MAJALAHCEO.co.id, Medan — Tim asesor revalidasi Geopark Kaldera Toba yang diutus UNESCO Global Geopark (UGG) telah selesai menjalankan tugasnya di kawasan Danau Toba.
Di tangan merekalah nanti (rekomendasi) nasib status Kaldera Toba ditentukan, apakah kembali meraih kartu hijau (green card), atau sebaliknya dikeluarkan dari keanggotaan UGG karena belum keluar dari status kartu kuning karena pengelolaanya tidak dijalankan sesuai rekomendasi UGG.
Selama empat hari, sejak Senin-Kamis (21-24 Juli 2025), dua validator dari UNESCO, masing-masing Prof Jeon Yongmun dari Korea Selatan dan Prof Jose Brilha dari Portugal, memulai misinya di Kaldera Toba dari gerbang Bandara Silangit, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara. Sumatra Utara, Senin (21/6/2025).
Keduanya mengikuti rute yang telah ditetapkan untuk melihat progress pemenuhan 4 rekomendasi yang diberikan pada revalidasi sebelumnya, dan diakhiri pada Kamis (24/6/2025) di Geosite Silahisabungan, Kabupaten Dairi.
Manajer Divisi Kerja Sama, Promosi dan Publikasi Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Tikwan Raya Siregar, mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumut dan 7 pemerintah kabupaten yang memiliki geosite di Kaldera Toba menunjukkan komitmennya di hadapan kedua asessor melalui greeting dan speech singkat pada kesempatan acara penyambutan makan siang atau makan malam.
Kedua asesor juga aktif memberikan berbagai saran dan pertanyaan kritis untuk mendapatkan kejelasan pengelolaan geopark yang pada akhirnya bermuara pada upaya meyakinkan mereka bahwa Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark akan dapat melakukan misinya secara berkelanjutan, yang ditunjukkan dengan adanya berbagai informasi, evident, dan kemajuan yang dilakukan selama dua tahun terakhir.
Kebakaran Hutan dan Air Danau Toba
Isu-isu yang dikhawatirkan banyak kalangan tentang kebakaran lahan dan hutan dan perubahan warna air Danau Toba yang terjadi menjelang dan saat proses revalidasi berlangsung ternyata tidak terlalu mempengaruhi perhatian para asesor UGG.
Tikwan memaparkan, kebakaran sudah dianggap sebagai isu global dan bisa terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara dengan mitigasi bencana yang lebih maju.
“Para asesor lebih memilih sikap bahwa masalah ini dipandang sebagai masalah bersama dan semua pihak harus dalam satu barisan untuk menghadapinya,” kata Tikwan kepada pers, Sabtu (26/7/2025).
Pihaknya selaku Badan Pengelola Toba Caldera, papar Tikwan, juga telah menentukan sikap bahwa misi pendidikan lingkungan perlu dikuatkan untuk memberikan kesadaran yang lebih tinggi bagi semua pihak agar lebih siaga dan dapat lebih meningkatkan kemampuan menghindari risiko lingkungan.
Dia menjelaskan, para asesor lebih banyak mencurahkan perhatian pada pengembangan outcrops (singkapan batu) baru dan tata kelola manajemen di tubuh BP Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
“Kami optimis bahwa misi ini sangat positif bagi kita dan bagi agenda UNESCO sendiri sebagai lembaga yang memang harus menyupervisi jaringan geopark-nya. Apalagi Toba Caldera adalah aset geologis yang sangat berharga secara internasional,” kata Tikwan dan menambahkan, Prof Jeon mengakui, karena pentingnya misi ini, mereka diberikan suatu beban tersendiri dalam merevalidasi Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
“It’s a tough mission to us (ini adalah misi yang sulit bagi kami),” kata Tikwan mengutip pengakuan Prof Jeon setelah mempelajari berbagai dokumen yang diberikan UNESCO kepada tim asesor.
Sebagaimana diberitakan, sebagian permukaan air Danau Toba berubah keruh, jadi berwarna kecoklatan. Salah satunya terjadi di wilayah Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, Edison Pasaribu, mengatakan, salah satu penyebabnya ialah faktor alam sebagai dampak kondisi kemarau dan angin kencang melanda wilayah Danau Toba baru-baru ini,
seperti dikutip dari medanbisnisdaily.com, Minggu (27/7/2025) malam.
(KTS/rel)












