Oleh: Syahril Syam *)
Dalam sebuah tinjauan ilmiah yang dilakukan oleh Hang Zeng (2025) berjudul “Neural Correlates of Growth Mindset: A Scoping Review of Brain-Based Evidence” yang diterbitkan di jurnal Brain Sciences (MDPI), peneliti berusaha memahami bagaimana otak bekerja secara berbeda antara orang yang memiliki growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui usaha, belajar, dan pengalaman, sedangkan fixed mindset adalah pandangan bahwa kemampuan seseorang bersifat tetap dan tidak bisa banyak berubah.
Untuk menjawab hal itu, Zeng mengumpulkan dan meninjau berbagai penelitian neurosains. Tujuan utamanya adalah menjawab satu pertanyaan besar: Apakah ada bukti dari sisi kerja otak yang membedakan orang dengan growth mindset dan fixed mindset?
Dengan cara ini, penelitian Zeng tidak hanya membahas teori psikologi tentang pola pikir, tetapi juga mencoba melihat dasar biologisnya, yaitu bagaimana aktivitas atau struktur otak mungkin berbeda antara kedua kelompok tersebut. Pendekatan ini membantu menjembatani dunia psikologi dan neurosains, menunjukkan bahwa cara seseorang berpikir tentang kemampuan dirinya bukan hanya masalah keyakinan mental, tetapi juga tercermin dalam pola aktivitas otak yang nyata.
Dalam penelitiannya, Hang Zeng menggunakan metode yang disebut scoping review, yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk memetakan hasil-hasil penelitian sebelumnya agar diketahui sejauh mana topik tertentu telah dipelajari, apa saja yang masih belum terjawab, dan ke mana arah penelitian selanjutnya bisa dikembangkan.
Dalam hal ini, Zeng meninjau 15 penelitian neurosains yang secara langsung mengukur aktivitas otak menggunakan alat seperti EEG (electroencephalography), fMRI (functional magnetic resonance imaging), dan MRI (magnetic resonance imaging) untuk memahami bagaimana growth mindset tercermin di otak manusia.
Dengan kata lain, Zeng mengumpulkan semua bukti ilmiah yang meneliti hubungan antara pola pikir berkembang (growth mindset) dan aktivitas otak, lalu menganalisisnya untuk menemukan pola umum dan celah penelitian yang masih perlu dikaji lebih lanjut. Kajian ini mencakup periode antara tahun 2006 hingga 2023, sehingga memberikan gambaran cukup luas tentang perkembangan riset di bidang ini.
Dari hasil tinjauan tersebut, Zeng menemukan beberapa hal menarik. Bahwa memang terdapat perbedaan aktivitas otak yang nyata antara orang yang memiliki growth mindset dan mereka yang berfixed mindset. Perbedaan ini paling jelas terlihat pada cara otak memproses kesalahan dan umpan balik (feedback).
Dalam penelitian EEG, misalnya, pola gelombang otak tertentu seperti ERN (Error-Related Negativity), Pe (Error Positivity), dan P3 menunjukkan reaksi yang berbeda tergantung pada jenis mindset seseorang. Selain itu, aktivitas di bagian otak depan (prefrontal cortex) – yang berperan penting dalam perencanaan, pengendalian diri, dan refleksi – juga tampak lebih aktif pada individu dengan growth mindset. Perbedaan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi menunjukkan bagaimana keyakinan seseorang tentang kemampuan dirinya (mindset) benar-benar memengaruhi cara otak memberi perhatian, memproses kesalahan, dan menyimpan informasi korektif.
Secara umum, orang dengan growth mindset menunjukkan reaksi otak yang lebih terbuka terhadap kesalahan, artinya mereka lebih memperhatikan kesalahan daripada menghindarinya. Mereka juga lebih cepat menyesuaikan strategi setelah menerima umpan balik, serta menunjukkan aktivasi lebih besar di area otak yang mendukung pembelajaran dan fleksibilitas, seperti prefrontal cortex dan anterior cingulate cortex. Temuan-temuan ini menguatkan pandangan bahwa growth mindset bukan sekadar pola pikir psikologis, melainkan juga tercermin dalam cara kerja otak yang lebih adaptif dan responsif terhadap pengalaman belajar.
Menurut kerangka pemikiran Carol Dweck, growth mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan bisa terus berkembang melalui usaha, belajar, dan ketekunan. Orang dengan mindset ini cenderung menyambut tantangan, tidak mudah menyerah ketika gagal, dan melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Sebaliknya, orang dengan fixed mindset percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan bersifat tetap. Karena itu, mereka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, dan menganggap kegagalan sebagai bukti keterbatasan diri.
Dari sudut pandang neurosains dan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi – pola pikir ini memiliki dampak nyata. Ketika kita berulang kali melihat tantangan sebagai kesempatan, bukan ancaman, maka pola pikir tersebut melatih otak untuk memperkuat jalur saraf (sirkuit neural) yang mendukung fleksibilitas kognitif, ketahanan mental, dan kemampuan belajar dari pengalaman. Dengan kata lain, mindset bukan hanya sekadar “cara berpikir” yang abstrak, tetapi merupakan kebiasaan mental yang membentuk cara otak bekerja.
Artinya, setiap kali kita memilih untuk belajar dari kesalahan, bukannya menghindar atau menyerah, kita sebenarnya sedang melatih otak agar menjadi lebih adaptif dan tangguh. Jadi, growth mindset tidak hanya membangun semangat belajar di tingkat psikologis, tetapi juga secara biologis memperkuat struktur dan koneksi otak yang mendukung pembelajaran dan perubahan positif.
@pakarpemberdayaandiri






