MAJALAHCEO.CO.ID (Banda Aceh): Malam di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, terasa berbeda, Senin (20/10/2025) itu. Gemerlap lampu dan denting musik mengiringi para penari yang sunggu atraktif menjadi momen pelecut bagi para penerima penghargaan bergengsi, Anugerah SPS Awards yang digelar Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia.
Namun, sorotan utama malam itu tertuju pada sosok Nasir Djamil — anggota DPR RI asal Aceh, yang menerima penghargaan bukan semata karena jabatan, melainkan karena akar perjalanan hidupnya sebagai wartawan.
Saat namanya dipanggil, Nasir berjalan perlahan ke atas panggung. Senyumnya lebar, tapi matanya menyimpan haru.
“Saya tidak menduga masuk dalam daftar penerima penghargaan bergengsi Prerana Awards ini,” ujarnya lirih, disambut tepuk tangan panjang.
Baginya, penghargaan ini seperti cermin masa lalu — mengingatkan kembali pada masa-masa ia mengejar berita, menulis naskah dengan mesin ketik tua, hingga berdebat soal idealisme di ruang redaksi.
“Saya dulu wartawan sebelum terjun ke dunia politik. Jadi penghargaan ini rasanya seperti pulang ke rumah,” ucapnya usai menerima penghargaan sambil tersenyum.
Nasir bukan sosok asing bagi kalangan jurnalis. Di parlemen, ia dikenal vokal dalam isu-isu kebebasan pers dan hak masyarakat sipil. Namun di balik ketegasannya, masih ada jiwa reporter yang tak hilang — rasa ingin tahu, semangat bertanya, dan ketelitian dalam membaca situasi.
“Mungkin saya satu-satunya eks wartawan yang sampai hari ini masih bertahan di Gedung DPR RI Senayan,” ujarnya berseloroh. “Teman-teman SPS bisa cek, siapa lagi yang tersisa dari dunia redaksi ke dunia politik. Saleum!”
Rekam jejaknya di dunia pers menjadi fondasi dalam karier politiknya. Ia memahami betul betapa pentingnya komunikasi publik yang jujur dan transparan. Dalam setiap rapat dan sidang, ia kerap mengingatkan agar pemerintah tidak alergi terhadap kritik.
“Pers adalah mata rakyat,” katanya suatu ketika. “Kalau mata itu ditutup, bangsa akan berjalan dalam gelap.”
Mengabdi tanpa lupa asal
Kini, di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Nasir Djamil masih sering menyempatkan diri membaca berita dari berbagai media lokal. “Kebiasaan wartawan itu sulit hilang,” katanya sambil tertawa. “Setiap pagi saya tetap baca berita, bukan karena ingin tahu politik, tapi karena ingin tahu denyut rakyat.”
Di ujung percakapan, ia menutup dengan kalimat sederhana namun penuh makna:
“Saya berterima kasih kepada SPS. Tapi penghargaan sesungguhnya bukan pada piala, melainkan pada keyakinan bahwa suara wartawan akan selalu dibutuhkan — bahkan di tengah hiruk pikuk politik sekalipun.”
Malam Prerana Awards itu memang bukan hanya milik Nasir. Beberapa tokoh Aceh turut menerima penghargaan, seperti T.A. Khalid, Marlina Usman, Irwansyah, Muchti, Fadlun, Maghdalina, dan Aminullah Usman. Mereka dinilai berperan besar dalam memperkuat komunikasi dan sinergi antara media dan masyarakat.
Ketua Umum SPS Indonesia, Januar P. Ruswita, dalam sambutannya mengatakan, Prerana Awards merupakan bentuk penghargaan bagi para tokoh inspiratif yang mendorong kemajuan ekosistem pers di daerah.
Sementara Ketua SPS Aceh, Muktarrudin Usman, menyebut pelaksanaan rangkaian agenda SPS di Aceh — mulai dari SPS Awarding Night, Rakernas hingga HUT ke-79 — sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah organisasi itu. (CEO/bwl)












