Oleh: Syahril Syam *)
Dalam pandangan spiritual dan Filsafat Hikmah, setiap peristiwa yang kita alami – entah menyenangkan atau menyakitkan – sebenarnya bukan sekadar kejadian acak. Semua keadaan hidup, seperti kegagalan, kehilangan, kesuksesan, konflik, bahkan cinta, merupakan “bahan mentah” bagi pertumbuhan dan evolusi kesadaran kita.
Setiap pengalaman membawa peluang untuk mengenali diri lebih dalam, memahami kehidupan dengan cara baru, dan mendekatkan kita pada hakikat keberadaan yang lebih tinggi. Filsafat Hikmah menjelaskan bahwa setiap keadaan adalah tajalli, yaitu penampakan atau manifestasi dari satu sumber wujud yang sama – Sang Maha Sempurna.
Artinya, apapun yang terjadi di luar diri kita sesungguhnya adalah cerminan dari keberadaan Ilahi dalam bentuk yang beragam. Tidak ada keadaan yang benar-benar terpisah dari Tuhan; semua hanyalah tingkat-tingkat wujud yang berbeda dalam satu kesatuan realitas.
Namun, yang paling menentukan bukanlah apa yang terjadi, melainkan bagaimana kita meresponsnya. Di sinilah kebebasan batin bekerja. Kita selalu memiliki dua pilihan utama: melawan atau menerima. Melawan berarti menolak kenyataan dan berusaha mengubah sesuatu yang sudah terjadi; sedangkan menerima berarti membuka diri untuk memahami makna yang tersembunyi di balik setiap pengalaman, meskipun tidak selalu mudah.
Ketika seseorang memilih resistensi atau penolakan, kesadarannya mulai terpecah. Energi batin menjadi padat dan tidak mengalir. Pikiran dipenuhi oleh pertanyaan seperti “siapa yang salah?”, “mengapa ini menimpa saya?”, atau “ini seharusnya tidak terjadi.” Emosi pun menjadi kacau – muncul rasa marah, takut, dendam, atau malu. Tubuh ikut bereaksi: otot menegang, napas pendek, dan vitalitas menurun. Pada tingkat yang lebih dalam, jiwa mulai merasa terpisah dari makna hidup dan dari Sang Maha Sempurna. Akibatnya, tingkat kesadaran menurun dan muncul dualitas: perasaan bahwa diri kita (“aku”) sedang berhadapan dengan dunia luar (“keadaan”). Energi yang seharusnya bisa digunakan untuk bertumbuh justru terkunci dalam penolakan.
Resistensi berarti munculnya “aku” yang berlawanan dengan realitas. Kalimat seperti “Aku tidak mau ini terjadi” atau “Mereka yang salah, bukan aku” adalah tanda bahwa kesadaran sedang terjebak dalam ilusi terpisah – muncul dua kutub: subjek dan objek, pengamat dan yang diamati, “aku” dan “yang lain”. Inilah yang disebut split consciousness atau kesadaran yang terfragmentasi.
Dari sisi ilmiah, kondisi resistensi ini berhubungan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf fight–flight, yang memunculkan gelombang otak beta tinggi, menandakan stres dan reaktivitas emosional. Sedangkan secara spiritual, resistensi adalah bentuk penolakan terhadap Arus Kehidupan – aliran eksistensi Ilahi yang sesungguhnya mengalir melalui setiap pengalaman kita.
Jalur kedua adalah penerimaan, yaitu keadaan batin ketika kita berhenti melawan realitas dan mulai membuka diri untuk memahami makna di balik setiap pengalaman. Ketika kita menerima dengan penuh kesadaran, kita tidak lagi sibuk menolak atau mencari siapa yang salah. Sebaliknya, kita mulai mendengarkan dengan hati: “Apa yang ingin diajarkan kehidupan melalui peristiwa ini?”
Kita menyadari bahwa setiap kejadian – baik itu kehilangan, kegagalan, maupun keberhasilan – adalah bagian dari perjalanan evolusi jiwa kita. Dengan cara pandang ini, peristiwa yang dulu terasa mengancam mulai terlihat sebagai pesan kesadaran yang membawa pertumbuhan.
Dalam kondisi penerimaan, energi batin yang tadinya terkunci oleh resistensi mulai mengalir kembali secara alami. Pikiran dan perasaan tidak lagi berlawanan, melainkan bekerja selaras. Kesadaran kita pun meningkat, bergerak dari keadaan terpecah menuju kesatuan. Kita mulai merasakan kedamaian yang tidak bergantung pada keadaan luar, karena sumber ketenangan itu kini muncul dari dalam diri sendiri.
Penerimaan bukan berarti pasrah tanpa tindakan, tetapi kesediaan untuk hadir apa adanya bersama apapun yang muncul – entah itu rasa sakit, takut, sedih, gembira, atau ketidakpastian. Dalam penerimaan, tidak lagi ada “aku” yang menentang pengalaman. Yang tersisa hanyalah kesadaran yang menyaksikan, memahami, dan membiarkan segalanya mengalir.
Pada momen ini, batas antara “pengamat” dan “yang diamati” mulai menghilang; kesadaran menjadi satu dengan pengalaman itu sendiri. Pikiran berhenti menilai, tubuh menjadi rileks, dan sistem saraf berpindah dari gelombang beta yang tegang menuju kondisi alpha–theta yang lebih harmonis dan tenang.
Secara ilmiah, keadaan ini menunjukkan pergeseran dari mode stres (fight–flight) ke mode pemulihan (rest–repair), dimana tubuh dan otak masuk ke ritme yang lebih seimbang. Secara spiritual, penerimaan adalah bentuk keterhubungan dengan Arus Kehidupan – membiarkan diri selaras dengan kehendak Ilahi tanpa perlawanan batin. Jadi, penerimaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan batin untuk tidak menambah konflik terhadap kenyataan yang sudah ada, dan justru menemukan kedamaian serta kebijaksanaan di dalamnya.
Dari pemahaman ini, kita bisa melihat bahwa apapun yang kita lawan justru akan terus melawan kita. Ketika kita menolak kenyataan – baik itu rasa sakit, kegagalan, atau kehilangan – energi dari penolakan itu tidak hilang, melainkan berbalik menekan diri kita sendiri. Semakin kita berusaha melawan, semakin kuat perlawanan itu muncul. Namun, ketika kita mulai menerima keadaan dengan kesadaran penuh, energi tersebut perlahan melunak, larut, dan berubah dengan sendirinya. Penerimaan bukan berarti kita menyetujui atau menyukai semua yang terjadi, melainkan kita berhenti memberi perlawanan batin terhadap kenyataan yang sudah ada, sehingga kehidupan dapat bergerak secara alami menuju keseimbangan.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, kesadaran yang menolak realitas adalah jiwa yang masih terikat pada dimensi materi, yaitu tingkat kesadaran yang terbatas oleh bentuk, waktu, dan ruang. Jiwa pada tingkat ini masih melihat segala sesuatu sebagai terpisah: ada “aku” dan ada “dunia luar”. Inilah yang membuat seseorang mudah terjebak dalam penderitaan dan konflik batin, karena pandangannya masih dualistik.
Sebaliknya, kesadaran yang mampu menerima dan memahami bahwa seluruh wujud pada dasarnya berasal dari satu sumber yang sama – inilah yang disebut “kesatuan keberadaan”. Dalam tingkat kesadaran ini, kita mulai menyadari bahwa diri kita, orang lain, dan seluruh peristiwa kehidupan adalah bagian dari satu realitas yang utuh dan saling terhubung. Tidak ada lagi perasaan terpisah antara “aku” dan “keadaan”, karena semuanya merupakan ekspresi dari Wujud yang Satu.
Secara ilmiah, penerimaan seperti ini menandai pergeseran dari sistem saraf yang reaktif menuju keadaan koheren, dimana otak dan jantung bekerja selaras. Secara spiritual, ini adalah bentuk tunduk sadar – bukan karena lemah, tetapi karena memahami bahwa kehidupan memiliki kebijaksanaannya sendiri. Maka benar adanya: yang kita lawan akan terus mengurung kita dalam ketegangan, sedangkan yang kita terima akan berubah, menyatu, dan membawa kita naik ke tingkat kesadaran yang lebih dalam.
@pakarpemberdayaandiri






