Oleh: Syahril Syam *)
Banyak orang sebenarnya keliru memahami arti “memaklumi”. Mereka merasa sudah memaklumi seseorang karena memilih diam, tidak melawan, atau menahan diri, padahal yang sering terjadi bukanlah penerimaan yang sehat, melainkan penekanan emosi. Di permukaan terlihat tenang, tetapi di dalam hati kemarahan masih aktif, luka batin masih tersimpan, tubuh tetap tegang, dan pikiran terus mengulang kejadian yang menyakitkan.
Emosi itu tidak benar-benar selesai; ia hanya ditekan agar terlihat sabar, agar tidak menimbulkan konflik, atau agar dianggap sebagai orang yang baik. Dalam psikologi, kondisi seperti ini lebih dekat dengan emotional suppression (penekanan emosi), resentment (kedongkolan yang mengendap), dan unresolved anger (amarah yang belum selesai), bukan “memaklumi” dalam arti yang sehat.
Masalahnya, emosi yang ditekan tidak otomatis hilang hanya karena seseorang memilih diam. Secara psikologis, emosi yang tidak diproses sering tetap hidup di dalam sistem saraf dan muncul dalam bentuk lain. Orang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, cepat marah pada hal kecil, merasa lelah secara mental, cemas tanpa sebab yang jelas, sulit tidur, atau mengalami keluhan fisik yang tampaknya tidak langsung berkaitan dengan masalah emosionalnya. Jadi, diam bukan selalu tanda bahwa seseorang sudah selesai dengan lukanya. Bisa jadi diam hanyalah bentuk penahanan, sementara luka, marah, dan kebencian masih bekerja di dalam dirinya.
Di sisi lain, banyak orang juga berkata, “Saya tidak mau memaklumi lagi,” seolah-olah selama ini mereka terlalu baik dan terlalu banyak memberi toleransi. Namun jika dilihat lebih dalam, kalimat seperti itu seringkali bukan berarti mereka sudah memahami masalah dengan jernih, tetapi menunjukkan bahwa mereka sudah sangat lelah, merasa terluka berulang kali, takut disakiti lagi, atau tidak ingin dianggap lemah.
Dalam kondisi seperti ini, kemarahan sering dipertahankan sebagai semacam tameng psikologis. Marah terasa memberi rasa aman, karena kebencian membuat seseorang merasa lebih siap untuk melindungi diri. Padahal, jika kemarahan itu dipelihara terus-menerus, sistem saraf akan tetap berada dalam mode ancaman, seolah tubuh terus siaga menghadapi bahaya meskipun peristiwanya sudah lewat.
Secara ilmiah, kemarahan dan kebencian kronis memang bukan hanya urusan perasaan, tetapi juga berpengaruh pada tubuh. Penelitian di bidang psychoneuroimmunology, neuroscience, dan stress physiology menunjukkan bahwa emosi destruktif yang berlangsung lama dapat meningkatkan aktivasi sistem saraf simpatis, menaikkan hormon stres seperti kortisol, memicu ketegangan otot, meningkatkan proses inflamasi, mengganggu kualitas tidur, dan memperburuk kecemasan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkaitan dengan berbagai keluhan seperti sakit kepala, migrain, tekanan darah tinggi, gangguan lambung, kelelahan kronis, dan pada sebagian orang dapat memperberat keluhan yang berkaitan dengan sistem vestibular seperti vertigo.
Tentu vertigo sendiri tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat dari kebencian, karena penyebab medisnya banyak, seperti gangguan telinga dalam, BPPV, vestibular neuritis, migrain vestibular, atau gangguan saraf. Namun secara ilmiah juga tidak tepat jika mengatakan bahwa emosi tidak ada pengaruh pada tubuh, karena tubuh dan emosi saling memengaruhi secara nyata melalui sistem saraf, hormon, dan respons stres.
Kesalahan terbesar biasanya terjadi ketika seseorang jatuh ke dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah keyakinan bahwa semua emosi harus dipendam demi menjadi orang baik. Akibatnya, kemarahan tidak selesai tetapi mengendap, tubuh menjadi tegang, emosi bisa meledak di kemudian hari, muncul perilaku passive-aggressive, atau keluhan psikosomatik. Ekstrem kedua adalah keyakinan bahwa karena sudah terlalu lama “memaklumi”, maka sekarang lebih baik memelihara kebencian dan menolak memaafkan. Akibatnya, pikiran terus dipenuhi rumination, relasi rusak, sistem saraf terus aktif, dan tubuh ikut menanggung dampaknya.
Padahal jalan yang sehat bukan memendam, dan juga bukan memelihara kebencian. Yang sehat adalah mengakui luka dengan jujur, mengizinkan diri merasakan marah tanpa menyangkalnya, memproses emosi secara sadar, membuat batas yang sehat terhadap perilaku yang melukai, tetapi tidak menjadikan kebencian sebagai tempat tinggal batin. Inilah yang sering disalahpahami: memaklumi bukan berarti membiarkan orang terus menyakiti, memaafkan bukan berarti menghapus batas, dan melepaskan kebencian bukan berarti menjadi lemah. Justru itu adalah bentuk kesehatan psikologis, karena seseorang tidak lagi menyangga hidupnya dengan marah yang menggerogoti dirinya sendiri.
Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam relasi manusia adalah anggapan bahwa “memaklumi” sama dengan “membenarkan”. Karena kesalahpahaman inilah banyak orang takut memaafkan atau melepaskan kebencian, sebab mereka merasa jika mereka memaklumi seseorang, itu berarti mereka sedang menganggap perilaku orang tersebut tidak masalah.
Padahal, dalam pemahaman psikologis yang sehat, memaklumi tidak sama dengan membenarkan. Memaklumi berarti memahami konteks, latar belakang, atau kondisi yang mungkin membentuk perilaku seseorang, tetapi tetap mampu menilai dengan jernih bahwa perilaku itu salah. Seseorang bisa berkata, “Saya paham dia dibesarkan dalam lingkungan keras sehingga emosinya kacau, tetapi tetap saja caranya menyakiti orang lain itu tidak benar.” Inilah bentuk memaklumi yang matang: ada empati tanpa kehilangan penilaian moral, ada pemahaman tanpa kehilangan batas.
Karena itu, memaklumi yang sehat bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi, bukan berarti tidak punya batas, bukan berarti diam terhadap ketidakadilan, dan bukan berarti rela menjadi korban berulang kali. Banyak orang mencampuradukkan antara empati dengan toleransi yang tidak sehat. Mereka berpikir bahwa jika memahami seseorang, maka mereka harus terus menerima semua perlakuannya. Padahal seseorang bisa memahami luka masa lalu orang lain, tetapi tetap berkata “cukup”, tetap membuat jarak, tetap bersikap tegas, dan tetap melindungi dirinya. Dalam psikologi, ini disebut differentiated compassion, yaitu kemampuan untuk tetap memiliki pemahaman tanpa kehilangan batas diri.
Begitu pula dengan memaafkan. Banyak orang menolak memaafkan karena mengira memaafkan berarti melupakan, kembali dekat, membuka akses lagi, atau berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah ada. Padahal memaafkan yang sehat samasekali tidak harus seperti itu. Memaafkan bukan berarti menghapus ingatan, bukan berarti menoleransi perilaku buruk, bukan berarti membiarkan orang yang sama terus melukai, dan bukan berarti harus kembali menjalin relasi seperti dulu. Dalam banyak kasus, memaafkan justru berjalan bersama dengan keputusan untuk menjaga jarak, membuat boundary yang lebih jelas, berhenti memberi akses, atau menjadi lebih tegas dalam melindungi diri. Yang berubah bukan batasnya, tetapi racun emosinya.
Inti dari memaafkan yang sehat sebenarnya bukan untuk membebaskan pelaku, melainkan untuk membebaskan diri sendiri dari beban psikologis yang terus menggerogoti batin. Ketika seseorang tidak memaafkan, seringkali yang terus aktif bukan hanya ingatan tentang kejadian, tetapi juga rumination – pikiran yang berulang-ulang memutar luka, kemarahan, keinginan balas, dan kebencian yang tidak selesai.
Ini membuat sistem saraf seolah terus hidup dalam mode ancaman. Tubuh tetap tegang, pikiran sulit tenang, energi mental terkuras, dan hidup perlahan dipenuhi racun emosi. Dalam psikologi modern, memaafkan yang sehat lebih dipahami sebagai pelepasan beban emosional, pengurangan rumination, regulasi sistem saraf, dan pemulihan kesehatan mental. Artinya, memaafkan bukan terutama tentang orang lain, tetapi tentang keputusan agar hati kita tidak terus menjadi tempat tinggal kebencian.
Jadi, seseorang bisa memaafkan tanpa harus kembali dekat. Bisa memaklumi tanpa harus membenarkan. Bisa memahami tanpa harus membiarkan. Bisa melepaskan kebencian tanpa kehilangan ketegasan. Inilah bentuk kematangan psikologis: hati tidak lagi diracuni oleh kemarahan kronis, tetapi akal tetap jernih dalam membuat batas yang sehat. Sebab memaafkan yang sehat bukan berarti menjadi lemah; justru itu adalah tanda bahwa seseorang tidak lagi membiarkan luka masa lalu terus mengendalikan kehidupan batinnya. Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman, tetapi melepaskan racun emosional agar diri sendiri tidak terus terbakar oleh kemarahan yang dipelihara.
*) Pakar Pemberdayaan Diri










