MAJALAHCEO.co.id, Jakarta – Proyek pembangunan IKN awalnya direncanakan untuk didanai sebagian besar oleh investor, namun anggaran proyek yang mencapai sekitar Rp466 triliun tersebut mengalami perubahan.
Hal itu memancing beragam reaksi publik. Masih terhambatnya minat investor asing untuk mendanai proyek IKN Nusantara di Kalimantan Timur menjadi perhatian serius. Beberapa waktu lalu, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengakui bahwa pembangunan tahap awal belum selesai, yang menjadi alasan utama bagi ketidakpastian ini.
Banyaknya kritik terkait pembangunan IKN ini, mendapat tanggapan pengamat politik Andre Vincent Wenas. Andre menilai, semua kritik dan perdebatan soal IKN justru sebagai hal positif.
“Ini menunjukkan kepedulian dan keterlibatan masyarakat luas terhadap inisiatif perpindahan ibu kota negara,” kata Andre di Jakarta, Rabu (24/7).
Politisi PSI ini melihat, adanya protes, kritikan, nyinyiran dan hinaan adalah hal biasa dalam manajemen perubahan.
“Gravitasi ini memang nyata dan memang perlu juga. Dalam “change management” disebut sebagai faktor pengendali yang bisa menancapkan jangkar agar kita tidak hanyut mengawang-awang di alam khayal,”kata Andre.
Andre melihat, proyek besar IKN ini mau tidak mau telah menggeret mental bangsa untuk jadi revolusioner dan progresif.
“Event peringatan hari kemerdekaan yang hybrid (di IKN dan di Jakarta) adalah suatu bentuk perayaan yang dalam change-management diperlukan untuk menjaga momentum perubahan itu,” tutur Andre.
Andre menganggap, pembangunan IKN ini bukan pekerjaan setahun dua tahun. Andre mencontohkan tahapan realisasi dibagi menjadi lima fase.
Fase pembangunan pertama tahun 2022-2024, disebut dengan pemindahan tahap awal. Fase kedua periode 2025-2029, disebut dengan pembangunan IKN sebagai area inti yang tangguh.
Fase ketiga 2030-2034 yakni melanjutkan pembangunan IKN dengan lebih progresif. Fase keempat 2035-2039 membangun seluruh infrastruktur dan ekosistem tiga kota untuk percepatan pembangunan Kalimantan.
Dan fase kelima 2040-2045 mengokohkan reputasi IKN sebagai kota dunia untuk semua. Andre yakin memindahkan ibu kota negara sebagai bagian integral dari proses revolusi mental bangsa.
“Bukan sekedar pembangunan fisiknya saja, tetapi lebih dalam dari segi mental kultural yang berdampak pada perubahan paradigmatik, perubahan sikap mental bangsa,” tutup Andre.
[nug/red]












