Di Usia 65 Tahun, Jenny Tetap Berjuang: Dari Merawat Ibu hingga Bertahan Lewat Bisnis Kuliner

JAKARTA, — Tidak semua perjuangan membangun usaha dimulai dari modal besar, toko megah, atau strategi bisnis yang matang. Bagi Jenny Susyani, perjalanan menjadi pelaku UMKM justru bermula dari sebuah ujian keluarga: sang ibu terkena stroke ketika Jenny baru menyelesaikan kuliah dan mengakhiri kontrak kerjanya dengan sebuah perusahaan dari Amerika.

Dalam kondisi terpuruk dan belum mengetahui harus memulai dari mana, Jenny memilih mendekati dunia yang sebelumnya hanya ia lakukan untuk keluarga: memasak.

Ia kemudian mencoba menghidupkan kembali resep-resep sang ibu yang tersimpan dalam ingatan masa kecil. Salah satunya adalah cookies yang biasa dibuat ibunya saat Lebaran. Dengan belajar berulang kali dan berkonsultasi kepada sang ibu yang sudah mengalami stroke, Jenny akhirnya berhasil membuatnya.

Cookies itu pertama kali dibawa ke sebuah pengajian bersama teman-teman kuliahnya. Tak disangka, banyak yang menyukai dan memesan. Pesanan terus bertambah hingga menjadi titik awal Jenny menyadari bahwa masakan rumahan bisa menjadi jalan untuk membangun kehidupan baru.

Namun, Jenny tidak berhenti pada cookies. Ia mulai menggali resep-resep Nusantara peninggalan ibunya, mulai dari masakan khas Banten hingga Palembang. Salah satu yang kemudian menjadi produk andalannya adalah “pepes ikan duri lunak”.

Resep tersebut memiliki kenangan tersendiri. Saat sang ibu masih sehat, pepes ikan buatannya pernah disajikan dalam sebuah acara pernikahan keluarga. Hidangan itu begitu disukai para tamu hingga yang tersisa hanya tulang-tulang ikannya. Kenangan tersebut kemudian menjadi inspirasi Jenny untuk mengembangkan pepes ikan versi duri lunak agar dapat dinikmati lebih banyak orang.

Jenny memulai bisnis tersebut menjelang usia 50 tahun. Ironisnya, pada usia itulah ia justru baru benar-benar belajar memasak secara serius. Semua dilakukan secara otodidak, dengan sang ibu sebagai sumber pengetahuan meski kondisinya sudah terbatas akibat stroke. Jenny harus bolak-balik dari dapur ke kamar untuk bertanya dan memastikan resep yang sedang dibuatnya benar. Perjuangannya pun tidak selalu berjalan mudah.

Jenny menjalankan produksi dari rumah dan mengerjakannya sendiri. Produk baru dibuat ketika ada pesanan sehingga ia tidak menumpuk stok. Di tengah usaha tersebut, ia sekaligus merawat ibunya sampai sang ibu meninggal dunia pada 2019.

Kini, di usia 65 tahun, Jenny masih menjalankan usaha dari rumah. Produk yang dibuatnya pun semakin beragam. Selain pepes ikan duri lunak dan cookies, ia membuat masakan khas Nusantara seperti rabek khas Banten dan malbi Palembang, sambal gandaria, minyak kemiri, ayam kodok, hingga tumpeng berdasarkan pesanan pelanggan.

Beberapa produknya bahkan telah menjangkau luar daerah. Minyak kemiri buatannya pernah dibawa hingga ke Belanda, sementara pesanan sambal gandaria datang dari Bali. Ia juga mulai mendapatkan calon reseller setelah mempromosikan produknya melalui WhatsApp.

Menariknya, salah satu kisah yang membuat Jenny semakin percaya diri adalah ketika pepes ikan buatannya pernah dipesan untuk menjamu seorang mantan presiden pada 2015. Pesanan tersebut datang melalui seseorang yang pernah menjabat sebagai direktur Museum Satria Mandala. Bagi Jenny, pengalaman itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bahwa masakan dari dapur rumahnya ternyata bisa dipercaya untuk disajikan dalam jamuan penting.

Namun di balik berbagai cerita keberhasilan tersebut, Jenny masih menghadapi persoalan klasik pelaku UMKM: modal.

Ia mengaku belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup dari hasil usahanya. Ketika pemasukan tidak mencukupi, ia harus meminjam uang ke sana kemari untuk bertahan. Bahkan, ada masa ketika Jenny mengaku pernah tidak makan selama dua hari.

Yang membuat kisahnya semakin menyentuh, keterbatasan itu tidak membuat Jenny berhenti berbagi.

Ketika memiliki rezeki, ia tetap menyisihkan sebagian untuk anak yatim piatu dan berbagi kepada tetangga. Setelah Lebaran, ketika masih ada kue yang tersisa, ia memilih membagikannya kepada orang-orang di sekitar rumah.

Di tengah usia yang tidak lagi muda, Jenny masih menyimpan sebuah cita-cita sederhana: memiliki tempat usaha, setidaknya berupa restoran atau gerai “take away” yang secara khusus menyajikan pepes ikan duri lunaknya. Kendala modal membuat cita-cita itu belum terwujud, tetapi ia tidak berhenti berusaha.

Kisah Jenny menjadi pengingat bahwa usia bukan alasan untuk berhenti memulai. Ia membangun usaha dari resep seorang ibu yang sakit, belajar memasak ketika usianya mendekati 50 tahun, bertahan setelah kehilangan orang tua, dan tetap menjalankan usaha meski hidupnya belum sepenuhnya berkecukupan.

Lebih dari sekadar kisah UMKM, perjalanan Jenny adalah cerita tentang ketekunan, bakti kepada orang tua, dan keberanian untuk terus berjalan ketika keadaan belum berpihak.

Ia mungkin belum memiliki restoran yang diimpikannya. Namun dari dapur kecil di rumah, Jenny telah membuktikan bahwa sebuah resep keluarga dapat berubah menjadi sumber penghidupan sekaligus warisan yang terus hidup. Dan di usia 65 tahun, ia masih memilih satu hal: “berjuang”. (andif)

Sumber : RUANG UMKM NAIK KELAS (Youtube Channel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *