Oleh: Syahril Syam *)
Secara sederhana, stres sebenarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Pada dasarnya, stres adalah mekanisme alami tubuh yang dirancang untuk membantu kita beradaptasi ketika menghadapi ancaman atau tantangan. Saat stres muncul, tubuh mengaktifkan sistem yang disebut stress response, terutama lewat sumbu HPA (hipotalamus–pituitari–adrenal) dan sistem saraf simpatis.
Aktivasi ini memicu serangkaian reaksi biologis yang justru bermanfaat dalam jangka pendek. Misalnya, tubuh menjadi lebih waspada sehingga kita bisa lebih cepat bereaksi terhadap bahaya (mode fight-or-flight). Selain itu, tubuh juga memobilisasi energi tambahan dengan cara meningkatkan kadar gula darah dan mempercepat aliran darah ke otot, sehingga kita lebih siap bergerak.
Tidak hanya itu, stres membuat otak lebih fokus pada ancaman atau tantangan yang ada, sehingga perhatian kita tidak mudah terpecah. Dengan kata lain, stres adalah “alarm alami” tubuh yang membantu kita siaga, kuat, dan terkonsentrasi saat menghadapi situasi yang menekan.
Ketika kita menghadapi tuntutan, entah itu ujian, deadline pekerjaan, atau bahkan bahaya fisik, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem saraf simpatis. Akibatnya, jantung mulai berdebar lebih cepat, otot terasa tegang, dan otak menjadi lebih fokus. Semua reaksi ini sebenarnya adalah persiapan alami agar kita mampu menghadapi situasi yang menekan.
Dalam kondisi yang wajar, stres justru bisa memberi dorongan positif: kita jadi lebih waspada, lebih termotivasi, dan kinerja pun meningkat. Inilah yang disebut eustress, atau stres yang bermanfaat. Konsep ini pertama kali diperjelas oleh Hans Selye, seorang ilmuwan yang dikenal sebagai “Bapak Teori Stres”.
Menurutnya, stres tidak selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Ia membedakan dua sisi stres: eustress, yang bersifat positif karena mendorong pertumbuhan dan kesiapan, serta distress, yang negatif karena melemahkan dan menimbulkan dampak merugikan bagi tubuh maupun pikiran. Dengan kata lain, stres adalah energi yang bisa menjadi sahabat atau musuh, tergantung bagaimana kita mengelolanya.
Masalah muncul ketika stres berlangsung terlalu lama atau terlalu sering terjadi. Kondisi ini disebut stres kronis (kondisi distress yang terjadi dalam waktu lama). Jika respons stres yang seharusnya hanya aktif dalam keadaan darurat tidak pernah benar-benar “dimatikan”, tubuh akan terus berada dalam keadaan siaga tinggi. Akibatnya, sistem biologis yang awalnya bermanfaat justru berubah menjadi beban. Misalnya, kadar gula darah yang terus-menerus tinggi dapat meningkatkan risiko diabetes, aliran darah dan tekanan darah yang selalu tinggi bisa merusak jantung serta pembuluh darah, dan kewaspadaan yang berlebihan dapat membuat otak sulit beristirahat sehingga memicu gangguan tidur maupun kecemasan. Dengan kata lain, mekanisme yang awalnya dirancang untuk melindungi kita malah dapat merusak tubuh jika dipicu terus-menerus tanpa jeda.
Secara ilmiah maupun filosofis, distress tidak hanya lahir dari beratnya tuntutan yang kita hadapi, tetapi juga dari cara kita memaknai tuntutan tersebut. Dalam psikologi, Richard Lazarus dan Susan Folkman (1984) menjelaskan hal ini melalui teori cognitive appraisal. Proses ini terjadi dalam dua tahap: pertama, primary appraisal, yaitu bagaimana kita menilai suatu situasi – apakah itu ancaman, tantangan, atau justru peluang. Kedua, secondary appraisal, yaitu bagaimana kita menilai kemampuan diri sendiri dalam menghadapi situasi itu.
Distress muncul bukan karena tekanannya sendiri, melainkan karena kita menilainya melebihi kapasitas kita, atau merasa ego dan identitas diri kita terancam. Contoh sederhana bisa dilihat pada situasi presentasi mendadak. Seseorang yang memandangnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan akan merasakan eustress – semacam semangat positif yang memicu energi. Sebaliknya, orang yang menilainya sebagai ancaman terhadap reputasi akan mengalami distress, yaitu tekanan negatif yang melemahkan.
Di sinilah peran ego menjadi sangat besar. Ego yang terlalu dominan cenderung menafsirkan setiap tuntutan sebagai beban atau ancaman terhadap harga diri. Akibatnya, stres terasa berat dan melelahkan. Sebaliknya, jika ego lebih terkendali, tuntutan bisa dipandang sebagai amanah, tanggung jawab, atau bahkan kesempatan untuk berkembang.
Dengan cara pandang ini, stres terasa lebih ringan, bahkan bisa berubah menjadi dorongan positif. Misalnya dalam menghadapi deadline kerja: dengan ego yang kuat, pikiran bisa terjebak pada ketakutan, “Kalau aku gagal, reputasiku hancur!” – hasilnya distress. Tetapi dengan sudut pandang amanah, muncul ketenangan: “Ini tanggung jawabku, aku berusaha sebaik mungkin, dan hasil akhirnya aku serahkan pada Sang Maha Sempurna.” Dalam skenario ini, tuntutan yang sama justru bisa melahirkan eustress yang sehat.
Dan ternyata, banyak bentuk distress justru muncul bukan karena beban yang benar-benar besar, tetapi murni karena permainan ego. Secara psikologis, stres negatif tidak hanya lahir dari tuntutan eksternal (external demand), tetapi juga dari cara kita memaknainya secara internal. Ego seringkali memperbesar masalah kecil, mudah tersulut oleh rasa tersinggung, cemburu, iri, atau takut kehilangan wibawa. Bahkan, ego bisa menciptakan standar perfeksionis yang tidak realistis sehingga setiap hal terasa seperti ancaman. Akibatnya, stres tetap muncul meski situasi objektifnya ringan atau bahkan netral. Misalnya, seorang rekan kerja yang tidak sempat menyapa bisa ditafsirkan ego sebagai bentuk meremehkan, padahal mungkin orang itu hanya sibuk. Atau ketika deadline masih tiga hari lagi, yang seharusnya cukup waktu, ego menuntut kesempurnaan “harus tanpa cela”, sehingga muncullah stres yang sebenarnya tidak perlu.
Dari perspektif spiritual, khususnya dalam tradisi irfan, ego yang dikenal sebagai nafs ammarah (jiwa pengajak kepada keburukan) memang cenderung menciptakan stres palsu dari ilusi ancaman yang bukan amanah nyata. Sebaliknya, orang yang ikhlas memandang setiap keadaan sebagai amanah dari Sang Maha Sempurna akan lebih jarang jatuh dalam distress, meskipun menghadapi situasi yang sama beratnya.
Dalam kerangka ini, stres bukan lagi dipandang sebagai serangan terhadap diri, melainkan sebagai ladang latihan jiwa dan tanggung jawab yang harus dijalani. Hal ini sejalan dengan bukti ilmiah. Penelitian klasik oleh Cohen dan koleganya (1983) yang melahirkan instrumen Perceived Stress Scale (PSS) menunjukkan bahwa tingkat stres seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi – bukan semata oleh jumlah tuntutan nyata. Dua orang dengan beban kerja yang sama bisa merasakan stres yang sangat berbeda, tergantung cara pandangnya.
Dengan demikian, distress dapat muncul meskipun tidak ada tekanan berlebihan, jika ego menafsirkan situasi secara keliru. Sebaliknya, eustress bisa hadir bahkan dalam situasi sulit, ketika kita memandangnya sebagai amanah atau tanggung jawab, bukan ancaman. Dalam konteks stres, ego dapat dipahami sebagai cara pandang diri yang terlalu terikat pada identitas, gengsi, dan kebutuhan akan pengakuan. Ego inilah yang sering menjadi “kaca pembesar” masalah. Ia menafsirkan tuntutan atau peristiwa yang sebenarnya wajar sebagai ancaman terhadap harga diri. Akibatnya, tantangan kecil bisa terasa seperti beban besar hanya karena muncul rasa takut gagal, malu, atau tidak dihargai. Fokus seseorang pun bergeser: bukan lagi pada amanah atau esensi tugas itu sendiri, melainkan pada bagaimana citra diri akan terlihat di mata orang lain.
Dengan kata lain, ego adalah bentuk persepsi diri yang sempit dan rapuh, yang mudah bereaksi berlebihan begitu merasa harga diri atau reputasi terganggu. Inilah yang sering membuat stres berubah menjadi distress – tekanan yang melemahkan. Sebaliknya, ketika ego lebih terkendali dan tuntutan dipandang sebagai tanggung jawab, tantangan yang sama bisa melahirkan eustress – dorongan positif yang memberi energi dan motivasi. Itulah sebabnya, kerangka religius maupun spiritual memberi sudut pandang yang sangat menolong. Semua tuntutan pada dasarnya bisa dipandang sebagai amanah, bukan beban.
Ketika ditempatkan pada level amanah, stres justru menjadi pemicu lahirnya kualitas batin yang mulia – seperti kesabaran, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan sikap tawakal. Namun, bila tuntutan dipandang dari kacamata ego, stres segera berubah menjadi hal yang melemahkan: lahir kecemasan, rasa iri, takut gagal, hingga kemarahan. Dengan kata lain, distress tidak hanya lahir dari beratnya tekanan, tetapi lebih sering muncul karena cara ego menafsirkan tekanan itu. Perspektif amanah mengubah energi stres menjadi dorongan pertumbuhan, sedangkan perspektif ego menjadikannya beban yang menyiksa.
@pakarpemberdayaandiri






