Dongkrak Devisa Pariwisata, Transaksi Masuk QRIS Antarnegara Capai Rp6,2 Triliun

JAKARTA MAJALAH CEO, (02/10). Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja impresif dari implementasi sistem pembayaran lintas batas. Hingga Agustus 2026, akumulasi nilai transaksi QRIS Antarnegara sukses menembus angka Rp8,05 triliun yang bersumber dari total 22,8 juta jaringan transaksi.
Menariknya, volume transaksi masuk (inbound) dari wisatawan mancanegara yang berbelanja di Indonesia mendominasi perolehan secara masif, yakni mencapai Rp6,2 triliun melalui 17,8 juta transaksi. Angka tersebut jauh melampaui volume transaksi warga negara Indonesia di luar negeri (outbound) yang tercatat sebesar Rp1,85 triliun dari sekitar 5 juta aktivitas belanja.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menjelaskan bahwa lompatan transaksi ini menjadi motor baru dalam menyerap devisa dari sektor pariwisata sekaligus memperluas inklusi keuangan bagi para pelaku UMKM lokal. Menurutnya, kesuksesan integrasi ini membuktikan bahwa harmonisasi sistem pembayaran global tidak menuntut platform yang seragam.
“QRIS Antarnegara menunjukkan keterhubungan tidak mengharuskan setiap negara memiliki sistem sama. Yang dibutuhkan kesamaan tujuan, kepercayaan, standar yang disepakati, serta komitmen untuk menghubungkan sistem yang telah dimiliki masing-masing negara,” ujar Filianingsih dalam pemaparan data BI di Jakarta.
Hingga memasuki kuartal ketiga tahun ini, interkoneksi QRIS komparatif Indonesia telah sukses terhubung dengan 6 negara mitra strategis yang diaktifkan secara bertahap:
Fase Awal (2022–2023): Sukses terintegrasi dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Fase Ekspansi (2025): Membuka jaringan konektivitas dengan Jepang.
Fase Terbaru (2026): Resmi memperluas jangkauan ke Korea Selatan dan China.
Menatap prospek ke depan, Bank Indonesia tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) digitalisasi jilid berikutnya. Otoritas moneter ini berencana mengadopsi teknologi Near Field Communication (NFC) lewat inovasi QRIS Tap guna menyasar digitalisasi di sektor transportasi publik internasional.
Selain itu, BI juga berkomitmen memperkuat stabilitas nilai tukar regional dengan mendorong penerapan skema Local Currency Transaction (LCT) pada setiap transaksi berbasis kode QR. Saat ini, penjajakan aliansi pembayaran baru sedang dilakukan secara intensif dengan wilayah potensial lain, termasuk Hong Kong dan Timor Leste. (arfi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *