Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
Ketika Indonesia masih kekurangan minyak dan setiap gejolak harga dunia cepat menekan APBN, satu pertanyaan layak diajukan: mengapa US$250 juta dana investasi strategis negara justru ditanamkan pada perusahaan minyak di Texas?
Pada 6 Oktober 2026, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management mengumumkan investasi US$250 juta di HighPeak Energy Inc., perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di Permian Basin, Texas.
Pada saat yang sama, PT Energi Mega Persada menanamkan US$200 juta.
Total modal baru yang masuk ke HighPeak mencapai US$450 juta.
Tidak ada yang salah secara prinsip dengan sovereign investment fund berinvestasi di luar negeri.
Diversifikasi global dapat membuka akses teknologi, menghasilkan return dalam valuta asing, dan memperluas jaringan investasi Indonesia.
Akan tetapi, Danantara bukan fund manager swasta yang hanya mengejar keuntungan portofolio.
Ia membawa mandat strategis negara.
Oleh karena itu, setiap investasi besar di luar negeri semestinya menjawab dua pertanyaan sekaligus: apakah menguntungkan secara finansial dan apakah memperkuat kepentingan nasional.
Pada transaksi HighPeak, pertanyaan kedua inilah yang masih membutuhkan jawaban.
Texas Mendapat Modal, Indonesia Mendapat Apa?
Indonesia saat ini menghadapi persoalan struktural energi.
Konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak berada di kisaran 580 ribu sampai 600 ribu barel per hari.
Ini artinya, terdapat kesenjangan sekitar satu juta barel per hari yang harus ditutup melalui impor.
Di saat yang sama, pemerintah menargetkan produksi minyak satu juta barel per hari pada 2030.
Indonesia memiliki 128 cekungan migas dan sebagian besar masih belum dikembangkan secara optimal.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin relevan.
Jika US$250 juta layak mengambil risiko di Texas, mengapa modal sebesar itu tidak terlebih dahulu diarahkan pada proyek yang dapat menambah produksi minyak Indonesia?
Danantara memang dapat berargumen bahwa investasi HighPeak memberikan akses terhadap aset minyak di Permian Basin.
Akan tetapi, akses terhadap aset energi di Amerika tidak otomatis sama dengan ketahanan energi Indonesia.
Apakah Indonesia memperoleh hak offtake minyak?
Apakah ada transfer teknologi shale oil dan unconventional drilling?
Apakah perusahaan jasa migas Indonesia mendapat akses ke rantai pasok Permian Basin?
Atau manfaat bagi Indonesia semata-mata berupa dividen dan capital gain?
Semua kemungkinan itu sah.
Namun harus dijelaskan secara terbuka.
Yang Dibeli Bukan Sekadar Minyak
Investasi Danantara dilakukan melalui pembelian saham preferen konvertibel dengan dividen 6 persen.
HighPeak sendiri pada saat bersamaan sedang melakukan restrukturisasi besar neracanya.
Perusahaan mengumumkan paket pembiayaan yang mencakup US$450 juta modal preferen dari Danantara dan Energi Mega Persada, ditambah fasilitas kredit baru sekitar US$800 juta.
Dana tersebut antara lain digunakan untuk melunasi pinjaman lama sekitar US$1,17 miliar.
Ini artinya, dana Indonesia tidak hanya membiayai ekspansi produksi minyak di Amerika.
Ia juga menjadi bagian penting dari restrukturisasi utang sebuah perusahaan energi Amerika.
Hal itu tidak otomatis membuat investasinya buruk.
HighPeak memiliki aset riil dan cadangan minyak yang besar.
Namun justru karena investasinya kompleks, standar transparansi Danantara harus lebih tinggi.
Publik layak mengetahui expected return, asumsi harga minyak, risiko bila harga minyak jatuh, strategi konversi saham, serta exit plan dari investasi tersebut.
Kalimat bahwa investasi telah melalui due diligence tidak cukup.
Danantara mengelola aset strategis negara, sehingga logika ekonominya perlu dapat dipahami publik.
Jangan Hanya Membiayai Ketahanan Energi Negara Lain
Ada ironi yang perlu diperhatikan.
Indonesia sedang menghadapi tekanan APBN akibat harga minyak dunia dan ketergantungan impor.
Pemerintah berusaha meningkatkan produksi dalam negeri, sementara modal strategis Indonesia justru masuk ke produsen minyak Amerika.
Sekali lagi, investasi tersebut tidak harus ditolak.
Namun harus ada hubungan yang jelas antara investasi global Danantara dan strategi energi nasional.
Jika investasi HighPeak membuka transfer teknologi, ukur hasilnya.
Jika membuka kontrak bagi perusahaan jasa migas Indonesia, sebutkan nilainya.
Jika memberikan akses pasokan minyak, jelaskan mekanismenya.
Jika tujuan utamanya memang murni financial return, katakan secara terbuka dan tunjukkan mengapa return HighPeak lebih menarik dibandingkan alternatif investasi strategis di Indonesia.
Setiap investasi memiliki opportunity cost.
US$250 juta yang ditempatkan di Texas tidak dapat digunakan pada saat yang sama untuk eksplorasi migas domestik, infrastruktur energi, petrokimia, kilang, energi terbarukan, atau teknologi nasional.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan Danantara tidak boleh berhenti pada keuntungan finansial.
Kita juga membutuhkan ukuran national return.
National return dapat berbentuk transfer teknologi, akses pasar, keamanan pasokan, penciptaan lapangan kerja, penguatan perusahaan nasional, atau peningkatan kapasitas SDM.
Inilah standar yang semestinya digunakan untuk menilai investasi strategis negara.
Danantara boleh menjadi pemain global.
Bahkan seharusnya demikian.
Namun semakin global investasinya, semakin jelas pula manfaat yang harus kembali ke Indonesia.
US$250 juta ke Texas bisa menjadi investasi yang menguntungkan dan strategis.
Namun manfaat itu tidak lahir otomatis ketika kontrak ditandatangani.
Ia harus dirancang, dinegosiasikan, dan diukur.
Oleh karena itu, pertanyaan paling sederhana justru menjadi yang paling penting: ketika US$250 juta uang Indonesia bekerja di Texas, apa yang akhirnya kembali untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia?












