Dari Pengalaman Hidup Hingga Ekspresi Gen: Jejak Biologis Dari Emosi Yang Berulang

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Oleh: Syahril Syam *)

Selama bertahun-tahun, banyak orang mendengar pernyataan bahwa “emosi dapat mengubah gen”. Kalimat ini tidak sepenuhnya salah, tetapi jika dipahami secara harfiah dapat menimbulkan kesalahpahaman. Ilmu pengetahuan modern tidak menunjukkan bahwa emosi secara langsung mengubah gen. Yang ditemukan para peneliti adalah adanya rangkaian proses biologis yang jauh lebih kompleks.

Hubungan yang paling kuat didukung oleh penelitian saat ini bukanlah “emosi lalu gen”, melainkan suatu rantai yang dimulai dari emosi, kemudian memengaruhi sistem saraf, sistem hormon, sistem imun, lingkungan kimia di sekitar sel, dan akhirnya memengaruhi aktivitas gen. Model inilah yang paling konsisten dengan temuan-temuan dalam neuroscience, psikoneuroimunologi, dan epigenetika modern.

Ketika seseorang mengalami ketakutan, kecemasan, kemarahan, ancaman, atau stres yang berkepanjangan, otak tidak hanya menghasilkan perasaan tertentu. Pada saat yang sama, otak mengaktifkan berbagai sistem biologis yang dirancang untuk membantu manusia bertahan hidup. Salah satu sistem yang aktif adalah sistem saraf simpatik, yaitu sistem yang bertanggung jawab terhadap respons “fight or flight”.

Aktivasi sistem ini menyebabkan pelepasan hormon seperti adrenalin dan noradrenalin. Akibatnya, denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, napas menjadi lebih cepat, dan kewaspadaan bertambah. Selain itu, otak juga mengaktifkan jalur yang dikenal sebagai HPA Axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis), yang berujung pada pelepasan kortisol, yaitu hormon stres utama pada manusia.

Di sinilah proses biologis yang lebih dalam mulai terjadi. Kortisol tidak hanya beredar dalam darah lalu menghilang begitu saja. Hormon ini memasuki berbagai jaringan tubuh dan berinteraksi dengan reseptor yang terdapat pada sel. Setelah berikatan dengan reseptor tersebut, kortisol dapat memengaruhi berbagai faktor pengatur yang menentukan gen mana yang perlu diaktifkan dan gen mana yang perlu dikurangi aktivitasnya. Dengan kata lain, yang memengaruhi ekspresi gen bukan emosi secara langsung, melainkan perubahan lingkungan biologis yang ditimbulkan oleh respons tubuh terhadap emosi tersebut.

Pemahaman ini diperkuat oleh berbagai penelitian besar. Salah satu yang paling berpengaruh dilakukan oleh psikolog dan neuroscientist Kanada, Michael Meaney. Dalam penelitiannya terhadap tikus, ia menemukan bahwa kualitas pengasuhan induk berhubungan dengan perubahan ekspresi gen yang mengatur respons stres pada anak tikus. Anak tikus yang mendapatkan perhatian dan perawatan lebih baik menunjukkan pola regulasi stres yang berbeda dibandingkan anak tikus yang kurang mendapatkan perawatan. Temuan ini menjadi sangat penting karena menunjukkan bahwa pengalaman hidup dapat meninggalkan jejak biologis yang terukur melalui perubahan ekspresi gen.

Penelitian lain yang sangat berpengaruh dilakukan oleh Steven W. Cole. Ia meneliti bagaimana pengalaman sosial memengaruhi tubuh pada tingkat molekuler. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kesepian kronis, isolasi sosial, dan perasaan terancam secara sosial berkaitan dengan perubahan pola ekspresi gen pada sel-sel imun.

Cole memperkenalkan konsep yang dikenal sebagai Conserved Transcriptional Response to Adversity (CTRA), yaitu pola respons biologis yang sering muncul ketika seseorang hidup dalam kondisi ancaman sosial yang berkepanjangan. Pola ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas gen-gen yang berkaitan dengan inflamasi dan menurunnya sebagian aktivitas gen yang berhubungan dengan pertahanan antivirus. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman sosial dan persepsi ancaman dapat berhubungan dengan perubahan biologis yang nyata di dalam tubuh.

Kontribusi penting lainnya datang dari Rachel Yehuda, seorang peneliti yang dikenal luas karena penelitiannya mengenai trauma dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman traumatis berat dapat berhubungan dengan perubahan epigenetik pada gen-gen yang mengatur sistem stres. Ia juga meneliti kemungkinan bagaimana dampak biologis dari trauma dapat memengaruhi generasi berikutnya melalui mekanisme epigenetik tertentu. Temuan-temuan ini memperkuat pemahaman bahwa pengalaman psikologis yang sangat intens dapat meninggalkan jejak biologis yang bertahan lama.

Dari sudut pandang sel tubuh, sebenarnya tidak ada konsep “sedih”, “cemas”, atau “dipermalukan”. Sel tidak mengetahui bahwa seseorang sedang ditolak oleh lingkungan sosialnya atau sedang khawatir terhadap masa depan. Yang diketahui oleh sel hanyalah perubahan sinyal kimia yang diterimanya.

Sel merespons kadar kortisol, adrenalin, sitokin inflamasi, neuropeptida, dan berbagai molekul sinyal lainnya. Ketika lingkungan kimia tubuh berubah secara konsisten, sel akan menyesuaikan aktivitasnya, termasuk aktivitas gen yang sedang dijalankan. Karena itu, hubungan antara pengalaman psikologis dan ekspresi gen terjadi melalui perantara sistem biologis yang sangat kompleks.

Hal lain yang penting dipahami adalah bahwa masalah biologis umumnya tidak muncul karena satu kali emosi. Hampir semua orang pernah marah, sedih, kecewa, atau takut. Tubuh manusia memiliki kemampuan besar untuk pulih dari perubahan sementara tersebut. Yang lebih berpengaruh adalah pola yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang.

Ketika emosi tertentu muncul berulang kali selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, tubuh mulai beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Aktivasi sistem stres yang berulang dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang semakin menetap. Karena itulah sebagian besar penelitian ilmiah lebih banyak membahas chronic stress, chronic loneliness, atau chronic trauma response dibandingkan emosi sesaat.

Jika seluruh temuan ilmiah ini dirangkum, maka gambaran besarnya menjadi cukup jelas. Pengalaman hidup memengaruhi cara seseorang memandang dunia. Persepsi terhadap ancaman memunculkan emosi tertentu. Emosi kemudian mengaktifkan sistem saraf dan sistem hormon stres. Aktivasi ini memengaruhi sistem imun dan lingkungan kimia di sekitar sel. Perubahan lingkungan biologis tersebut akhirnya memengaruhi ekspresi gen dan berbagai fungsi biologis tubuh. Rangkaian inilah yang saat ini memiliki dukungan ilmiah yang cukup kuat.

Di sinilah SAT (Self Awareness Transformation) mencoba memberikan penjelasan pada lapisan yang lebih dalam, yaitu pertanyaan yang belum sepenuhnya dijawab oleh biologi modern. Ilmu pengetahuan telah menunjukkan bagaimana emosi dapat memengaruhi fisiologi tubuh dan bagaimana fisiologi dapat memengaruhi ekspresi gen. Namun, pertanyaan yang masih terbuka adalah: mengapa sebagian orang terus menghasilkan pola emosi yang sama selama bertahun-tahun, bahkan setelah peristiwa pemicunya sudah lama berlalu?

SAT mengusulkan bahwa di balik emosi kronis terdapat struktur psikologis yang lebih mendasar, yaitu apa yang disebut sebagai klaim eksistensial. Klaim eksistensial adalah keyakinan tersembunyi mengenai syarat keberadaan, nilai, atau keberhargaan diri. Ketika seseorang secara tidak sadar meyakini bahwa dirinya hanya berharga jika diterima, berhasil, dihargai, atau diakui, maka keyakinan tersebut dapat menjadi sumber berbagai prediksi mental yang terus-menerus muncul. Dalam bahasa SAT, prediksi mental yang berulang dan terus aktif ini disebut wahm kronis.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki klaim eksistensial: “Saya berharga jika diterima oleh orang lain.” Dari keyakinan ini muncul kecenderungan untuk terus memprediksi kemungkinan penolakan. Prediksi yang berlangsung terus-menerus tersebut dapat memelihara kecemasan sosial dari waktu ke waktu. Contoh lain, seseorang yang meyakini bahwa dirinya hanya bernilai jika berhasil dapat terus-menerus memprediksi kegagalan, sehingga mengalami kecemasan performa yang kronis meskipun tidak sedang menghadapi ancaman nyata.

Dalam kerangka SAT, pola tersebut digambarkan sebagai rangkaian: klaim eksistensial menghasilkan wahm kronis, wahm kronis menghasilkan emosi kronis, emosi kronis mengaktifkan sistem stres secara berkepanjangan, dan aktivasi sistem stres yang berkepanjangan memengaruhi sistem neuroendokrin, sistem imun, serta ekspresi gen yang berkaitan dengan fungsi biologis tubuh.

Penting untuk dibedakan bahwa bagian dari model yang menghubungkan emosi kronis dengan sistem stres, sistem imun, dan perubahan ekspresi gen memiliki dukungan ilmiah yang cukup kuat dari berbagai penelitian. Sementara itu, bagian yang menghubungkan klaim eksistensial dengan wahm kronis dan emosi kronis merupakan model konseptual yang dikembangkan dalam SAT.

Model ini belum diuji secara langsung dalam penelitian genomik atau epigenetik, tetapi menawarkan suatu kerangka teoritis untuk menjelaskan mengapa pola stres dan emosi tertentu dapat bertahan sangat lama, bahkan ketika penyebab awalnya sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan seseorang. Dengan kata lain, jika ilmu pengetahuan modern banyak menjelaskan bagaimana stres memengaruhi tubuh, SAT berusaha menjelaskan mengapa sebagian manusia terus menciptakan stres yang sama berulang-ulang sepanjang hidupnya.

Maka transformasi terdalam bukan pertama-tama terjadi pada gen, hormon, atau emosi, melainkan pada identifikasi diri. Ketika identifikasi terhadap klaim eksistensial melemah, sumber ancaman psikologis juga melemah. Ketika ancaman psikologis melemah, sistem stres tidak lagi perlu aktif terus-menerus. Dari sanalah rangkaian perubahan biologis yang lebih sehat menjadi mungkin terjadi.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *