Perasaan Ditolak dan Kesepian Bisa Bikin Tubuh Sakit Sampai ke Level Genetik

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Penelitian dari George Slavich dan Steven Cole (2013) membuka bidang baru yang disebut Human Social Genomics, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana pengalaman sosial kita bisa memengaruhi cara gen dalam tubuh bekerja. Artinya, hubungan sosial, stres, kesepian, atau dukungan dari orang lain ternyata tidak hanya berdampak pada pikiran dan perasaan, tetapi juga bisa mengubah aktivitas gen. Salah satu temuan utama mereka adalah tentang sesuatu yang disebut CTRA (Conserved Transcriptional Response to Adversity).

CTRA dapat dipahami sebagai pola “alarm biologis” yang aktif ketika tubuh merasa berada dalam ancaman, baik ancaman nyata maupun ancaman psikologis. Saat pola ini menyala, ada perubahan pada aktivitas gen. Beberapa gen tertentu akan lebih aktif, terutama gen pro-inflamasi yang meningkatkan peradangan. Ini berguna jika tubuh sedang menghadapi luka atau infeksi karena peradangan membantu mempercepat pertahanan tubuh. Namun, pada saat yang sama, gen antivirus justru ditekan, sehingga kemampuan tubuh melawan virus melemah.

Dengan kata lain, tubuh seolah memilih strategi bertahan terhadap ancaman fisik jangka pendek (misalnya luka atau serangan bakteri), tetapi mengorbankan perlindungan terhadap virus yang sering berkembang lebih pelan. Pola ini bisa bermanfaat jika ancaman benar-benar terjadi, namun jika berlangsung terus-menerus akibat stres sosial atau kesepian kronis, maka CTRA justru bisa merugikan kesehatan jangka panjang.

Bayangkan seseorang yang sering merasa kesepian atau terisolasi dari lingkungannya. Meskipun tidak sedang sakit atau terluka, tubuhnya menangkap kondisi itu sebagai sebuah ancaman. Sistem biologis kita, yang terbentuk sejak zaman nenek moyang, “membaca” kesepian seperti hidup sendirian di hutan tanpa perlindungan kelompok.

Dalam situasi itu, tubuh otomatis mengaktifkan pola CTRA. Akibatnya, gen pro-inflamasi menjadi lebih aktif. Tubuh seolah-olah sedang bersiap kalau sewaktu-waktu diserang atau terluka. Namun, di saat yang sama, gen antivirus justru dilemahkan. Artinya, kemampuan tubuh melawan virus seperti flu atau infeksi pernapasan menurun. Itulah sebabnya, orang yang sering kesepian atau mengalami stres sosial cenderung lebih mudah sakit flu atau pilek.

Contoh lainnya, ketika seseorang berada dalam konflik sosial yang berkepanjangan – misalnya masalah keluarga, pertengkaran dengan pasangan, atau tekanan di tempat kerja – tubuh akan terus menerus menyalakan “alarm biologis” ini.

Peradangan dalam tubuh meningkat, sementara pertahanan terhadap virus melemah. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa memicu masalah kesehatan kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, atau sistem kekebalan tubuh yang rapuh.

Dengan kata lain, tubuh kita tidak bisa membedakan antara ancaman fisik nyata dan stres sosial/emosional. Semua dianggap sebagai ancaman yang sama. Inilah inti temuan Slavich dan Cole (2013): pengalaman sosial sehari-hari ternyata bisa masuk sampai ke level gen, memengaruhi kesehatan kita secara nyata.

Penting untuk dipahami bahwa peradangan tidak selalu muncul karena ada luka fisik yang terlihat di tubuh. Dalam ilmu kedokteran, peradangan (inflamasi) sebenarnya adalah salah satu cara alami tubuh untuk bertahan hidup. Dalam kondisi normal, peradangan muncul ketika tubuh mengalami luka atau infeksi. Sistem kekebalan segera bereaksi dengan mengirimkan sel-sel imun dan zat kimia untuk melawan bakteri, membersihkan jaringan yang rusak, dan mempercepat penyembuhan. Itulah mengapa luka sering terlihat bengkak, kemerahan, dan terasa panas – itu tandanya tubuh sedang bekerja memperbaiki diri.

Namun, penelitian mutakhir – termasuk kajian oleh Slavich dan Cole (2013) – menunjukkan bahwa peradangan juga bisa dipicu oleh faktor non-fisik, seperti stres psikologis, kesepian, atau tekanan sosial. Mekanismenya cukup menarik: ketika seseorang merasa cemas, dikucilkan, atau menghadapi tekanan sosial yang berat, otak membaca kondisi itu sebagai sebuah ancaman. Otak kemudian mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh melalui sistem saraf dan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, untuk bersiap siaga. Respons ini lalu mengaktifkan gen-gen tertentu yang meningkatkan produksi molekul pro-inflamasi (disebut sitokin), seolah-olah tubuh benar-benar sedang menghadapi serangan dari luar.

Akibatnya, peradangan bisa terjadi di dalam tubuh meskipun tidak ada luka fisik. Jenis peradangan ini sering disebut sebagai peradangan kronis tingkat rendah (low-grade inflammation). Gejalanya tidak selalu langsung terasa, tetapi jika berlangsung dalam waktu lama, ia dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan mental seperti depresi.

Dengan kata lain, emosi negatif, stres sosial, dan kesepian dapat menyalakan “api kecil” peradangan dalam tubuh, meskipun kulit dan organ luar terlihat baik-baik saja. Api kecil ini, bila dibiarkan terus menyala tanpa padam, perlahan-lahan bisa merusak kesehatan dari dalam.

Artinya, pikiran dan pengalaman sosial kita bukan hanya sekadar urusan “perasaan” yang lewat begitu saja. Mereka benar-benar bisa mengubah cara gen tubuh bekerja. Penelitian dalam bidang human social genomics menunjukkan bahwa hubungan sosial yang sehat dan penuh dukungan dapat membuat gen-gen yang mendukung penyembuhan dan kekebalan tubuh menjadi lebih aktif. Sebaliknya, ketika seseorang hidup dalam penolakan, kesepian, atau konflik sosial, maka gen pro-inflamasi akan terus menyala, membuat tubuh berada dalam kondisi siaga bahaya yang melelahkan.

Dalam situasi konflik sosial, pikiran negatif seperti “dia tidak suka saya, berarti saya sendirian dan tidak berharga” dapat menciptakan rasa terancam. Rasa terancam secara sosial ini tidak hanya ada di kepala, tetapi sampai ke level biologis, memicu ekspresi gen pro-inflamasi. Orang yang sering merasa sendirian, tidak berdaya, dan khawatir ditolak cenderung hidup dengan tubuh yang terus-menerus menyalakan alarm bahaya. Akibatnya, gen pro-inflamasi aktif, peradangan meningkat, sistem antivirus melemah, sehingga tubuh lebih gampang terserang flu atau infeksi. Jika berlangsung lama, risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, atau depresi pun ikut meningkat.

Sebaliknya, jika seseorang memiliki mindset yang lebih positif – misalnya berpikir “mungkin ada salah paham, saya bisa belajar komunikasi lebih baik” – maka rasa terancam berkurang. Perasaan aman, diterima, dan berharga akan muncul, membuat tubuh menjadi lebih tenang.

Dalam kondisi ini, CTRA (Conserved Transcriptional Response to Adversity) tidak terlalu aktif. Artinya, gen pro-inflamasi tetap seimbang, sistem antivirus berfungsi dengan baik, dan tubuh menjadi lebih sehat serta memiliki energi yang lebih stabil. Dengan kata lain, cara kita memandang diri sendiri dan orang lain dalam interaksi sosial berpengaruh langsung pada kesehatan tubuh hingga level genetik. Dukungan sosial dan mindset positif bukan hanya membuat hati lebih tenang, tapi juga secara nyata menjaga sistem imun kita tetap kuat.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *