Oleh: Syahril Syam *)
Begitu nyatanya wujud itu sehingga seringkali tidak kita sadari. Wujud adalah kenyataan sejati dari segala sesuatu – bukan sekadar bentuk fisik atau yang bisa disentuh, tetapi inti keberadaannya itu sendiri. Sesuatu dikatakan “ada” bukan karena kita melihatnya, tetapi karena ia memiliki wujud. Bayangkan seperti ini: meja di depan Anda, pohon di luar rumah, hewan yang berlari, manusia yang berbicara, bahkan hal-hal yang tak terlihat seperti pikiran, harapan, dan cinta – semuanya bisa disebut “ada” karena memiliki wujud. Dalam bahasa yang lebih membumi, wujud bisa kita pahami sebagai “nyawa keberadaan”. Ia adalah alasan mengapa sesuatu itu nyata. Dan menariknya, wujud itu pun bertingkat. Semakin tinggi tingkatan wujud suatu hal, maka semakin sempurna dan dalam eksistensinya – bukan hanya lebih nyata, tapi juga lebih bermakna.
Memahami wujud adalah memahami apa yang sungguh-sungguh nyata dalam hidup ini. Sedemikian nyatanya wujud itu, namun tidak semua hal memiliki tingkat kenyataan (wujud) yang sama. Dalam pandangan ini, setiap sesuatu memang ada, tetapi kadar keberadaannya berbeda-beda. Batu misalnya, memang ada, tetapi keberadaannya masih sederhana – ia tidak berpikir, tidak merasa, dan hampir tidak memiliki kesadaran.
Manusia berada pada tingkat wujud yang lebih tinggi karena memiliki akal, perasaan, dan kehendak. Bahkan, di antara manusia pun ada perbedaan tingkat wujud. Seorang nabi, yang jiwanya sangat jernih dan dekat dengan kebenaran sejati, memiliki wujud yang lebih sempurna dibanding manusia biasa. Ia tidak hanya hidup secara fisik, tetapi juga hidup secara spiritual pada level yang lebih tinggi.
Dan pada puncaknya, Tuhan adalah Wujud yang paling sempurna, yang tidak bergantung kepada apapun untuk ada. Tuhan adalah sumber dari segala wujud – semua yang ada di semesta ini menerima keberadaannya dari-Nya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, semakin tinggi kesadaran, kebaikan, dan kedekatan suatu hal dengan sumber kehidupan (Sang Maha Sempurna), semakin tinggi pula tingkat wujudnya. Maka, kehidupan ini tentang seberapa dalam, bermakna, dan sempurnakah keberadaan itu.
Sedemikian mendasarnya wujud itu dalam hidup kita sehingga ia selalu menampakkan dirinya sesuai dengan kadar atau intensitas keberadaannya. Wujud bukanlah sesuatu yang seragam pada semua hal; ia hadir dalam berbagai tingkatan, dari yang paling lemah hingga yang paling sempurna. Sama seperti cahaya – kita bisa melihat cahaya lilin, cahaya lampu, dan cahaya matahari. Semuanya memang cahaya, tetapi kekuatan dan pancarannya berbeda-beda. Lilin hanya menerangi sedikit, lampu lebih luas, dan matahari menerangi seluruh bumi.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa sesuatu bisa memiliki jenis yang sama, namun tingkat keberadaannya tidaklah sama. Begitu pula dengan manusia. Kita semua memiliki wujud, tetapi kadar manifestasi wujud dalam diri kita sangat bervariasi. Ada yang wujudnya lemah, tertutup oleh ego, ketidaktahuan, atau keburukan. Ada pula yang wujudnya kuat dan terang – mereka yang sadar, jiwanya luhur, dan hatinya dekat dengan sumber segala keberadaan, yaitu Sang Maha Sempurna. Semakin tinggi kesadaran dan keluhuran kita, semakin terang pula pancaran wujud kita, seperti matahari yang menyinari tanpa batas. Maka, kehidupan bukan sekadar tentang “ada”, tetapi tentang seberapa kuat dan jernih kita memancarkan wujud sejati kita.
Implikasinya, kadar wujud seseorang akan menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya. Orang dengan kadar wujud yang rendah cenderung hidup secara reaktif. Ia mudah cemas, gampang marah, dan sering hanya mengejar kenikmatan fisik semata. Segalanya dilihat dari sisi permukaan. Namun, orang dengan kadar wujud yang tinggi hidup dengan kesadaran mendalam. Ia sabar dalam ujian, mencintai tanpa pamrih, dan mampu merasakan kedamaian bahkan di tengah kekacauan. Ia memandang hidup bukan dari sisi apa yang tampak, melainkan dari makna yang tersembunyi di balik setiap peristiwa.
Semakin tinggi kadar wujud seseorang, semakin luas cara ia merasakan, memikirkan, merespons, dan mengalami dunia. Hidup tidak lagi semata-mata tentang bertahan, tapi tentang menjadi – menjadi versi terdalam dan terjernih dari dirinya sendiri.
Sang Maha Sempurna bukan sekadar keberadaan yang paling tinggi, tetapi Dia adalah keberadaan itu sendiri – wujud yang berdiri sendiri, tidak tergantung pada apapun, dan menjadi sumber dari segala sesuatu yang ada. Dalam pandangan ini, semua tingkatan wujud di bawah-Nya – dari makhluk paling sederhana hingga manusia yang paling mulia – hanyalah pantulan atau cerminan dari sifat-sifat Ilahi.
Semakin tinggi tingkat wujud suatu makhluk, semakin besar kemampuannya mencerminkan sifat-sifat Sang Maha Sempurna seperti kasih, kebijaksanaan, keadilan, dan kedamaian. Artinya, kehidupan ini seperti sebuah tangga wujud, dan semakin kita naik – melalui kesadaran, kebaikan, dan penyucian diri – semakin kita mendekati cahaya sumber itu sendiri.
Oleh sebab itu, menjadi lebih “wujud” bukan sekadar soal hidup atau eksis secara fisik, tetapi tentang naik ke tingkat keberadaan yang lebih tinggi, yaitu hidup dengan kesadaran yang dalam, kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak, serta kasih sayang yang tulus kepada sesama. Semakin kita tumbuh dalam hal ini, semakin nyata pula keberadaan kita, karena kita tidak hanya hadir di dunia ini, tetapi juga memberi makna dan cahaya bagi sekitar.
Tingkat wujud seperti ini ditandai oleh kedekatan yang kuat dengan Sang Maha Sempurna, karena hanya dengan menyatu pada nilai-nilai Ilahi seperti cinta, kejujuran, keadilan, dan ketenangan batin, kita dapat mengalami keberadaan secara utuh. Dengan demikian, menjadi lebih “wujud” berarti menjadi lebih sadar, lebih bijak, lebih penuh cinta, dan lebih terhubung dengan sumber keberadaan itu sendiri, serta mencerminkan sifat-sifat Sang Maha Sempurna dalam setiap aspek keberadaan kita.
@pakarpemberdayaandiri








