JAKARTA, MAJALAHCEO.co.id – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari keanggotaan OPEC dan OPEC+ per 1 Mei 2026 sudah bulat. Keputusan ini mengakhiri keanggotaan negara tersebut yang telah berlangsung sejak tahun 1967.
Keputusan tersebut diambil karena UEA ingin memprioritaskan kepentingan ekonomi nasional dan tidak lagi terikat oleh skema kuota produksi OPEC yang selama ini membatasi kapasitas maksimal mereka.
Langkah ini diambil setelah melalui penilaian menyeluruh terhadap kegiatan produksi.
Demikian disampaikan Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail Mohamed Al Mazrouei dikutip dari CNBC, Minggu (17/5/2026).
Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan, langkah ini diambil untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor energi dan menyesuaikan arah strategi ekonomi jangka panjang negara tersebut di tengah persaingan pasar global.
“Keputusan ini tidak didasarkan pada pertimbangan politik apa pun, dan juga tidak mencerminkan adanya perpecahan antara Uni Emirat Arab dan para mitranya,” kata Mazrouei.
Keluarnya UEA “merupakan pilihan kedaulatan dan strategis yang berasal dari visi ekonomi jangka panjangnya, evolusi kemampuannya di sektor energi, dan komitmen teguhnya terhadap keamanan energi global.
Sebelum perang Iran, UEA memproduksi lebih dari 3 juta barel per hari, secara umum sesuai dengan target OPEC+. Abu Dhabi menargetkan kapasitas produksi 4,9 juta barel per hari. Sekarang, karena perang, UEA memproduksi antara 1,8 dan 2,1 juta barel per hari.
Keluarnya UEA (produsen terbesar ketiga di OPEC) membuat organisasi ini kini menyisakan 11 negara anggota.
Untuk menjaga stabilitas pasar, sejumlah anggota seperti Arab Saudi, Rusia, Irak, dan Kuwait akan menyesuaikan batas maksimum produksi mereka sebesar 188.000 barel per hari.
Sumber: liputan6.com












