Gaikindo Ungkap Pasar Mobil di Indonesia Masih Lesu

Foto ilustrasi pameran GIIAS 2025 [foto ist]

MAJALAHCEO.co.id, Jakarta  – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa pasar mobil di Indonesia sedang mengalami penurunan signifikan.

Pada Juni 2025, distribusi mobil dari pabrik ke dealer (wholesales) anjlok 22,6% menjadi 57.760 unit dibandingkan 74.615 unit pada Juni 2024. Penjualan ritel juga turun 12,3%, dari 70.290 unit menjadi 61.647 unit. Penyebab utama adalah pelemahan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global. Industri berharap pameran GIIAS 2025 dapat menjadi pendorong pemulihan pasar melalui peluncuran model baru, promo, dan diskon besar-besaran.

Di pasar mobil bekas, harga mobil mewah cenderung terjun bebas karena tingginya biaya perawatan, pajak barang mewah, depresiasi cepat (50-70% dalam beberapa tahun), dan pasar yang lebih kecil dibandingkan mobil biasa. Mobil Eropa, seperti BMW dan Mercedes-Benz, juga mengalami penurunan nilai jual kembali karena teknologi rumit, suku cadang mahal, konsumsi bahan bakar tinggi, dan keterbatasan bengkel resmi.

Sementara itu, penjualan mobil listrik baru di AS juga turun 10,7% pada Mei 2025, tetapi mobil listrik bekas justru melonjak 32,1% secara tahunan, menunjukkan pergeseran minat konsumen. Di Indonesia, merek seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda masih mendominasi, sementara merek Tiongkok seperti BYD mulai menarik perhatian dengan harga kompetitif dan kendaraan listrik

Menghadapi krisis ini, Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, akhirnya angkat bicara. Ia mengakui bahwa industri sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, namun menaruh harapan besar pada perhelatan GIIAS yang akan datang.

“Bulan depan (Juli) ditopang oleh yang namanya GIIAS, kita harapkan market domestik bisa akan membaik,” kata Nangoi di Jakarta.

Pameran otomotif terbesar di Asia Tenggara itu kini bukan lagi sekadar ajang pamer teknologi, melainkan sebuah pertaruhan besar untuk membangkitkan kembali gairah pasar yang sekarat.

“Saya harus menyikapi dengan sangat hati-hati sekali. Karena industri otomotif merupakan barometer kesuksesan ekonomi suatu negara, terutama negara besar seperti Indonesia,” ujarnya.

Anjloknya penjualan mobil adalah cerminan dari kesehatan ekonomi nasional yang lebih luas. Untuk itu, Gaikindo tak tinggal diam. Diskusi intensif dengan pemerintah terus dilakukan untuk mencari jalan keluar.

Sebuah “terobosan” kini menjadi kata kunci yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pelaku industri.

“Kami juga sudah berdiskusi dengan pemerintah untuk mencari terobosan-terobosan baru. Terobosan seperti apa, apakah insentif baru atau revolusi dalam bidang perpajakan, dan segala macam, nanti kita akan lihat sama-sama,” tutur Nangoi, memberi sinyal bahwa langkah drastis mungkin akan segera diambil, seperti dikutip dari sindonews.com, Rabu [9/7] malam.

[sam/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *