Opini  

Pak Muhsin, Jatuh Bangun Pecinta Ilmu

Dr. Mahli Zainudin Tago, M.Si. (Ketua Prodi MIAI, Pascasarjana- UMY)

Dr. Mahli Zainudin Tago, M.Si. (Ketua Prodi MIAI, Pascasarjana- UMY)

Trondheim-Norwegia, 17 Juli 2024. Bakda shubuh notifikasi pesan hapeku bunyi berkali-kali. Ada beberapa agenda penting hari ini. Pertama, kami tim akreditasi sedang berjuang menyiapkan dokumen untuk meraih akreditasi Unggul bagi Prodi MIAI-UMY. Maka tiada hari tanpa Zoom Meeting menyiapkan LKPS dan LED Prodi. Kedua, seorang seniorku menjalani Sidang Terbuka untuk meraih Doktor di Pascasarjana UMY. Ketiga, sebenarnya hari ini umurku berkurang satu tahun. Aku ulang tahun. Tetapi aku tidak punya tradisi merayakannya. Ujian Terbuka Sang Senior lebih membangkitkan banyak memoriku. Memori tentang berbagai kebersamaan yang membuat aku menulis tulisan ini. Sekaligus sebagai katarsis atas kesuntukan menekuni lembar-lembar dokumen akreditasi. Nama beliau H. Muhsin Haryanto. Aku memanggilnya akrab Pak Muhsin.

Perkenalan pertamaku dengan Pak Muhsin terjadi pada 1986. Tahun itu aku tamat SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Jogja. Karena tidak bisa lanjut kuliah aku survival dan bekerja di Madrassah Muallimin Muhammadiyah Jogja. Disini aku bertemu banyak orang baik. Belakangan kami banyak beririsan dalam berbagai kesempatan dan kegiatan. Dari kalangan guru antara lain ada Ustadz Yunahar Ilyas, Pak Hamdan Hambali wakil Direktur, dan Ustadz Ibnu Juraimi Direktur Muallimin masa itu. Tentang mereka aku sudah ceritakan dalam beberapa tulisan terdahulu. Dari kalangan siswa aku dekat dengan Syakir siswa kelas empat asal Makassar. Kini beliau menjadi dekan kami di FAI UMY. Tentang beliau aku juga sudah tuliskan sebuah cerita khusus. Sedangkan dari kalangan alumni antara lain adalah inspirator dari tulisan ini, Pak Muhsin Haryanto.

Kedekatanku dengan Pak Muhsin bertambah karena aku sering ke Kauman. Mbah Basyir kakek Pak Muhsin adalah kyai besar di Kauman. Di Kauman juga pernah kos Ahmad Husni MD teman sekelas Pak Muhsin di Muallimin. Bang Husni pernah kos di kamar yang sama dengan kamarku di rumah Pak Juzan, Kauman GM IV/12. Tetapi beda tahun. Aku masuk bang Husni keluar. Maka di Kauman aku sering bertemu Pak Muhsin. Apalagi saat itu kami sesama santri Pengajian Malam Selasa dan jamaah Masjid Gedhe yang berada di Kauman. Bersahabat dengan Pak Muhsin dan Bang Husni membuat aku merasa tidak sendiri dalam berjuang di rantau. Aku merasa menemukan sosok senior yang mengayomi. Apalagi Pak Muhsin juga orang yang dermawan. Pada suatu waktu selesai shalat berjamaah di Masjid Taqwa aku ditraktir beliau makan soto di Suronatan.

Pada 1986 aku hijrah ke Solo. Nasib baik membawa aku bisa kuliah dengan beasiswa Muhammadiyah di Pondok Shabran-UMS. Maka aku terpisah dengan Pak Muhsin selama lima tahun. Meski demikian setiap ke Jogja aku selalu singgah di Muallimin dan di Kauman. Maka aku sesekali kembali bertemu Pak Muhsin. Di Shabran beberapa temanku ternyata alumni Mulallimin dan Muallimat. Mereka tergabung dalam IKMAMM, ikatan alumni Muallimin dan Muallimat. Tentu mereka semua kenal dengan Pak Muhsin yang mereka panggil Kak Muhsin. Sang Kakak selain cerdas juga terkenal karena pernah menggemboskan sepeda Mbah Mawardi direktur Muallimin kala itu. Apalagi Sang Kakak belakangan menikahi Bu Rowiyah alumni Muallimat siswa kader asal Jember. Maka selama di Shabran hubungan historisku dengan Pak Muhsin terpelihara dengan baik.

Pada 1991 aku kembali ke Jogja. Pada tiga bulan pertama aku mengabdi sebagai PDM Kota Jogja yang membiayai aku kuliah di Shabran. Akupun kembali terlibat di Pengajian Malam Selasa. Kali ini sebagai transkriptor. Tugasku memindahkan rekaman suara penceramah menjadi naskah tulisan. Maka aku banyak meyerap ilmu dari dari pembicara para tokoh Muhammadiyah masa itu. Antara lain Pak AR Ketum PP Muhammadiyah dan Pak Jindar anggota PPM yang juga dosen kami di Shabran. PMS ini juga kembali mendekatkan aku dengan Pak Muhsin. Beliau sering hadir sebagai santri dan sesekali menjadi ustadz. Beberapa bulan kemudian pada Februari 1992 nasib baik menghantarkan aku menjadi dosen UMY. Disini aku kembali bertemu Pak Muhsin. Juga Ustadz Yunahar yang aku panggil Uda Yun yang sudah terlebih dahulu menjadi dosen UMY.

Sebagai kolega sesama dosen di UMY tentu aku makin dekat dengan Pak Muhsin. Apalagi belakangan kami beberapa periode memimpin FAI. Ada periode beliau menjadi atasanku dan ada periode dimana aku harus memikul tanggung jawab menjadi atasan para senior termasuk Pak Muhsin. Apalagi pada 2015 kami menunaikan ibadah haji bersama istri masing-masing. Kami bahkan satu regu di Tanah Suci. Artinya aku satu kamar dengan Pak Muhsin selama empat puluh hari bersama tiga jamaah lainnya Mas Fuad, Bang Narto, dan Pak Gi. Sedangkan para istri kami juga berlima satu kamar. Maka aku makin mengenal senior yang satu ini. Baik dari sisi penampilan keseharian maupun karakter unik yang membuat beliau sedikit berbeda dengan para senior lainnya. Maka selain sebagai kolega aku merasa Pak Muhsin sudah seperti saudara sendiri.

Pak Muhsin adalah orang pintar dan pecinta ilmu sejati. Khususnya ilmu agama. Ini sejalan dengan pendidikan beliau sejak dasar sampai pendidikan tinggi. Selama enam tahun beliau menjadi santri di Muallimin. Lalu kuliah S1 dan S2 di bidang ilmu syariah di IAIN Sunan Kalijaga. Bahkan beliau menjadi murid langsung Prof Mukti Ali ilmuan dan mantan Menteri Agama yng terkenal itu. Ketika aku masih menjadi dosen yunior beliau sudah menyelesaikan masternya dan memperoleh gelar M.Ag. Pak Muhsin mudah memahami teks-teks berbahasa Inggris apalagi berbahasa Arab. Beliau juga suka menulis. Serial tulisannya mengalir di media sosial dan beberapa bukunya pun terbit. Beliau juga seorang mubalig yang banyak diundang dimana-mana. Pengajian beliau selalu bernas karena selalu memiliki rujukan yang kuat.

Tetapi Pak Muhsin mengalami banyak kendala ketika studi S3-nya. Ini juga dialami beberapa seniorku lainnya. Pak A selesai S-3 setelah 8 tahun dan Pak B bahkan setelah dua belas tahun. Bahkan Pak C akhirnya tidak selesai. Padahal mereka adalah orang-orang pintar belaka. Kalau tidak pintar mana bisa masuk S3. Faktor faktor non akademis banyak bermain dalam hal ini. Salah satunya adalah kelancaran konsultasi dengan promotor. Aku ingat nasehat seorang dosen saat kuliah S3 di UGM. Kata beliau ketika kuliah S3 kami mahasiswa adalah mahasiswa. Lupakan status sebagai dosen atau pejabat di kampus masing-masing. Ikuti kata pembimbing walau kadang tidak lebih cerdas dari pada yang dibimbing. Nasehat seperti ini tidak mudah diikuti mahasiswa pintar. Bisa jadi Pak A, Pak B, Pak C, dan Pak Mushin masuk katagori mahasiswa seperti ini.

Disamping pecinta ilmu Pak Muhsin pegiat masyarakat. Jamaah pengajiannya tersebar di berbagai penjuru. Beliau juga penceramah di berbagai kampus serta khatib Masjid Kampus UMY dan Masjid Gedhe Kauman. Beliau juga aktif di media sosial melalui youtube dan FB. Kini beliau Kyai di Asrama Mahasiswa UMY dan Ketua PCM ketika istrinya adalah Ketua PCA Kraton. Meski demikian Pak Mushin hidup sederhana. Kemana-mana berjalan kaki atau menggunakan becak langganan. Belakangan beliau sering menggunakan Gojek atau Grab. Atau naik sedan. Tetapi sebagai penumpang yang disopiri alumni Muallimat istrinya. Dalam hal ini Pak Muhsin tidak senekad aku yuniornya. Aku sudah menaklukkan Jogja-Kerinci. Beliau belum menaklukkan Kampus UMY-Ngadisuryan tempat tinggalnya. Apalagi Jogja-Jember kampung halaman Bu Rowiyah istrinya.

Jogja, 17 Juli 2024. Suasana Ujian Terbuka Promosi Doktor Pak Haryanto berjalan hangat. Banyak kerabat dan sahabat hadir. Antara lain Pak Syukri Fadholi dan Pak Muchlas Abror tokoh Muhammadiyah Jogja. Ucapan tahniah dan doa menghiasi berbagai grup medsos. Rektor UMY Prof Gunawan memimpn sidang. Pak Gun adalah sahabat sejak masa kecil Pak Muhsin. Tentang gaya Pak Muhsin menjawab pertanyaan beliau menulis di grup WA “malah khutbah.” Ustas Syakir dekan kami nampak terharu atas keberhasilan senior kami setelah berjuang belasan tahun dan sempat pindah kampus. Juga hadir Zuly Qodir alumni FAI UMY yang dulu skripsinya diuji Pak Muhsin. Zuly jauh lebih dulu menjadi Doktor dan kini sudah Profesor. Pak Muhsin harus ikhlas dipromotori sekaligus diuji Zuly mahasiswanya dulu. Inilah resiko tidak cepat menyelesaikan studi S3.

Tentu aku sedih tidak hadir pada Ujian Terbuka sahabat rasa kerabat ini. Pertemuan terdekatku dengan beliau terjadi sebulan lalu. Saat itu aku shalat Jumat di Masjid Taqwa Suronatan. Masjid di tengah kampung kota tenang dan khatibnya berkulitas. Pucuk dicinta ulam tiba, khatibnya ternyata Pak Muhsin. Maka aku kembali menikmati khutbahnya yang bernas. Selesai shalat giliranku mengajak beliau makan soto. Tapi kini di Kadipiro. Setelah itu kami menuju Kampus Terpadu UMY. Pada hari beliau Sidang Terbuka aku hanya bisa menulis pesan WA, dari Trondheim, dekat Kutub Utara. “Alhamdu lillaah… Sah, sah, sah. Sebagai yunior dalam berbagai medan dan banyak etape, saya sungguh bangga dan bahagia. Dan siap diajak makan soto lagi. Sebagaimana dulu pada 1986 pernah ditraktir di Suronatan. Tentu bukan soto yang terasa pahit di Terminal Semarang.

Stokkbekken-Trondheim, 18 Juli 2024
Mahli Zainuddin Tago

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *