Catatan Risdiana Wiryatni *)
Teruslah menabur kebaikan. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus, sekecil apa pun, adalah jalan utama menuju keberkahan hidup. Dalam Islam, berbuat baik (amal shalih) tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mendekatkan diri kepada ridha Allah, memudahkan jalan hidup, dan menjadi investasi akhirat yang terus mengalir.
Kebaikan dan keburukan merupakan dua perilaku yang sangat bertentangan satu sama lain. Kadang suatu kehidupan ada yang dominan kebaikannya ada juga yang dominan keburukannya. Begitupun kehidupan yang ada di masyarakat, ada yang baik ada juga yang buruk.
Sejatinya, tidak ada seorang pun di dunia ini diciptakan untuk menjadi manusia yang tidak baik. Semua orang pasti memiliki kebaikan di dalam dirinya. Biasanya ketika bertumbuh dan berperilaku tidak baik, banyak faktor yang memengaruhi perilakunya itu.
Bisa karena faktor internal yaitu sesuatu yang tidak bisa dikendalikan olehnya. Misalnya orang tersebut mengalami gangguan mental sampai menjadi sosiopat. Akhirnya, dia melakukan tindakan yang mengganggu norma sosial dan merugikan orang lain.
Sebaliknya, ada faktor eksternal yang memengaruhi seseorang berperilaku buruk yaitu pola asuh atau lingkungan yang memengaruhinya untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri sehingga melakukan tindakan yang merugikan atau menyakiti orang lain.
Setiap niat tulus dan tangan yang memberi, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia. Setiap langkah dalam kebaikan adalah pintu untuk mendapatkan keberkahan dan ketenangan dalam hidup.
Ketika kita berbuat baik, sejatinya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri. Kebaikan yang kita tanam akan kembali ke diri kita dalam bentuk ketenangan hati dan pahala. Sikap buruk orang lain adalah cerminan dari diri mereka sendiri, bukan ukuran harga diri kita.
Tetap berbuat baik saat diperlakukan tidak baik adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Ini menunjukkan bahwa prinsip kita tidak mudah digoyahkan oleh perlakuan negatif orang lain.
Tetap baik bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan. Kita berhak membatasi diri agar tidak disakiti kembali.
Tetap menabur kebaikan meski disakiti oleh orang yang ditolong adalah wujud dari ketulusan tertinggi dan kekuatan karakter, bukan sebuah kelemahan. Meskipun menyakitkan dan mengecewakan, memilih untuk tetap baik adalah tindakan yang mulia dan memiliki dampak positif yang mendalam bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menabur kebaikan adalah pilihan, dan memilih untuk tetap baik dalam kondisi tersulit adalah kemenangan hati.
Jangan lelah untuk terus menebar kebaikan, mumpung masih ada waktu
*) CEO Kinerja Group








