Oleh: Syahril Syam *)
Dalam dunia hipnoterapi dikenal istilah Initial Sensitizing Event (ISE), yaitu pengalaman awal yang pertama kali menghubungkan suatu situasi dengan emosi tertentu. Sederhananya, ISE dianggap sebagai titik awal terbentuknya sebuah pola psikologis. Misalnya, seorang anak berusia lima tahun dipermalukan oleh gurunya di depan kelas. Pada saat itu ia merasakan malu, takut, dan tidak aman. Bertahun-tahun kemudian, setiap kali harus berbicara di depan umum, ia mengalami kecemasan yang kuat. Ketika hipnoterapis melakukan teknik regresi dan menemukan kembali kejadian masa kecil tersebut, peristiwa itulah yang disebut sebagai ISE.
Gagasan bahwa pengalaman awal dapat memengaruhi kehidupan seseorang sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat. Dalam neuroscience terdapat banyak penelitian mengenai fear learning (pembelajaran rasa takut), attachment learning (pembelajaran keterikatan), dan emotional conditioning (pengkondisian emosi).
Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil dapat membentuk cara otak memprediksi dan merespons situasi serupa di masa depan. Jika seorang anak berulang kali mengalami penolakan, misalnya, otaknya dapat belajar untuk lebih waspada terhadap kemungkinan penolakan di kemudian hari. Dalam arti ini, konsep bahwa pengalaman awal dapat meninggalkan jejak psikologis memang didukung oleh ilmu pengetahuan.
Namun, di sinilah muncul persoalan yang lebih mendalam. Menemukan pengalaman pertama tidak otomatis berarti kita telah menemukan penyebab sebenarnya dari masalah yang dialami seseorang saat ini. Alasannya sederhana: peristiwa yang sama tidak selalu menghasilkan pembelajaran yang sama. Dua anak dapat mengalami kejadian yang identik, tetapi hasil psikologisnya berbeda. Satu anak mungkin mengalami trauma yang bertahan hingga dewasa, sedangkan anak lainnya tidak menunjukkan dampak yang berarti. Jika peristiwanya sama tetapi hasilnya berbeda, berarti ada faktor lain yang ikut menentukan selain peristiwa itu sendiri.
Karena itu, menemukan ISE lebih mirip dengan menemukan kapan sebuah proses dimulai, bukan mengapa proses itu masih berlangsung hingga sekarang. Bayangkan sebuah rumah yang terbakar. Menemukan ISE seperti menemukan percikan api pertama yang memulai kebakaran. Informasi itu memang penting. Namun, jika kita ingin memahami mengapa rumah masih terus terbakar, kita harus melihat faktor-faktor yang mempertahankan api tersebut, seperti kayu, bensin, atau oksigen. Percikan pertama mungkin sudah lama hilang, tetapi api tetap menyala karena masih ada bahan bakar yang menopangnya.
Dalam ilmu psikologi modern, istilah “penyebab” biasanya tidak hanya merujuk pada faktor yang memulai suatu gejala, tetapi terutama pada faktor yang mempertahankan gejala tersebut. Misalnya, seseorang dipermalukan pada usia lima tahun dan kini berusia empat puluh tahun. Ia masih merasa cemas ketika harus berbicara di depan umum. Apakah penyebab kecemasannya hari ini adalah guru yang mempermalukannya tiga puluh lima tahun yang lalu? Secara langsung, jawabannya tidak. Guru itu mungkin sudah tidak pernah ditemui lagi, bahkan mungkin sudah meninggal. Yang masih aktif hingga hari ini bukanlah gurunya, melainkan pola yang terbentuk di dalam dirinya.
Yang masih bekerja sekarang adalah cara otak memprediksi situasi, keyakinan yang tersimpan secara implisit, pola respons otomatis, serta cara seseorang menafsirkan pengalaman yang sedang dihadapinya. Ketika ia berdiri di depan audiens, otaknya mungkin secara otomatis memprediksi ancaman, memperkirakan kemungkinan dipermalukan, atau mengantisipasi penolakan. Inilah proses yang benar-benar menghasilkan kecemasan pada saat ini.
Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), faktor yang mempertahankan penderitaan disebut sebagai klaim eksistensial. Klaim eksistensial adalah asumsi mendalam tentang diri dan keberadaan yang diterima sebagai kebenaran tanpa disadari. Misalnya, seseorang mungkin secara tidak sadar memegang keyakinan bahwa “nilai diri saya bergantung pada penerimaan orang lain.” Selama klaim ini masih aktif, setiap kemungkinan penolakan akan terasa mengancam. Dengan demikian, fokusnya bukan lagi pada apa yang terjadi puluhan tahun lalu, melainkan pada apa yang masih dipercaya sekarang.
Di sinilah muncul perbedaan penting antara menemukan asal mula dan menemukan penyebab yang mempertahankan masalah. Banyak pendekatan hipnoterapi klasik berangkat dari pengamatan bahwa ketika ISE ditemukan dan emosi yang terkait dengannya dilepaskan, gejala seringkali berkurang. Dari pengalaman ini muncul asumsi bahwa ISE adalah penyebab utama masalah. Akan tetapi, kesimpulan tersebut tidak selalu mengikuti secara logis. Bisa jadi yang sebenarnya berubah bukan karena peristiwa masa lalu ditemukan, melainkan karena makna yang melekat pada peristiwa itu ikut berubah.
Analogi kebakaran dapat membantu menjelaskan hal ini. Jika rumah terbakar karena percikan api kecil, menemukan percikan tersebut tidak otomatis memadamkan kebakaran. Yang harus diubah adalah faktor-faktor yang membuat api tetap hidup. Demikian pula dalam psikologi, menemukan peristiwa pertama belum tentu cukup untuk menghilangkan gejala. Yang lebih penting adalah mengubah pembelajaran emosional yang masih aktif hingga sekarang.
Pandangan ini sejalan dengan teori Memory Reconsolidation yang dikembangkan oleh Bruce Ecker dan rekan-rekannya. Dalam pendekatan ini, pertanyaan terpenting bukanlah “Peristiwa pertama apa yang menyebabkan masalah ini?” melainkan “Pembelajaran emosional apa yang masih aktif saat ini?” Misalnya, seseorang mungkin secara tidak sadar masih memegang pembelajaran bahwa “Saya tidak aman” atau “Saya akan ditolak.” Menurut pendekatan ini, gejala muncul karena pembelajaran tersebut terus menghasilkan prediksi dan respons tertentu. Oleh karena itu, target perubahan bukanlah peristiwa masa lalunya, tetapi pembelajaran emosional yang masih hidup di dalam sistem psikologis seseorang.
Bahasa SAT menjelaskan hal yang sama dengan lebih sederhana. Misalnya, seorang anak pernah mendengar ayahnya berkata, “Kamu tidak berguna.” Ucapan itu adalah peristiwa. Namun dari peristiwa tersebut lahirlah sebuah klaim eksistensial, yaitu “Saya tidak berharga.” Ketika orang itu dewasa, yang mempertahankan penderitaannya bukan lagi ucapan sang ayah. Ucapan itu sudah menjadi bagian dari sejarah. Yang masih aktif adalah klaim bahwa dirinya tidak berharga. Selama klaim tersebut dipercaya, penderitaan akan terus diproduksi. Jika klaim itu hilang, kenangan tentang ucapan ayah tetap ada, tetapi dampak emosionalnya bisa berubah secara drastis.
Meski demikian, hubungan antara ISE dan penyebab psikologis seringkali memang tampak menyatu. Misalnya, seseorang ditolak oleh orang yang sangat berarti baginya. Pada saat yang sama terbentuk pembelajaran bahwa dirinya tidak layak dicintai. Karena peristiwa dan pembelajaran lahir hampir bersamaan, terapis dapat merasa bahwa ketika menemukan peristiwa itu, ia telah menemukan penyebabnya. Padahal sebenarnya ada dua hal yang ditemukan sekaligus: peristiwa awal dan makna yang terbentuk dari peristiwa tersebut. Dari sudut pandang psikologi modern, makna atau pembelajaran itulah yang biasanya lebih dekat dengan penyebab gejala.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa konsep ISE dalam hipnoterapi sepenuhnya salah. Pengalaman awal memang dapat memainkan peran penting dalam pembentukan pola psikologis. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa memberi bobot kausal yang terlalu besar kepada ISE dapat menimbulkan kesalahpahaman. Menemukan peristiwa pertama tidak selalu sama dengan menemukan penyebab yang mempertahankan masalah, dan tidak selalu otomatis menghasilkan penyembuhan.
Kesimpulan yang lebih sesuai dengan temuan ilmiah saat ini adalah bahwa ISE dapat menjadi asal mula suatu pola, tetapi yang menentukan apakah pola itu terus hidup atau tidak adalah pembelajaran emosional, model prediktif, keyakinan implisit, atau dalam bahasa SAT, klaim eksistensial yang masih aktif pada saat ini. Masa lalu mungkin menjelaskan bagaimana pola itu dimulai, tetapi keadaan batin yang masih aktif sekaranglah yang menjelaskan mengapa pola tersebut terus berlanjut.
@pakarpemberdayaandiri








