Opini  

AS Jangan Hanya Gertak, Hentikan Nuklir Iran Jika Bernyali

Catatan Dr. Suriyanto, SH.,MH.,M.Kn *)

Amerika Serikat kembali mengumbar ancaman terhadap program nuklir Iran. Suaranya keras, nadanya penuh peringatan, seolah perang sudah di depan mata. Namun sejarah menunjukkan, di balik kata-kata besar itu, keberanian untuk bertindak nyaris tak pernah muncul.

Washington terbiasa bermain dengan retorika. Ancaman dilontarkan untuk memberi tekanan, untuk membuat lawan gentar di meja diplomasi. Masalahnya, lawan seperti Iran sudah terlalu sering mendengar gertakan itu. Mereka tahu, setelah pidato selesai, kapal perang kembali bersandar dan diplomasi kembali dipanggil.

Sikap setengah hati inilah yang membuat kredibilitas Amerika runtuh di mata dunia. Sekutu menunggu aksi nyata. Lawan tertawa melihat kegamangan. Ketika ancaman tidak pernah ditepati, maka ancaman itu berubah menjadi bahan olok-olok politik internasional.

Iran membaca pola itu dengan jernih. Setiap kali Washington menggertak, Teheran menjawab dengan percepatan program nuklirnya. Setiap kali Gedung Putih berbicara tentang konsekuensi berat, Iran membalas dengan membangun lebih banyak sentrifugal. Pesan yang terbaca jelas: Amerika bicara banyak, tapi takut bertindak.

Jika memang Amerika serius ingin menghentikan ambisi nuklir Iran, maka tidak ada jalan lain selain membuktikan keberanian itu di lapangan. Retorika tanpa eksekusi hanya mempermalukan negara adidaya di hadapan dunia. Dunia tidak butuh pidato, dunia butuh keputusan.

Keberanian di sini bukan soal sembrono. Ini soal konsistensi. Jika Amerika benar-benar menganggap nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial, maka membiarkannya berjalan tanpa hambatan adalah bentuk kegagalan strategis yang memalukan. Ancaman tanpa tindak lanjut sama artinya dengan menyerahkan kemenangan kepada lawan.

Ironisnya, setiap kali Amerika ragu, Iran justru semakin percaya diri. Mereka melihat Washington sebagai macan kertas yang gemar mengaum tetapi enggan mencakar. Sikap ini membuat keseimbangan kekuatan di Timur Tengah bergeser, dan sekutu tradisional Amerika mulai mencari sandaran lain.

Iran menegaskan tidak akan tunduk pada ancaman Amerika Serikat, termasuk tekanan terkait pengayaan uranium dan pengerahan militer di Teluk. Pemimpin dan militer Iran menyatakan kesiapan mereka menghadapi perang terbuka, didorong oleh solidaritas nasional yang tinggi dan sikap menolak didikte oleh pihak asing.

Para pengamat menilai, ketidaktegasan ini bukan hanya soal Iran. Ini soal citra kepemimpinan global Amerika secara keseluruhan. Jika di kasus Iran saja Washington tidak berani bertindak, bagaimana dunia bisa percaya ketika Amerika berbicara soal keamanan global lainnya.

Kini tekanan ada pada Gedung Putih. Publik internasional menunggu apakah ancaman itu akan berhenti sebagai pertunjukan panggung, atau berubah menjadi tindakan yang mengubah peta politik kawasan. Tidak ada ruang lagi untuk basa-basi.

Pengamat menilai ancaman AS tidak lagi berdampak karena Iran memiliki strategi yang matang dan terukur dalam merespons tekanan

Jika Amerika benar-benar memiliki nyali, maka buktikan sekarang. Jika tidak, maka berhentilah bermain dengan kata-kata yang hanya mempermalukan diri sendiri. Sejarah mencatat siapa yang berani bertindak, dan siapa yang hanya pandai bersilat lidah.

*) Praktisi Hukum, Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *