JAKARTA, MAJALAH CEO (06/11). — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan PT Pertamina (Persero) terus didorong untuk memperluas jangkauan bisnis melalui peningkatan kualitas produk, penguatan jaringan pemasaran, serta partisipasi dalam berbagai pameran perdagangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing produk lokal sekaligus membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk berkembang menjadi bisnis yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui keikutsertaan UMKM binaan Pertamina dalam SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 4–6 November 2026. Dalam kegiatan tersebut, Pertamina menghadirkan delapan UMKM terpilih untuk memperkenalkan produk unggulan kepada pengunjung, calon pembeli, distributor, serta pelaku industri makanan dan minuman.
Kehadiran UMKM dalam pameran berskala internasional tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperoleh akses pasar yang lebih luas. Selain memperkenalkan produk, para peserta juga dapat menjajaki kerja sama komersial, memahami kebutuhan konsumen, serta membangun hubungan bisnis dengan berbagai pihak yang berpotensi menjadi mitra distribusi.
Keikutsertaan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa produk berbasis potensi lokal memiliki peluang untuk berkembang di tengah persaingan industri. Berbagai produk olahan pangan, kerajinan, dan hasil kreativitas masyarakat dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila didukung inovasi, kualitas produksi, kemasan, serta strategi pemasaran yang tepat.
Salah satu contoh perkembangan tersebut ditunjukkan Naza De Coco dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. UMKM pengolahan air kelapa menjadi nata de coco ini telah memiliki kapasitas produksi mencapai 20 ton per minggu. Sebagian besar produknya dipasarkan melalui skema bisnis ke bisnis atau *business-to-business* (B2B), sehingga mampu menjangkau pelanggan industri dalam jumlah besar.
Perkembangan Naza De Coco juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat setempat. Usaha tersebut melibatkan hampir 50 perempuan di wilayah perdesaan dalam kegiatan produksinya. Keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi salah satu bukti bahwa penguatan usaha kecil dapat menciptakan kesempatan ekonomi yang manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Potensi produk lokal juga terlihat pada Bali Taru Rahayu yang mengembangkan selai berbahan buah-buahan tropis Indonesia. Dengan sekitar 20 varian produk, usaha asal Denpasar tersebut telah berhasil memasok produknya kepada sejumlah hotel berbintang di Bali. Pengembangan jaringan pemasaran diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama dengan sektor perhotelan, restoran, dan industri jasa makanan.
Di luar sektor pangan, sejumlah UMKM binaan juga mengembangkan produk kreatif dengan mengoptimalkan bahan baku dan keterampilan masyarakat daerah. Citra Blacu, misalnya, memanfaatkan kain serta limbah tekstil untuk menghasilkan produk fesyen, dekorasi rumah, dan suvenir. Inovasi tersebut menjadi salah satu cara meningkatkan nilai tambah bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi barang bernilai jual.
Sementara itu, Artistica Jewelry dari Surabaya mengembangkan produk perhiasan perak yang telah dipasarkan ke lebih dari 10 negara. Perkembangan tersebut memperlihatkan peluang industri kerajinan Indonesia untuk menjangkau konsumen internasional melalui penguatan desain, kualitas produk, dan jaringan perdagangan.
Hal serupa dilakukan Lombok Mulya Craft di Nusa Tenggara Barat yang mengembangkan produk kerajinan mutiara dan suvenir khas daerah. Usaha tersebut turut melibatkan perajin serta peternak mutiara lokal sehingga kegiatan bisnisnya memiliki keterkaitan langsung dengan sektor ekonomi masyarakat di daerah.
Dari sisi pencapaian bisnis, UMKM binaan Pertamina yang mengikuti berbagai pameran regional, nasional, dan internasional berhasil membukukan omzet sebesar Rp8,57 miliar sepanjang semester pertama 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan promosi dan perluasan akses pemasaran dapat menjadi salah satu faktor pendukung peningkatan transaksi usaha.
Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan tersebut, Pertamina juga memberikan dukungan melalui pelatihan, fasilitasi sertifikasi, serta pengembangan kemampuan pengelolaan bisnis. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 2.822 sertifikasi telah difasilitasi bagi UMKM binaan. Selain itu, terdapat 579 kegiatan pelatihan melalui Rumah BUMN Pertamina dan 414 kesempatan keikutsertaan dalam pameran.
Berbagai bentuk pendampingan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan UMKM dalam menghadapi persaingan pasar. Pelaku usaha tidak hanya didorong meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan standar mutu, legalitas, pengemasan, pengelolaan keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan pemasaran.
Pertamina juga mengembangkan ruang promosi melalui kegiatan Pertamina SMEXPO Regional Bekasi 2026 yang menghadirkan 50 UMKM dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Aceh. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun komunikasi langsung dengan konsumen.
Penguatan UMKM melalui berbagai kegiatan tersebut memiliki arti penting bagi perekonomian daerah. Ketika usaha kecil mengalami peningkatan permintaan, kebutuhan terhadap bahan baku, tenaga kerja, distribusi, dan layanan pendukung juga berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan lebih banyak masyarakat dalam rantai kegiatan usaha.
Ke depan, pengembangan UMKM perlu terus diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Pemanfaatan teknologi digital, inovasi produk, serta perluasan kemitraan menjadi sejumlah aspek yang dapat membantu usaha kecil mempertahankan pertumbuhan sekaligus meningkatkan daya saing.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan dan terbukanya akses terhadap pasar yang lebih luas, UMKM diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah. Tidak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, keberadaan usaha kecil juga berpotensi memperkuat penyerapan tenaga kerja, mengembangkan potensi lokal, dan menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.(arfi)












