Ketika Dunia Tidak Adil: Mampukah Anda Tetap Menjadi Diri Yang Benar?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Pertanyaan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia bukanlah, “Apakah dunia memperlakukan saya dengan adil?”, melainkan “Apakah saya tetap menjadi diri yang benar ketika dunia tidak memperlakukan saya dengan adil?” Hampir semua orang memulai hidup dengan keyakinan bahwa kejujuran, integritas, dan kebaikan adalah sesuatu yang layak dijaga.

Namun seiring perjalanan hidup, seseorang bisa mengalami pengkhianatan, ditipu oleh orang yang dipercaya, disingkirkan meskipun telah bekerja dengan baik, atau menyaksikan orang-orang yang curang justru memperoleh keuntungan. Pada saat itulah sering muncul suara-suara batin yang perlahan menggerus keyakinan awalnya: “Kalau saya terus jujur, saya yang rugi.” “Mengapa saya harus berbuat baik kalau orang lain tidak?” atau “Kalau dunia bermain seperti ini, mungkin saya juga harus ikut bermain.”

Dalam perspektif Self Awareness Transformation (SAT), persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada munculnya pikiran-pikiran tersebut. Yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang terjadi pada lapisan yang lebih dalam dari diri manusia. SAT memandang bahwa di balik setiap keputusan hidup terdapat sesuatu yang disebut sebagai klaim eksistensial, yaitu tempat seseorang meletakkan rasa keberadaan dan nilai dirinya. Selama klaim eksistensial itu tetap berada pada sesuatu yang benar dan kokoh, seseorang relatif mampu mempertahankan integritasnya. Namun ketika klaim itu bergeser, cara seseorang memandang hidup juga ikut berubah.

Pada awalnya seseorang mungkin hidup dengan prinsip yang sederhana: “Saya melakukan yang benar karena itu memang benar.” Dalam keadaan ini, kebaikan tidak bergantung pada hasil. Ia jujur karena kejujuran memiliki nilai pada dirinya sendiri. Akan tetapi, pengalaman hidup yang menyakitkan terkadang membuat prinsip tersebut berubah secara diam-diam.

Tanpa disadari, pusat orientasinya bergeser menjadi: “Saya bernilai jika saya menang.” atau “Saya berharga jika saya tidak rugi.” Ketika kemenangan, keuntungan, pengakuan, atau keberhasilan mulai menjadi sumber utama rasa keberadaan, maka integritas perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa ditawar. Kejujuran masih dianggap baik, tetapi hanya selama tidak mengganggu keuntungan pribadi.

Di sinilah kepahitan sering mengubah perilaku manusia. Menariknya, SAT tidak memandang bahwa penderitaan secara otomatis merusak seseorang. Banyak orang mengalami kesulitan hidup tetapi justru menjadi lebih matang dan bijaksana. Yang sering merusak bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan kesimpulan identitas yang lahir dari penderitaan tersebut. Misalnya seseorang pernah berlaku jujur tetapi kemudian ditipu. Peristiwanya mungkin sederhana: ia jujur, tetapi orang lain memanfaatkannya. Namun pikiran kemudian mulai membangun cerita baru: “Orang baik selalu kalah.” Dari sana muncul kesimpulan berikutnya: “Kalau mau selamat, saya harus menjadi seperti mereka.” Lama-kelamaan terbentuk keyakinan yang lebih dalam lagi: “Saya hanya berharga jika saya tidak kalah.”

Pada titik itulah masalah sesungguhnya muncul. Bukan karena ia pernah ditipu, melainkan karena pengalaman ditipu dijadikan fondasi untuk mendefinisikan siapa dirinya dan bagaimana ia harus hidup. Peristiwa yang awalnya hanya merupakan pengalaman eksternal berubah menjadi identitas internal. SAT menyebut inilah salah satu akar penderitaan manusia: ketika pengalaman hidup digunakan untuk menentukan nilai keberadaan diri.

Karena itu SAT mengajak kita membedakan dua jenis kerugian yang sering tercampur dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama adalah kerugian eksternal, seperti kehilangan uang, kehilangan kesempatan, kehilangan jabatan, atau kehilangan keuntungan tertentu. Kerugian semacam ini nyata dan terkadang memang menyakitkan. Namun ada jenis kerugian lain yang sering luput diperhatikan, yaitu kerugian internal. Kerugian internal terjadi ketika seseorang kehilangan kejernihan hati, kehilangan integritas, kehilangan kebebasan batin, atau kehilangan kesadaran terhadap dirinya sendiri.

Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit orang yang berhasil menghindari kerugian eksternal tetapi justru mengalami kerugian internal yang jauh lebih besar. Mereka memperoleh uang, tetapi hidup dalam kecemasan. Mereka memenangkan persaingan, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka memperoleh jabatan, tetapi tidak lagi mengenali diri mereka sendiri. Dari luar tampak berhasil, tetapi di dalam diri terjadi kemunduran yang tidak terlihat. Karena itulah SAT mengingatkan bahwa tidak semua kehilangan merupakan kerugian, dan tidak semua keuntungan merupakan pertumbuhan.

Pandangan ini memiliki keselarasan yang menarik dengan filsafat Mulla Sadra. Dalam pemikirannya, setiap tindakan manusia tidak hanya menghasilkan dampak di dunia luar, tetapi juga meninggalkan bentuk tertentu pada jiwa pelakunya. Dengan kata lain, setiap keputusan yang diambil seseorang perlahan membentuk siapa dirinya.

Ketika seseorang tetap memilih jujur dalam situasi yang sulit, yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar ia kehilangan peluang tertentu atau menanggung kerugian sesaat. Pada saat yang sama, jiwanya sedang dibentuk menjadi jiwa yang jujur. Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan prinsip demi keuntungan sesaat, bukan hanya keuntungan yang diperoleh. Jiwanya juga sedang dibentuk menjadi jiwa yang bergantung pada keuntungan tersebut.

Karena itu, pertanyaan terdalam dalam setiap pilihan hidup bukanlah sekadar, “Apa yang akan saya dapatkan?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Saya sedang menjadi siapa melalui pilihan ini?” Pertanyaan ini menggeser fokus dari hasil menuju pembentukan diri. Dunia modern sering mengajarkan manusia untuk mengukur hidup berdasarkan apa yang berhasil dimiliki. Namun SAT mengajak melihat dimensi yang lebih dalam, yaitu kualitas keberadaan yang sedang dibentuk melalui setiap keputusan.

Dari sudut pandang ini, salah satu ujian terbesar dalam kehidupan bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau bahkan ketidakadilan. Ujian terbesar adalah apakah seseorang mampu tetap berpijak pada nilai yang benar ketika rasa keberadaannya diguncang oleh realitas. Mampukah ia tetap jujur ketika kejujuran membuatnya rugi? Mampukah ia tetap berbuat baik ketika tidak dihargai? Mampukah ia tetap berintegritas ketika integritas tidak membuatnya populer? Pada saat-saat seperti itulah seseorang mulai melihat di mana sebenarnya ia meletakkan rasa keberadaannya. Apakah keberadaannya bertumpu pada prinsip yang lebih dalam, atau hanya bertumpu pada penilaian dan validasi dunia?

Menariknya, temuan ilmiah modern menunjukkan bahwa ketidakadilan memang dapat memberikan tekanan besar terhadap integritas manusia. Berbagai penelitian mengenai keadilan sosial, timbal balik (reciprocity), dan perilaku tidak jujur menemukan bahwa orang yang merasa diperlakukan secara adil cenderung lebih kooperatif dan lebih jujur.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil, dihina, dirugikan, atau dieksploitasi, dorongan untuk membalas sering meningkat. Dalam kondisi tertentu, sebagian orang menjadi lebih bersedia melanggar aturan atau melakukan kecurangan, terutama jika tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk balasan terhadap pihak yang mereka nilai tidak adil. Dengan kata lain, ketidakadilan memang dapat memperkuat godaan untuk meninggalkan prinsip.

Namun penelitian yang sama juga menunjukkan sesuatu yang penting. Efek tersebut tidak bersifat mutlak. Tidak semua orang yang mengalami ketidakadilan berubah menjadi tidak jujur. Tidak semua orang yang terluka menjadi pendendam. Banyak individu tetap mempertahankan standar moralnya meskipun berada dalam situasi yang merugikan. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki ruang kebebasan untuk memilih responsnya. Ketidakadilan dapat meningkatkan tekanan terhadap integritas, tetapi tidak menghapus kebebasan moral manusia.

Karena itu, SAT tidak mengajarkan seseorang untuk pasrah terhadap ketidakadilan atau membiarkan dirinya diinjak. Integritas bukanlah kepolosan. Kejujuran bukan berarti tidak memiliki batasan. Kebaikan juga bukan berarti membiarkan kezaliman berlangsung tanpa perlawanan. Seseorang tetap dapat bersikap tegas, mempertahankan haknya, menolak perlakuan yang tidak adil, bahkan melawan ketidakbenaran ketika diperlukan.

Perbedaannya terletak pada sumber tindakan tersebut. Orang yang bertindak dari kepahitan biasanya digerakkan oleh luka, dendam, dan kebutuhan untuk membalas. Sebaliknya, orang yang bertindak dari kesadaran tetap mampu melihat dengan jernih apa yang benar untuk dilakukan. Ia memperjuangkan keadilan tanpa harus menjadi tidak adil. Ia membela dirinya tanpa kehilangan integritasnya. Ia melawan keburukan tanpa harus berubah menjadi buruk. Dengan kata lain, ia tetap menjaga jiwanya meskipun sedang menghadapi dunia yang tidak selalu memperlakukannya dengan baik.

Pada akhirnya, ukuran terdalam dari sebuah kehidupan bukanlah seberapa sering seseorang menang atau kalah dalam permainan dunia. Ukuran terdalamnya adalah apakah melalui seluruh pengalaman itu ia semakin dekat kepada kejernihan, kebebasan batin, dan kebenaran dirinya. Sebab ada orang yang kehilangan banyak hal tetapi tetap menemukan dirinya, dan ada pula orang yang memperoleh banyak hal tetapi perlahan kehilangan dirinya sendiri. Dalam perspektif SAT, kemenangan yang paling penting bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemampuan untuk tetap menjadi diri yang benar ketika realitas tidak berjalan sesuai dengan harapan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *