Oleh: Syahril Syam *)
Dalam dunia kesehatan, kita mengenal istilah psikosomatik, yaitu ketika kondisi mental atau emosi kita memengaruhi kesehatan fisik. Misalnya, saat seseorang mengalami stres berat, tubuh bisa ikut “protes” dalam bentuk maag kambuh, migrain, atau jantung berdebar tanpa sebab medis yang jelas.
Sebaliknya, ada juga kondisi ketika tubuh memengaruhi keadaan jiwa, yang banyak dibahas dalam neuropsikologi. Ini terjadi ketika gangguan atau kerusakan pada otak memicu perubahan pada aspek mental dan emosional seseorang, seperti emosi yang tidak stabil atau perubahan kepribadian. Jadi, kesehatan jiwa dan tubuh ibarat sistem dua arah – ketika yang satu terganggu, yang lain pasti ikut terpengaruh.
Mengapa bisa demikian? Filsafat Hikmah memberi cara pandang yang cukup revolusioner soal hubungan jiwa dan tubuh. Selama ini banyak orang menganggap keduanya seperti dua entitas yang terpisah total: tubuh itu fisik, bisa diukur dan disentuh; sedangkan jiwa itu nonfisik, bersifat batiniah.
Filsafat Hikmah tidak menolak perbedaan itu dari segi hakikat atau “bahan dasarnya” – tubuh memang materi, sedangkan jiwa bersifat non-materi. Namun, dalam keberadaannya (wujud), keduanya tidak berdiri terpisah, melainkan menyatu secara eksistensial. Jiwa justru terbentuk secara bertahap dari tubuh, lalu berkembang melampauinya. Prosesnya tidak instan, melainkan ber-evolusi lewat interaksi materi: pertama sebagai jiwa vegetatif (mengatur pertumbuhan dan metabolisme seperti pada tumbuhan), lalu naik menjadi jiwa sensorik (kemampuan merasakan dan bergerak seperti hewan), kemudian berkembang menjadi akal praktis (mengatur tindakan dan pilihan), dan akhirnya mencapai akal aktif – tingkat tertinggi sebagai jiwa rasional murni yang tidak lagi bergantung pada materi.
Proses inilah yang disebut sebagai gerak substansial: perubahan mendasar yang terjadi pada inti keberadaan, bukan sekadar perubahan sifat luar. Dengan kata lain, jiwa memang lahir dari materi, tapi begitu berkembang, ia melampaui batas materi tersebut. Meski demikian, ia tetap menyimpan jejak keterhubungan dengan tubuh, sehingga keduanya terus saling memengaruhi selama manusia hidup di dunia. Jadi, kesatuan eksistensial jiwa dan tubuh berarti hubungan keduanya tidak bisa dianalogikan seperti burung yang berada di dalam sangkar. Jiwa tidak “menumpang” di tubuh, melainkan menghayati tubuh secara langsung, dimana tubuh adalah bagian dari pengalaman dirinya sendiri. Semua perasaan, emosi, bahkan pengalaman spiritual, dijalani melalui medium tubuh. Itu sebabnya, setiap pengalaman batin pasti memiliki jejak atau ekspresi biologis.
Ketika seseorang merasa damai dan tenang, detak jantungnya cenderung melambat, pernapasannya menjadi lebih dalam, dan otot-ototnya rileks. Sebaliknya, saat diliputi rasa takut, tubuh akan bereaksi: tangan mungkin berkeringat, suara bergetar, atau lutut melemas. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman jiwa tidak berdiri sendiri, melainkan senantiasa terwujud dalam bahasa tubuh. Dengan pemahaman ini, kesehatan spiritual, mental, dan fisik bukanlah tiga hal terpisah, melainkan satu kesatuan utuh yang saling meneguhkan. Dalam Filsafat Hikmah, realitas tidak dibagi kaku menjadi dua kubu yang terpisah total seperti pada dualisme Cartesian – materi di satu sisi dan non-materi di sisi lain.
Filsafat Hikmah justru melihat seluruh keberadaan sebagai satu kesatuan yang bersifat gradasional, yaitu bertingkat-tingkat dari yang paling lemah hingga yang paling kuat. Pada tingkatan terendah ada materi kasar yang paling terikat ruang dan waktu. Di atasnya, keberadaan menjadi semakin halus dan sempurna: dari bentuk kehidupan fisik, naik ke tingkat jiwa, lalu ke akal murni, dan pada puncaknya adalah Tuhan sebagai Wujud Murni yang tak terbatas.
Dengan cara pandang ini, materi dan ruh bukanlah dua alam yang asing satu sama lain, tetapi dua titik pada satu spektrum keberadaan yang sama. Pandangan gradasional ini membuat hubungan antara tubuh, jiwa, dan realitas spiritual menjadi lebih organik dan saling terhubung, bukan seperti dua dunia terpisah yang tak pernah bersentuhan.
Tubuh dapat dipahami sebagai jiwa dalam bentuk paling rendah (lowest grade of being), sedangkan jiwa adalah tubuh dalam bentuk paling sempurna (highest grade of being). Hubungannya bisa diibaratkan seperti api dan cahaya. Api adalah bentuk material yang menghasilkan panas, sementara cahaya adalah bentuk non-material yang dipancarkan. Keduanya bukan dua hal terpisah, melainkan dua sisi dari satu fenomena. Kesatuan ini berarti, seperti halnya api dan cahaya yang tak mungkin dipisahkan – kalau ada api, pasti ada cahaya dan panas – jiwa dan tubuh juga hadir bersama selama hidup sebagai satu kesatuan eksistensial. Memadamkan api akan menghilangkan cahaya, begitu pula kematian tubuh berarti berakhirnya manifestasi jiwa di dunia materi.
Dengan demikian, jiwa bukanlah “isi” yang menumpang di dalam tubuh, sebagaimana cahaya bukanlah “isi” yang berada di dalam api. Jiwa adalah ekspresi langsung dari keberadaan tubuh pada level wujud yang lebih tinggi, sama seperti cahaya adalah ekspresi langsung dari keberadaan api. Pandangan ini menghapus gambaran bahwa jiwa dan tubuh terpisah seperti wadah dan isi, dan menggantinya dengan pemahaman bahwa keduanya hanyalah bentuk-bentuk berbeda dari satu realitas yang sama. Karena itu, apa yang dialami jiwa akan terwujud dalam tubuh, dan apa yang dialami tubuh akan memengaruhi jiwa.
Misalnya, fenomena kerusakan otak berat – seperti akibat stroke, trauma, atau Alzheimer – sering tampak membawa perubahan permanen pada diri seseorang. Kepribadian bisa berubah drastis, ingatan memudar, bahkan kesadaran diri terganggu. Dari sisi lahiriah, ini terlihat final: orang yang dulunya sabar bisa menjadi mudah marah, atau seseorang bisa kehilangan ingatan jangka panjang dan tak lagi mengenali orang terdekatnya. Namun, kondisi ini tidak bersifat permanen secara ontologis. Jiwa bukanlah benda material yang dapat rusak hanya karena “bagiannya” hilang atau hancur. Yang sebenarnya terganggu adalah jalur manifestasi dan ekspresinya, yaitu hubungan jiwa dengan alat biologisnya, terutama otak. Kerusakan pada otak membuat jiwa kesulitan mengekspresikan kemampuannya di dunia fisik, tetapi substansi jiwa itu sendiri tetap utuh.
Dengan kata lain, jiwa tetap memiliki semua potensi, ingatan, dan kesadaran pada tingkat eksistensial, namun “akses”-nya ke dunia ini terhambat karena rusaknya instrumen yang memfasilitasi interaksi itu. Analogi sederhananya, seperti penyanyi yang suaranya tetap indah, tetapi mikrofon dan pengeras suaranya rusak – pesan tetap ada, hanya salurannya yang terganggu. Otak hanyalah “alat komunikasi” antara jiwa dan dunia fisik. Maka kerusakan otak tidak merusak realitas jiwa itu sendiri, melainkan membatasi manifestasinya di dunia fisik. Bayangkan jiwa sebagai musik yang mengalun di udara, dan otak sebagai speaker yang memancarkannya. Jika speaker rusak – pecah, sobek membrannya, atau koneksinya terganggu – suara musik akan terdengar sumbang, pecah, atau bahkan tidak terdengar samasekali. Namun, musik itu sendiri tetap utuh dan indah di sumbernya.
Ini juga sekaligus menjawab bahwa lokus (tempat) kesadaran bukanlah di otak, melainkan pada jiwa. Lokus kesadaran adalah jiwa itu sendiri yang berevolusi dan bertahap melalui gerak substansial. Jiwa adalah entitas eksistensial yang mengalami perkembangan dalam wujudnya sendiri. Kesadaran bukan “ditempatkan” di otak atau jantung secara spasial, tetapi jiwa sebagai entitas eksistensiallah yang menyadari dan bergerak. Otak adalah benda fisik – tersusun dari neuron, jaringan, dan zat kimia. Segala yang material terikat oleh ruang, waktu, dan hukum fisika.
Kesadaran, sebaliknya, adalah pengalaman batin yang tidak punya bentuk fisik: kita bisa merasakan cinta, ingat masa lalu, atau membayangkan masa depan tanpa ada “bentuk” cinta atau “gambar” masa depan yang secara fisik berada di otak. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran tidak identik dengan otak, melainkan menggunakan otak sebagai media.
Selain itu, kalau otak adalah sumber kesadaran, maka kerusakan total pada bagian tertentu seharusnya memusnahkan kesadaran itu sendiri. Namun, banyak kasus medis – misalnya orang yang mengalami koma, mati suri, atau fenomena near-death experience – menunjukkan bahwa kesadaran dapat tetap ada walau fungsi otak sangat minim.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, ini karena kesadaran “tinggal” pada jiwa, sedangkan otak hanyalah “speaker” yang memancarkan kesadaran ke dunia fisik. Otak bisa diibaratkan seperti pusat pengolah sinyal yang mengatur bagaimana jiwa berinteraksi dengan dunia materi. Ia menerjemahkan “gelombang” kesadaran menjadi pikiran, gerakan, dan respon fisik, serta menangkap informasi dari pancaindra untuk disajikan kembali pada jiwa.
Jika otak rusak, proses terjemahan ini terganggu, sehingga kesadaran seolah melemah atau hilang – padahal secara ontologis, kesadaran di tingkat jiwa tetap ada dan utuh. Dengan kata lain, kesadaran bukanlah produk materi otak, melainkan tingkat eksistensi jiwa itu sendiri. Otak hanyalah “jembatan komunikasi” antara dunia immaterial (jiwa) dan dunia material (tubuh).
@pakarpemberdayaandiri








