Oleh: Syahril Syam *)
Kita semua tentu mengenal ayat yang menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”(QS 13:28). Dari perspektif keyakinan Islam, ayat ini jelas benar dan memiliki nilai yang mutlak. Namun, jika kita mengamati kenyataan sehari-hari, kita menemukan fenomena menarik: banyak orang yang sudah berusaha mengingat Allah, melakukan dzikir, doa, atau ibadah rutin, tetapi tetap merasa gelisah, cemas, atau tidak tenang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman ketenteraman hati tidak selalu otomatis muncul hanya karena adanya aktivitas spiritual formal. Oleh sebab itu, kita akan menelusuri lebih dalam: benarkah ayat tersebut benar-benar menghasilkan ketenteraman hati?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami dari mana perasaan – terutama perasaan tenang atau gelisah – muncul dalam diri kita. Perasaan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja; mereka lahir dari berbagai sumber, baik dari dalam diri maupun dari pengaruh luar. Kebanyakan orang perasaannya hadir karena dipicu oleh stimulus eksternal, yaitu segala sesuatu yang datang dari lingkungan sekitar.
Stimulus ini bisa dianggap sebagai “sebab” munculnya perasaan. Perasaan yang muncul akibat stimulus eksternal biasanya bersifat sementara dan kondisional; artinya, mereka tergantung pada konteks dan bagaimana otak kita menafsirkan kejadian tersebut.
Ketika kita melihat seseorang tersenyum, kita cenderung merasa senang. Sebaliknya, jika mendengar kritik atau komentar yang menyakitkan, kita mungkin merasa marah atau sedih. Dalam kasus ini, perasaan adalah akibat langsung dari stimulus, namun sifatnya mudah berubah. Perasaan yang muncul dari stimulus eksternal, baik sensorik maupun psikologis, terjadi melalui proses yang cukup sistematis.
Ketika kita menerima input dari lingkungan – melalui mata, telinga, hidung, kulit, atau lidah – otak segera memproses informasi tersebut. Input ini bisa berupa kata-kata, suara, bau, sentuhan, rasa, atau kejadian tertentu. Selanjutnya, sistem otak, khususnya sistem limbik dan korteks, merespons dengan menimbulkan emosi.
Emosi yang muncul bisa bersifat positif, seperti rasa senang ketika melihat sesuatu yang menyenangkan, atau negatif, seperti marah atau sedih ketika menerima komentar yang menyakitkan. Mengapa hal ini terjadi? Karena otak “menafsirkan” setiap input eksternal dan menghasilkan reaksi emosional sebagai respons. Perasaan ini mudah berubah-ubah, tergantung konteks atau situasi yang sedang dihadapi.
Dengan kata lain, perasaan yang lahir dan bergantung dari stimulus eksternal – berupa kata-kata orang lain, cuaca, berita, atau kejadian tak terduga – sangat rapuh. Sama seperti tubuh yang menggigil sementara saat dingin, perasaan yang lahir dari stimulus eksternal bersifat sementara dan mudah berubah.
Jika kita terus menggantungkan kebahagiaan dan ketenangan hati pada hal-hal di luar diri – seperti pujian, materi, atau situasi tertentu – maka ketenangan itu pasti tidak akan pernah stabil atau bertahan lama. Perasaan yang bergantung pada stimulus eksternal cenderung fluktuatif dan mudah berubah, karena selalu terkait dengan kondisi dan interpretasi saat itu.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa ada sumber lain dari hadirnya perasaan, yang tidak bergantung pada dunia luar. Sumber ini berasal dari dalam diri sendiri – dari makna, keyakinan, dan kesadaran batin yang mendalam. Dengan menyadari sumber internal ini, kita membuka kemungkinan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang lebih stabil, yang tidak mudah goyah oleh perubahan lingkungan atau situasi eksternal.
Di sinilah relevansi ayat “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS 13:28) menjadi jelas. Ayat ini menunjukkan bahwa ketenteraman hati tidak sepenuhnya bergantung pada stimulus eksternal atau kondisi dunia di sekitar kita. Perasaan tenang yang sejati lahir dari sumber internal, yaitu kesadaran dan pengenalan yang mendalam terhadap Sang Maha Sempurna.
Ketika hati benar-benar terhubung dengan makna spiritual, perasaan yang muncul bersifat stabil dan tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan situasi atau lingkungan. Dengan kata lain, mengingat Allah bukan sekadar aktivitas lahiriah seperti membaca dzikir atau doa, tetapi juga menyadari kehadiran-Nya, meresapi makna-Nya, dan membiarkan kesadaran ini menembus setiap lapisan pikiran dan perasaan kita.
Menurut Filsafat Hikmah, jiwa manusia memiliki kapasitas unik untuk menyerap makna hakiki, seperti pengenalan kepada Sang Maha Sempurna atau makrifat. Makna ini tidak berhenti pada pemahaman intelektual semata, melainkan tertanam pada level eksistensi jiwa. Saat makna rohaniah ini mulai “mengisi” jiwa, kesadaran kita meningkat, dan perasaan yang muncul menjadi lebih stabil.
Perasaan yang lahir dari fondasi jiwa ini berbeda dengan perasaan yang dipicu oleh stimulus eksternal. Ia bersifat damai, penuh syukur, dan cinta, karena berasal dari pengenalan hakiki. Mengapa bisa terjadi? Karena jiwa “merasakan” eksistensi dan relasinya dengan makna yang tertanam. Secara alami, makna yang mendalam ini menimbulkan resonansi di dalam jiwa, dan efeknya adalah perasaan yang stabil dan tahan lama.
Untuk mempermudah pemahaman, kita bisa menggunakan analogi sederhana: tubuh yang sehat mendapatkan energi dari nutrisi yang masuk dari dalam, sehingga kita merasa kuat dan nyaman. Begitu pula jiwa yang sarat makna hakiki memperoleh energi dari pengenalan akan hakikat, dan akibatnya muncul rasa damai, stabil, dan tenang.
Dengan demikian, fondasi perasaan yang stabil berada pada tingkat internal – di dalam jiwa – bukan dari luar diri. Perasaan yang lahir dari makna rohaniah sejati merupakan akibat alami dari resonansi jiwa dengan makna tersebut. Artinya, perasaan tidak lagi tergantung pada kondisi atau kejadian di luar diri, tetapi muncul karena “fondasi” makna yang tertanam dalam jiwa.
Wujud jiwa yang telah “diwarnai” oleh makna hakiki menghasilkan efek nyata: stabilitas emosional, rasa damai, dan energi positif yang terus mengalir. Makna diibaratkan sebagai benih yang ditanam dalam jiwa, sedangkan perasaan adalah buah yang tumbuh secara alami dari benih tersebut. Semakin kuat dan murni benih yang tertanam, semakin stabil dan manis buah yang dihasilkan.
Dari sudut pandang neurosains, perasaan kita muncul ketika otak menafsirkan berbagai input, baik dari lingkungan maupun dari pemikiran internal. Ketika kita hanya bergantung pada stimulus eksternal – seperti pujian, materi, atau kejadian tertentu – reaksi emosional yang timbul bersifat sementara dan fluktuatif, karena tidak ada “landasan internal” yang kuat untuk menstabilkannya.
Namun, ketika kita mengingat Allah dengan kesadaran penuh, terjadi proses berbeda di dalam otak dan jiwa. Dzikir atau doa yang dilakukan dengan pemahaman dan makna mendalam akan mengaktifkan pusat-pusat neural yang terkait dengan perhatian, fokus, dan regulasi emosi, termasuk sistem limbik yang mengatur perasaan. Selain itu, kesadaran rohaniah menumbuhkan rasa syukur dan pengakuan terhadap kebesaran Sang Maha Sempurna, yang menimbulkan efek menenangkan secara fisiologis, seperti menurunnya hormon stres kortisol dan meningkatnya rasa nyaman serta damai.
Dengan kata lain, mengingat Allah bukan hanya ritual lahiriah, tetapi juga proses internal yang menanamkan makna, keyakinan, dan kesadaran yang mendalam ke dalam hati. Ketika makna ini tertanam, hati menjadi sumber ketenteraman yang stabil, yang tidak mudah tergoyahkan oleh perubahan lingkungan atau kondisi eksternal. Ayat ini dengan demikian menegaskan prinsip penting: ketenangan hati yang sejati lahir dari dalam, melalui kesadaran dan pengenalan rohaniah, bukan dari hal-hal di luar diri yang sifatnya sementara.
Ketika hati benar-benar mengenal Sang Maha Sempurna, jiwa secara alami “merasakan” hubungan eksistensial yang mendalam dengan-Nya. Mengenal Allah di sini berarti memahami realitas wujud tertinggi dari segala yang ada, menyadari bahwa seluruh eksistensi bergantung sepenuhnya pada-Nya. Kesadaran ini membangkitkan apa yang bisa disebut kesadaran hakiki, dan bersamaan dengan itu, muncul perasaan damai yang mendalam.
Menyadari Allah sebagai sumber wujud dan realitas tertinggi menanamkan makna kebergantungan, ketundukan, dan kesatuan eksistensial dalam jiwa. Ketika kita menghayati Nama-nama-Nya – seperti Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Kuasa – makna cinta, keadilan, dan rasa aman muncul secara alami di dalam jiwa. Perasaan ini bukan hasil dari kondisi luar atau stimulus eksternal, melainkan resonansi alami jiwa terhadap makna yang tertanam. Dengan kata lain, ketenangan, cinta, dan rasa aman lahir secara spontan ketika jiwa selaras dengan makna hakiki dari pengenalan Allah.
Studi neurosains menunjukkan bahwa ketika kita fokus pada makna spiritual, terjadi perubahan nyata di otak yang mendukung ketenangan dan kestabilan emosional. Aktivitas amigdala, pusat otak yang terkait dengan stres dan respons emosional negatif, menurun. Sementara itu, aktivitas prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengendalian diri, pemikiran rasional, dan fokus, meningkat. Akibatnya, perasaan damai, tenang, dan fokus menjadi lebih kuat dan tahan lama. Artinya, pengenalan dan fokus pada makna spiritual – mengenal Allah atau menghayati Nama-nama-Nya – tidak hanya memberikan efek batiniah secara rohaniah, tetapi juga menimbulkan perubahan fisiologis yang mendukung kestabilan emosional.
Dengan demikian, ketenteraman hati adalah akibat alami dari makna yang tertanam di jiwa. Stabilitas perasaan muncul ketika jiwa benar-benar terhubung dengan realitas hakiki, yaitu pengenalan dan kesadaran akan wujud tertinggi – Sang Maha Sempurna. Makna yang tertanam ini berfungsi menaikkan level kesadaran kita, dan seiring meningkatnya kesadaran, kestabilan perasaan juga meningkat secara signifikan. Hasil dari proses ini adalah munculnya perasaan positif yang tahan uji: damai, syukur, cinta, dan aman.
Perasaan ini tidak fluktuatif seperti perasaan yang dipicu oleh stimulus eksternal, yang sering berubah-ubah sesuai situasi dan konteks. Dengan kata lain, fondasi perasaan yang sejati berasal dari dalam diri – dari resonansi jiwa dengan makna hakiki – bukan dari pengaruh luar yang sifatnya sementara.
@pakarpemberdayaandiri








