Oleh: Syahril Syam *)
Sesungguhnya diri (jiwa) kita adalah jiwa yang satu, namun juga memiliki beragam kondisi. Perbedaan kondisi jiwa kita menunjukkan bahwa ada proses perjalanan jiwa kita menuju kepada kesempurnaan. Dan karena perbedaan kondisi ini pula, setiap kondisi jiwa menunjukkan tingkatan-tingkatan yang berbeda pula. Perjalanan diri (jiwa) kita inilah yang disebut sebagai Transformasi Kesadaran Diri.
Saya pernah mendengar sebuah kisah nyata tentang seorang pejabat yang begitu arogan. Ia mungkin dikenal baik oleh teman-teman dekatnya, namun ia merasa sombong karena merasa semua kekuatan dan kekuasaan yang diraihnya semata-mata karena dirinya sendiri. Keadaan ini membuat ia merasa sebagai penguasa dan karenanya selalu ingin didengar, cenderung suka memerintah, dan sudah pasti egois (hanya keinginannya yang selalu benar dan mesti diikuti).
Keadaan diri (jiwa) seperti ini sudah pasti rentan stres, karena segala fokusnya hanya pada segala hal di luar dirinya. Semua yang ada di dunia luar mesti diraihnya agar bisa memperkuat kekuatan dan kekuasaannya. Dan berdasarkan penelitian otak, keadaan ini membuat diri menjadi mudah stres, egois, dan bahkan sel tubuhnya pun jalan sendiri-sendiri dan tidak mau bekerjasama. Ia merasa dirinya adalah pemilik kekuatan dan kekuasaan. Inilah model jiwa yang tidak mau tunduk dan mengakui kehambaan. Model jiwa yang justru mempertuhankan dirinya sendiri.
Berangkat dari level jiwa rendah (arogan) yang rentan stres, mudah marah, mudah tersinggung, egois, pendendam, otak dan tubuh tidak koheren, sel tubuh bersifat egois, dan mempertuhankan diri sendiri; maka transformasi kesadaran diri mesti dijalankan oleh setiap manusia agar terjadi pergerakan jiwa dari level yang rendah menuju ke level yang lebih tinggi; dari kecanduan emosional ke kemerdekaan diri; dari derajat rendah menuju kepada kesempurnaan jiwa; dari enggan turun dari tahta diri ke kehinaan dan kehambaan sejati di hadapan Sang Maha Sempurna.
Jika jiwa yang rendah dan arogan membuat seseorang tidak merdeka yang disebabkan oleh kecanduan emosional; dimana hal ini membuat jiwanya senantiasa resah, gelisah, dan tidak bahagia; maka jiwa yang derajat tinggi adalah jiwa yang tenang. Ketenangan jiwa terjadi karena dunia luar diri tidak lagi memengaruhi diri kita, yang disebabkan oleh prefrontal korteks telah sepenuhnya berkuasa atas segala dorongan emosional. Jiwa kita juga tidak lagi merasa memiliki tahta kekuasaan, karena segala hal yang diraih murni dari pemberian Sang Maha Sempurna. Dunia dalam diri menjadi lebih nyata dibandingkan dunia luar diri, sehingga segala hal di dunia luar tidak lagi menjadi penggoda lahirnya respons emosional.
Stres yang sering terjadi karena fokus bersifat sempit dan eksternal, digantikan oleh ketenangan jiwa dan kebahagiaan karena fokus yang bersifat terbuka dan internal. Perasaan arogan dan egois digantikan dengan perasaan hina dan penuh kehambaan di hadapan Sang Maha Sempurna. Inilah keadaan jiwa yang tidak lagi terpenjara oleh berbagai sifat-sifat rendah; melainkan telah menjadi jiwa yang merdeka dan mengakui kemerdekaan jiwa sebagai karunia dari Sang Maha Sempurna. Jiwa yang tenang dan bahagia ini telah melepaskan ketuhanan dirinya dan berganti menjadi sepenuhnya berada dalam ketundukkan mutlak di hadapan Sang Maha Sempurna.
@pakarpemberdayaandiri






