Oleh: Syahril Syam *)
Dalam tradisi filsafat Islam – dan sejalan dengan pendekatan fenomenologi modern – para pemikir membedakan dua jenis pengetahuan yang sangat berbeda secara mendasar, yaitu ilmu hushuli dan ilmu hudhuri. Perbedaan ini penting karena menyangkut bagaimana manusia mengetahui realitas, bukan sekadar apa yang diketahui.
Ilmu hushuli adalah pengetahuan yang kita peroleh melalui perantara. Perantara itu bisa berupa konsep, gambaran mental, bahasa, simbol, atau proses analisis rasional. Ketika seseorang membaca buku tentang stres, memahami definisi stres, menghafal gejalanya, atau mampu menjelaskan mekanisme stres secara biologis dan psikologis, ia sedang menggunakan ilmu hushuli.
Pengetahuan ini selalu tentang sesuatu, bukan bersama sesuatu. Ada jarak antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui). Pikiran berperan sebagai mediator: realitas tidak hadir secara langsung, tetapi direpresentasikan dalam bentuk ide atau konsep. Ilmu ini sangat penting untuk pendidikan, komunikasi, dan pengambilan keputusan rasional. Namun, keterbatasannya jelas: ia tidak menghadirkan realitas itu sendiri, melainkan hanya gambarnya di dalam pikiran.
Berbeda dengan itu, ilmu hudhuri adalah pengetahuan yang muncul dari kehadiran langsung, tanpa perantara konsep, bahasa, atau analisis. Dalam ilmu ini, tidak ada jarak antara yang mengetahui dan yang diketahui. Contohnya sederhana: ketika seseorang merasakan takut dan ia menyadari rasa takut itu secara langsung – tanpa menjelaskannya, tanpa menilainya, tanpa menganalisis penyebabnya – maka ia sedang berada dalam ilmu hudhuri. Begitu pula saat seseorang merasakan tubuhnya lelah, atau menghadapi kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari tanpa membuat cerita di kepala. Ilmu ini bukan tentang sesuatu, melainkan bersama sesuatu. Bahkan, pada tingkat yang lebih dalam, ia adalah kesadaran akan keberadaan itu sendiri. Di sinilah pendekatan SAT (Self Awareness Transformation) berpijak.
Kehadiran (hudhur) dalam kerangka ini dipahami sebagai fitrah (bawaan kepenciptaan), bukan keterampilan yang harus dipelajari. Mengapa disebut fitrah? Karena manusia sejatinya tidak perlu belajar cara hadir. Yang justru dipelajari sepanjang hidup adalah cara meninggalkan kehadiran. Sejak bayi, manusia sepenuhnya hadir: tubuhnya hadir, rasa laparnya hadir, tangisannya hadir, dan tidak ada simulasi masa depan atau penyesalan masa lalu. Bayi tidak memikirkan “nanti bagaimana” atau “seharusnya tadi tidak begitu”. Yang ada hanyalah realitas kini.
Namun, seiring pertumbuhan, manusia mulai belajar memprediksi, mengontrol, mengantisipasi, dan mengatur realitas melalui pikiran. Kemampuan ini berguna, tetapi juga membawa konsekuensi: manusia semakin jarang benar-benar hadir. Pikiran sibuk melompat ke masa depan atau mengulang masa lalu, sehingga realitas saat ini ditinggalkan. Dalam konteks ini, SAT tidak bertujuan menciptakan kehadiran, karena kehadiran sudah ada. SAT hanya membantu membuka kembali akses ke kehadiran yang tertutup oleh kebiasaan mental.
Karena itu, kehadiran tidak dapat dipahami sebagai teknik. Teknik selalu bersifat disengaja, dilakukan oleh “aku”, dan bertujuan mencapai kondisi tertentu. Misalnya, teknik relaksasi dilakukan agar tenang, teknik pernapasan dilakukan agar fokus, atau teknik meditasi dilakukan agar mencapai keadaan khusus. Kehadiran berbeda secara mendasar. Ia bukan kondisi, bukan hasil, dan bukan pencapaian. Ketika kehadiran diperlakukan sebagai teknik, ia segera berubah menjadi objek pikiran – dan saat itu juga ia berpindah kembali ke wilayah ilmu hushuli. Kehadiran pun hilang sebagai kehadiran.
Di sinilah muncul paradoks utama dalam SAT: kehadiran justru muncul ketika upaya berhenti. Semakin seseorang berusaha “menghadirkan diri”, semakin ia menjauh dari kehadiran itu sendiri. Maka, latihan dalam SAT bukanlah latihan untuk mencapai kehadiran, melainkan latihan untuk melonggarkan hambatan – seperti kebiasaan mengontrol, menilai, dan menarasikan – agar kehadiran yang sudah ada dapat kembali tampak dengan sendirinya.
Sekilas, kehadiran dalam SAT memang tampak mirip dengan mindfulness. Keduanya sama-sama mengajak seseorang menyadari momen saat ini, mengamati pikiran dan emosi yang muncul, serta terbukti dapat menurunkan reaktivitas berlebihan.
Dalam praktik sehari-hari, baik mindfulness maupun SAT dapat membuat seseorang lebih tenang, tidak mudah terseret emosi, dan lebih sadar terhadap apa yang sedang dialami. Di titik inilah banyak orang mengira bahwa kehadiran dalam SAT hanyalah bentuk lain dari mindfulness. Namun, kesamaan ini hanya berada di permukaan. Jika ditelusuri lebih dalam, perbedaannya bersifat mendasar – bukan sekadar soal teknik, tetapi soal cara memandang realitas itu sendiri.
Mindfulness pada dasarnya adalah metode psikologis. Ia bekerja dalam kerangka subjek yang mengamati objek: “aku” mengamati napas, pikiran, emosi, atau sensasi tubuh. Kesadaran berfungsi sebagai alat observasi. Karena itu, mindfulness berbasis latihan teknik yang dapat dipelajari, diulang, dan diukur manfaatnya, dengan tujuan utama seperti regulasi emosi, penurunan stres, dan peningkatan kesejahteraan psikologis. Mindfulness juga bersifat netral secara metafisik; ia tidak menuntut komitmen tertentu tentang hakikat realitas atau Tuhan.
Sebaliknya, kehadiran (hudhur) dalam SAT bukan metode psikologis, melainkan posisi ontologis – cara berada di dalam realitas. Di sini, relasi subjek dan objek tidak dipertahankan secara kaku. Ketika kehadiran terjadi, batas antara “aku yang mengamati” dan “sesuatu yang diamati” mulai melunak. Bukan karena dilebur secara konseptual, tetapi karena perhatian tidak lagi berdiri sebagai pengamat yang terpisah. Kehadiran dalam SAT tidak berbasis teknik, melainkan berbasis pengakuan terhadap fitrah: bahwa manusia sejak awal sudah berada dalam realitas, bukan di luar realitas.
Tujuan SAT pun berbeda. Jika mindfulness bertujuan pada pengelolaan atau regulasi emosi, SAT bertujuan pada kejujuran terhadap realitas sebagaimana adanya. Emosi tidak diatur agar nyaman, tetapi dihadiri agar nyata. Pikiran tidak diarahkan agar positif, tetapi dikenali sebagai bagian dari pengalaman yang muncul dan berlalu. Yang penting bukan hasil psikologisnya, melainkan kejernihan relasi dengan kenyataan.
Perbedaan ini menjadi semakin jelas pada dimensi metafisik. SAT bersikap tegas secara Tauhid. Dalam SAT, kehadiran tidak berhenti pada kesadaran diri atau kesadaran pengalaman. Ia justru mengarah pada Realitas yang menopang keberadaan diri itu sendiri. Allah tidak diposisikan sebagai objek kesadaran – tidak dihadapi, tidak divisualisasikan, dan tidak dijadikan pengalaman mental. Allah tidak “diamati”.
Sebaliknya, Allah disadari sebagai Realitas yang selalu hadir, bahkan ketika manusia lengah, sibuk, atau tidak sadar. Kehadiran dalam SAT bukan membuat “aku semakin sadar akan Allah” sebagai objek batin, tetapi membuat “aku menyadari bahwa aku selalu berada dalam kehadiran-Nya”. Di sini, kehadiran bukan pengalaman spiritual yang dicari, melainkan kesadaran eksistensial yang diakui.
Yang disadari dalam kehadiran adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu fakta ketergantungan eksistensial. Aku menyadari bahwa keberadaanku – napasku, kesadaranku, pikiranku, bahkan kemampuanku untuk lengah – tidak berdiri sendiri. Semua itu ada karena ditopang, bukan karena aku menciptakannya atau mengendalikannya. Kesadaran ini tidak memerlukan emosi religius, tidak memerlukan rasa khusyuk, dan bahkan tidak memerlukan pikiran tentang Tuhan.
Justru, kesadaran ini (ketergantungan) tetap benar bahkan ketika aku tidak memikirkan Allah samasekali. Saat aku sibuk bekerja, sedang marah, lupa diri, atau bahkan menolak secara batin, ketergantungan itu tidak berkurang sedikit pun. Kehadiran dalam pengertian ini bukan pengalaman spiritual puncak, melainkan kejujuran ontologis: mengakui bagaimana keberadaan benar-benar berlangsung.
Contoh sederhananya begini. Seseorang bernapas sepanjang hari tanpa sadar sedang bernapas. Ketika ia menyadarinya, napas itu tidak menjadi “lebih ada” dari sebelumnya. Ia hanya menyadari fakta yang sudah selalu berlangsung. Demikian pula dengan kehadiran: bukan Allah “datang” saat aku hadir, tetapi aku berhenti mengira bahwa aku berdiri sendiri.
Karena itu, kehadiran tidak melahirkan klaim istimewa, tidak membuat seseorang merasa lebih dekat atau lebih tinggi secara spiritual. Yang muncul justru kerendahan eksistensial (faqr) – kesadaran bahwa aku selalu bergantung, selalu ditopang, dan tidak memiliki apapun secara mandiri. Inilah bentuk kehadiran yang konsisten secara Tauhid, jujur secara filsafat, dan matang secara psikologis.
Dengan demikian, walaupun mindfulness dan kehadiran dalam SAT tampak serupa di permukaan, arah keduanya berbeda. Mindfulness mengasah kesadaran agar subjek lebih sehat dan stabil. SAT melatih kejujuran agar manusia kembali berdiri apa adanya di dalam realitas – realitas yang pada akhirnya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu ditopang oleh Allah. Dalam kehadiran, aku tidak menemukan Allah sebagai pengalaman, aku menemukan diriku sebagai makhluk yang selalu bergantung.
@pakarpemberdayaandiri






