Opini  

Kembali ke Norwegia, Drama Korea dan Kaos Panitia

Dr. Mahli Zainuddin Tago, M.Si.

Dr. Mahli Zainuddin Tago, M.Si. (Ketua Prodi MIAI, Pascasarjana- UMY)

Jogja, Senin 8 Juli 2024. Hari ini hari yang seru. Bisa diibaratkan Drakor atau drama Korea. Penerbangan Trans Nusa kami dari Jogja ke Jakarta kembali ditunda. Jadwal semula jam 10.00. Kemarin ditunda ke jam 13.00. Pagi ini datang berita ditunda lagi ke jam 14.00. Padahal jam 18.30 kami harus lanjut terbang dari Jakarta menuju Norwegia. Jadi kami harus sampai di Bandara Soetta paling lambat tiga jam sebelumnya. Penerbangan siang lainnya sudah penuh. Naik KA pagi juga tidak akan terkejar. Semua tiket KA ke Jakarta juga sudah ludes. Alternatif lainnya adalah membawa kendaraan sendiri. Ini membutuhkan waktu sepuluh jam tanpa macet untuk bisa sampai Bandara Soetta. Betapa tergesa-gesanya menjalani proses check-in dan imigrasi. Maka ketegangan meningkat. Rencana bertemu cucu di Norwegia yang sudah matang sejak setahun lalu bisa berantakan pada hari H.

Tetapi sebagai orang beriman kami percaya bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Hati boleh panas tetapi kepala tetap dingin. Dalam hal ini kami diuntungkan oleh dua hal. Pertama, anak dan menantu kami anak-anak global yang melek teknologi informasi. Dengan aplikasi lain pencari tiket mereka bisa melihat masih ada dua seat tersisa menuju Soetta pada jam 11.00. tetapi melalui Batik Air dari Solo. Mereka segera menyambarnya dari Norwegia tempat mereka berdomisili kini. Kedua, tiket yang tersedia tinggal kelas bisnis. Lebih mahal memang. Tetapi kami tidak perlu membeli bagasi tambahan sebagaimana berangkat dengan Trans Nusa. Ini menyesuaikan dengan kuota bagasi penerbangan kami Jakarta-Norwegia. Bagasi tambahan diperlukan untuk dua koper besar seberat setengah kuintal berisi makanan dan mainan untuk anak dan cucu kami.

Pada sisi lain rumah kami sedang diramaikan keluarga besar. Sejak lama Jogja menjadi tujuan utama sekolah bagi orang Pulau Sangkar-Kerinci desa kami. Pendorong utamanya adalah kemakmuran dan kesadaran pendidikan yang tinggi. Pada era 1950-an Ramli kakak sepupuku masuk SMEA di Jogja. Bersama beliau adalah Thabrani dan Ibnu Hajar. Pada era 1970-an Mushlih kakak nomor empatku masuk IAIN Sunan Kalijaga. Beliau diikuti Efendi, Jafni, dan Bastian. Pada 1979 giliran aku bersama Kamdani dan Musdi masuk SMP di Jogja. Pada era 1990-an generasi kemenakanku sekolah atau kuliah di Jogja. Sebagian mereka tinggal di rumah kami. Kini pada era 2020 anak dari para kemenakan ini menersukan tradisi sekolah ke Jogja. Tetapi para cucuku ini lebih banyak tinggal di asrama sekolah masing-masing. Rumah kami lebih sering menjadi tempat transit saja.

Pada Juli 2024 ini beberapa keluarga dari Kerinci dan dari Jepara kembali tinggal di rumah kami. Dari Jepara ada Lia dan Kamal. Mereka yang tadinya mahasiswaku di FAI UMY kini pengantin baru. Keluarga Kamal dari Tanjung Pinang transit beberapa hari di rumah kami dalam rangka pernikahan Kamal-Lia di Jepara. Dari Kerinci ada Ivan, istri, dan tiga anaknya. Ivan adalah anak kakak perempuanku yang lima tahun tinggal bersama kami saat kuliah di UMY dulu. Kini Nabila anak pertama Ivan masuk SMA Muhi dan Najwa anak keduanya masuk Muallimat. Tiga hari setelah kedatangan Ivan kemenakanku lainnya Resi bersama Hendri suaminya juga masuk rumah kami. Mereka mengantar Zahran anak mereka masuk SMA Muhi. Jadi dua cucuku Nabila dan Zahran kini menjadi adik kelas jauhku di SMA Muhi Jogja. Kami beda 42 angkatan.

Rumah kami memang dari semula diniatkan untuk persinggahan kerabat dan sahabat. Orang Kerinci merantau selalu mencari keluarga sebagai tempat transit. Dalam bahasa Kerinci disebut menepat. Menginap di hotel tentu akan memakan biaya tidak sedikit. Dengan menepat di rumah keluarga juga banyak informasi di negeri tujuan bisa diperoleh. Niat kami ini akhirnya menjadi kenyataan. Kami juga sangat bahagia karena seiring waktu kemampuan memuliakan tamu yang singgah di rumah semakin meningkat. Ketika ada waktu aku memastikan membawa mereka jalan-jalan menikmati Jogja Istimewa. Kali ini di sela persiapan menuju Norwegia aku membawa Ivan dan Resi sekeluarga menikmati dua destinasi wisata Jogja yang dahsyat: Obelix Sea View di atas Parangtritis dan Resto The Manglung di atas Piyungan.

Kehadiran Resi-Hendri di rumah kami sekaloigus sangat membantu kami menghadapi situasi menegangkan gara-gara delay Trans Nusa. Mereka dalam kondisi longgar karena Zahran baru akan diantar ke Muhi beberapa hari ke depan. Ketika tahu kami harus terbang dari Solo mereka dengan senang hati mengantar kami. Apalagi lagi Resi belum pernah menginjakan kaki di Solo. Tepat pukul setengah tujuh pagi menggunakan mobil Inova plat BH mereka mengantar kami menuju bandara Adi Sumarmo. Maka ketegangan mencair dan suasana hati kami kembali nyaman. Dalam perjalanan ke Solo di dekat bandara Adisucipto kami sarapan di Soto Pak Saleh yang lezat. Aku bahkan menghabiskan empat potong tempe gurih. Satu jam kemudian kami pun berpisah di Bandara Adi Sumarmo-Solo. Hendri dan Resi menjelajah Solo dan aku bersama istri terbang menuju Jakarta.

Tetapi sebagaimana lagu Minang klasik yang dinyanyikan Ely Kasim hidup itu bak roda pedati. Kadang di atas dan kadang di bawah. Kenyamanan terbang kelas bisnis segera berganti dengan ketegangan baru. Hal ini dimulai di konter check-in Qatar Airlines. Tiket kami menuju Norwegia adalah kelas ekonomi. Tentu ada batasan bagasi. Maksimal 25 kilo per penumpang dan sudah terpakai oleh dua koper besar kami. Bahkan berat masing-masing koper 26 kilo. Masalahnya pada tas jinjing kami. Aku sejak awal sudah mengira ini akan jadi soal. Tiket ekonomi pasti ketat dalam bagasi apalagi pada penerbangan internasional. Tetapi demi cucu istriku Nino (nenek dalam bahsa Kerinci) ingin mencoba keberuntungan. Tahun lalu percobaan ini berhasil melalui Turkish Airline. Ada toleransi bagasi sehingga lebih banyak barang bawaan untuk cucu terangkut sampai ke Norwegia.

Kali ini Nino membawa tiga tas tentengan. Ini di luar koper kabin dan ransel-tas laptop yang sudah penuh sesak. Bawaan ini sebenarnya sudah ketahuan di konter check-in Qatar Airline meski Nino sudah berdiri agak jauh. Kami sempat senang ketika tiga tiga tas tenteng ini aman melalui Imigrasi Bandara. Sehingga kami duduk santai di ruang tunggu boarding. Satu jam kemudian panggilan boarding pun terdengar. Aku kaget. Ternyata petugas boarding adalah orang yang sama dengan petugas di konter check-ini Qatar Airline sebelumnya. Maka tiga tas tenteng Nino pun menjadi sorotan. Untuk menyelesaikan masalah ini kami diminta keluar dari jalur antri. Maka terjadilah negosiasi alot antara Nino sebagai emak-emak sayang cucu melawan orang-orang Qatar Airlines.

Sebelumnya ketika di ruang tunggu boarding kami berkenalan dengan seorang ibu. Beliau sebaya kami, berasal dari Lhokseumawe-Aceh, dan dalam perjalanan menuju Turki. Adiknya bekerja disana. Menurut beliau keberangkatan ke Turki dalam rangka menemui calon suaminya. Beliau dijodohkan sang adik dengan seorang duda Turki berumur 70 tahun. Ibu yang lincah ini beberapa kali ditelepon anaknya yang memantau perjalanannya. Sang anak sebenarnya tidak mengizinkan ibunya menikah lagi di Turki yang jauh. Tetapi sang ibu ini keras hati dan sangat percaya diri. Padahal ini perjalanan perdana ke luar negeri. Beliau tidak bisa berbahasa Inggris dan masih harus transit di Dhoha. Beliau juga bangga bercerita keberhasilannya membawa banyak bawaan tentengan. Jauh melebihi bawaan tentengan Nino.

Maka di jalur boarding terjadi lagi drama Korea. Petugas meminta kami menepi karena masih membawa tiga tas tentengan. Di sebelah kami sudah ada Si Ibu dari Lhokseumawe. Juga seorang bule yang mengalami nasib sama. Mereka nampak mengeluarkan berbagai jurus negosiasi. Petugas Qatar Airline yang ramah ternyata tanpa kompromi. Si Ibu dan Si Bule diberi dua pilihan: mengurangi bawaan atau tidak jadi terbang. Aku lalu menyatakan siap membayar kelebihan bagasi Nino. Masalahnya bagasi yang harus dibayar kesuluruhannya. Bukan kelebihannya saja. Untuk 13 kilo bagasi menuju Oslo biayanya 14 juta Rupiah. Aalamaak. Aku akhirnya memilih meninggalkan lima potong baju kaosku saja. Lima kaos butut sebagai panitia kagiatan yang sudah berusia lebih satu dekade. Dengan begitu aku tidak jadi membayar 14 juta Rupiah untuk Qatar Airlines.

Bergen-Norwegia, 25 Juli 2024
Mahli Zainuddin Tago

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *