasional. Akal kemudian tidak lagi dipakai untuk mencari kebenaran objektif, melainkan untuk membela keinginan nafsu. Begitulah yang terjadi pada Iblis. Ia tahu perintah Allah SWT wajib ditaati (akal/pengetahuan ada), tetapi tetap menolak karena hawa nafsu (kesombongan, keakuan). Dan kemudian membenarkan penolakannya dengan alasan logis versi dirinya: “Aku lebih baik, aku dari api, dia dari tanah.” Jadi, Iblis membangkang bukan karena tidak tahu, tetapi karena ia membiarkan hawa nafsu menundukkan akalnya. Akalnya hanya dijadikan pembela pribadi untuk membenarkan sikap yang sudah diputuskan oleh egonya.
Apa yang dilakukan Iblis ketika menolak perintah Allah SWT sebenarnya sangat mirip dengan perilaku manusia modern. Dalam istilah ilmiah, otak manusia memang cenderung tidak netral ketika berhadapan dengan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya. Bukannya mencari kebenaran objektif, otak justru lebih sering mencari alasan untuk membenarkan apa yang sudah diinginkan atau dirasakan. Hal ini terbukti dalam penelitian oleh Drew Westen dan rekan-rekan (2006) yang dipublikasikan di Journal of Cognitive Neuroscience. Mereka menemukan bahwa ketika orang dihadapkan pada informasi yang bertentangan dengan pandangan politiknya, bagian otak yang biasa dipakai untuk berpikir rasional-analitis (dorsolateral prefrontal cortex) justru tidak dominan. Sebaliknya, bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan rasa puas (ventromedial prefrontal cortex dan reward circuits) yang aktif. Dengan kata lain, akal mereka bekerja bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk membenarkan emosi dan sikap yang sudah dipilih sebelumnya.
Fenomena yang dialami Iblis juga sangat sesuai dengan konsep Cognitive Dissonance dalam psikologi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Leon Festinger (1957) dalam bukunya “A Theory of Cognitive Dissonance”. Intinya, manusia tidak nyaman jika ada konflik batin antara apa yang ia ketahui (pengetahuan atau keyakinan) dengan apa yang ia lakukan atau rasakan. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, otak akan berusaha merasionalisasi atau “memelintir logika” agar keyakinan, emosi, dan perilaku terasa selaras. Jadi, baik dalam kasus Iblis maupun manusia modern, mekanismenya sama: akal tidak dipakai untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menjaga kenyamanan ego dengan membenarkan keinginan nafsu.
Dengan demikian, secara ilmiah, kisah Iblis adalah arketipe dari fenomena universal: pengetahuan tanpa kendali nafsu tidak menjamin ketaatan atau kebenaran. Iblis tahu perintah Allah SWT, tetapi karena kesombongan dan egonya lebih kuat, ia menolak. Setelah itu, ia menggunakan “logika” (api lebih mulia dari tanah) untuk membela keputusan yang sebenarnya didorong oleh hawa nafsu. Mekanisme ini sama dengan manusia modern yang sering ngotot membela pendapatnya, bukan karena benar, melainkan karena egonya tidak rela mengaku salah. Dengan kata sederhana: akal tidak lagi berfungsi sebagai penuntun menuju kebenaran, melainkan sekadar juru bicara bagi nafsu; akalnya tidak salah, tapi disalahgunakan.
@pakarpemberdayaandiri








