JAKARTA, MAJALAH CEO (30/10). — Industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia mulai memasuki babak baru dengan munculnya peluang bisnis pada sektor infrastruktur pendukung. Perkembangan ini turut menarik perhatian perusahaan modal ventura Init-6, yang didirikan oleh mantan pendiri Bukalapak, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono, melalui investasinya pada startup teknologi Netra Runtime.
Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem teknologi nasional, khususnya dalam pengembangan sistem komputasi yang mampu menunjang operasional berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Infrastruktur AI dinilai semakin penting karena pertumbuhan penggunaan teknologi ini membutuhkan kapasitas pemrosesan yang besar, kecepatan tinggi, serta pengelolaan sumber daya komputasi yang efisien.
Netra Runtime hadir dengan menawarkan teknologi yang berfokus pada optimalisasi inferensi, yaitu tahapan ketika model AI menjalankan perintah dan menghasilkan jawaban berdasarkan data yang diterima. Proses tersebut menjadi fondasi bagi berbagai layanan digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan, terutama aplikasi yang membutuhkan respons cepat dan pemrosesan dalam jumlah besar.
Melalui teknologi yang dikembangkan, Netra berupaya memberikan alternatif bagi perusahaan dalam mengelola kebutuhan komputasi AI. Solusi yang ditawarkan mencakup pengoperasian model menggunakan perangkat keras milik pelanggan maupun melalui layanan komputasi berbasis cloud.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah Netra Cloud, sebuah layanan yang memungkinkan pengguna mengakses kemampuan inferensi AI melalui antarmuka pemrograman aplikasi atau Application Programming Interface (API). Kehadiran layanan ini dapat membantu perusahaan mengintegrasikan teknologi AI ke dalam sistem bisnis tanpa harus membangun seluruh komponen teknis secara mandiri.
Netra juga menyediakan opsi penerapan privat atau *private deployment*. Model ini memberikan fleksibilitas kepada perusahaan untuk menjalankan sistem AI pada lingkungan komputasi yang mereka kendalikan. Pendekatan tersebut relevan bagi organisasi yang membutuhkan pengelolaan infrastruktur, keamanan, serta pemrosesan data sesuai kebutuhan operasional masing-masing.
Dari sisi performa, Netra mengungkapkan bahwa teknologi inferensinya mampu menghasilkan hingga empat kali lebih banyak token per detik dibandingkan sejumlah mesin inferensi open source terkemuka dengan penggunaan GPU yang sama. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan teknologi yang ditawarkan, meskipun hasil kinerja tetap perlu dilihat berdasarkan jenis model, konfigurasi perangkat keras, dan kondisi pengujian.
Perusahaan juga mencatat telah memproses lebih dari 288 miliar token hingga 28 Oktober 2026. Capaian tersebut memperlihatkan aktivitas layanan yang dikembangkan Netra sekaligus menunjukkan besarnya kebutuhan pemrosesan dalam ekosistem aplikasi kecerdasan buatan.
Bagi Init-6, investasi pada sektor ini membuka ruang untuk mendukung perusahaan teknologi yang mengembangkan solusi pada lapisan dasar industri digital. Selama ini, perhatian terhadap AI cenderung terpusat pada pengembangan aplikasi yang langsung digunakan masyarakat. Padahal, keberlangsungan layanan tersebut sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur komputasi yang memadai.
Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono memiliki pengalaman dalam membangun perusahaan teknologi melalui perjalanan Bukalapak. Keterlibatan keduanya dalam Init-6 memperlihatkan kesinambungan aktivitas di sektor ekonomi digital, kali ini dengan perhatian terhadap perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi pendukung kebutuhan industri masa depan.
Peluang pengembangan infrastruktur AI di Indonesia juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap otomatisasi, analisis data, dan layanan digital berbasis model kecerdasan buatan. Sektor perbankan, perdagangan, telekomunikasi, hingga industri kreatif berpotensi menjadi pengguna teknologi tersebut seiring semakin luasnya penerapan AI dalam kegiatan bisnis.
Namun, pengembangan industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan GPU, kebutuhan investasi yang besar, biaya energi, kapasitas pusat data, serta ketersediaan tenaga ahli menjadi faktor yang memengaruhi kemampuan perusahaan dalam membangun infrastruktur AI secara berkelanjutan.
Selain itu, aspek keamanan informasi dan perlindungan data juga menjadi perhatian penting. Perusahaan penyedia infrastruktur AI perlu memastikan sistem yang dibangun mampu memenuhi standar keamanan serta kebutuhan pelanggan, terutama untuk penggunaan di sektor yang mengelola informasi penting.
Dengan meningkatnya perhatian investor terhadap teknologi komputasi, peluang bagi startup lokal untuk mengambil bagian dalam rantai industri AI semakin terbuka. Pengembangan solusi dalam negeri diharapkan dapat memperluas kemampuan teknologi nasional sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia di pasar internasional.
Investasi Init-6 pada Netra Runtime menjadi salah satu perkembangan yang menandai meluasnya arah bisnis teknologi di Tanah Air. Ke depan, keberhasilan industri AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan model yang dikembangkan, tetapi juga pada kemampuan membangun infrastruktur yang kuat, efisien, aman, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.(arfi)












