JAKARTA MAJALAH CEO, (19/10). — Manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan mutu (quality control) terhadap armada komersial hilir yang dipasok oleh mitra pabrikan dalam negeri. Langkah penertiban administrasi dan operasional ini ditempuh guna mengunci jaminan keselamatan publik di tengah lonjakan masif pergerakan penumpang komuter Jabodetabek.
Berdasarkan data kompilasi performa kuartal berjalan yang dirilis otoritas, volume mobilisasi pelanggan Commuter Line sukses mencatatkan lompatan pertumbuhan sebesar 6,02 persen secara tahunan (year-on-year). Akumulasi jumlah pelanggan melesat tajam menyentuh angka 270.891.261 orang dibandingkan periode sebelumnya yang tertahan di level 255.520.949 jiwa.
Akselerasi volume penumpang yang padat modal ini menuntut tingkat keandalan armada yang rigid tanpa toleransi malafungsi. Namun, hasil evaluasi harian di tingkat depo mendeteksi adanya anomali berulang pada tujuh rangkaian (trainset) KRL iE305/CLI-225 buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA yang baru saja selesai menjalani program perawatan bertahap.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa pihaknya mendesak manajemen INKA untuk segera melakukan investigasi forensik guna membedah akar masalah utama (root cause analysis) dari kendala sistem kelistrikan dan propulsi tersebut. KAI menolak opsi perbaikan instan jangka pendek demi menghindari rembetan gangguan jadwal perjalanan kereta (Gapeka) di lintas jam sibuk (rush hour).
“Sembari kami mengapresiasi dan mendukung penuh hasil karya industri perkeretaapian nasional, keandalan aspek keselamatan merupakan parameter mutlak yang tidak boleh ditawar. Ketika satu rangkaian mengalami gangguan teknis di lintasan sibuk seperti Bogor atau Cikarang, efek dominonya langsung mengacaukan ritase transportasi ratusan ribu pelanggan dan merugikan produktivitas ekonomi perkotaan,” tegas Bobby Rasyidin dalam keterangannya, Senin (19/10).
Guna menstabilkan keandalan logistik angkutan urban urban kuartal IV, bauran mitigasi teknis KAI bersama INKA bertumpu pada tiga koridor regulasi operasional strategis:
• Otomatisasi Pelacakan Komponen: Mengerahkan tim teknisi gabungan (joint-engineering) untuk mengaudit berkala sistem propulsi udara, pengereman, dan kelistrikan di Depo Bukit Duri guna meminimalkan indeks pembatalan perjalanan.
• Karantina Unit Bermasalah: Menarik sementara seluruh unit sarana yang terindikasi mengalami degradasi performa ke area isolasi manufaktur untuk mendapatkan penggantian suku cadang bersertifikat resmi.
• Sinkronisasi Manajemen Kontrak Pengadaan: Memperketat implementasi klausul penyerapan unit kereta baru yang didanai korporasi agar setiap kendala manufaktur hilir dikenakan sanksi denda administrasi yang rigid.
Di sisi lain, VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan layanan penapisan arus penumpang di stasiun-stasiun transit utama. Pemko dan regulator menyambut positif desakan audit independen ini demi memastikan hak perlindungan konsumen komuter tetap terlindungi secara aman, transparan, dan berdaulat secara berkelanjutan.(arfi)












