Catatan D. Supriyanto Jagad N *)
Beberapa hari ini, publik dibuat geger dengan pernyataan mantan Gubernur Sumatera Utara Eddy Rahmayadi. Di hadapan media saat mendatangi DPP PKB untuk menjalani uji kelayakan dan kepatuhan (UKK) cagub Sumut, Eddy melontarkan pernyataan yang menyinggung Bobby Nasution yang juga menantu Presiden Jokowi, terkait dengan Pilgub Sumut 2024. Edy mengaku siap melawan menantu Presiden bahkan menantu malaikat sekalipun.
“Saya sama siapa pun, jangankan mantunya presiden, sama mantunya malaikat pun, kalau boleh kita lawan,” demikian kata Edy di Gedung DPP PKB, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2024).
Pernyataan Eddy pun direspon keras Ketua DPD Propas Sumatra Utara, Bendry Bosner Sagala. Menurutnya, pernyataan Edy itu dinilai rawan, serta langsung menghantam simbol, lambang kepercayaan agama-agama di tanah air.
“Ya, kami keberatan atas pernyataan ‘mantu malaikat’ itu. Karena pengertiannya seolah malaikat (pernah, red) punya mantu”, ujar Bendry.
Itulah sebabnya, kata relawan Prabowo-Gibran dalam Pemilu 2024 itu, DPD Propas meminta MUI Sumut segera menasihati Edy Rahmayadi untuk tidak membuat lelucon atau kelakar dengan mengeksploitasi simbol dan lambang agama-agama samawi yang ada di Indonesia, khususnya Sumatra Utara.
Bendry khawatir bahwa eksploitasi simbol dan lambang agama-agama tadi dapat mengganggu kerukunan antar-umat beragama di Sumatra Utara. Khususnya karena Edy seorang muslim. Itulah sebabnya MUI diminta ambil bagian serta berperan dengan memberi bimbingan dan nasihat keagamaan.
Eddy memang dikenal suka bicara ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling, mirip Raden Wisanggeni dalam tokoh pewayangan, yang angkuh, berani, tegas, dan blak-blakan. Ia tak segan berbicara ceplas-ceplos, bahkan kepada para dewa. Namun di balik itu semua, Wisanggeni berhati mulia dan selalu siap menolong orang lain.
Wisanggeni selalu berbicara apa adanya, meskipun terkesan ceplas-ceplos. Dia tidak suka bertele-tele dan lebih memilih menyampaikan tujuannya secara langsung. Wisanggeni memiliki pendirian yang teguh dan tidak mudah goyah. Dia berani mempertahankan apa yang dia yakini benar.
Gara-gara kebiasaan Eddy yang bicara tanpa rem, mantan Pangkostrad ini sempat dilarang memberikan kata sambutan tanpa menggunakan naskah atau teks pada sidang paripurna DPRD Sumut.
Awalnya, Edy bercerita ingin mencontoh Presiden Jokowi pada Sidang Tahunan DPR/MPR 2023. Katanya, Jokowi memberi kata sambutan tanpa membaca teks.
“Saya sebenarnya ingin seperti Pak Presiden itu, jangan pakai teks. Jadi, apa yang di otak, apa yang di hati, itu yang keluar dari mulut,” kata Edy di Gedung DPRD Sumut.
Namun, eks Ketum PSSI itu mengatakan, kemauannya itu ternyata dilarang oleh Sekretaris Dewan DPRD Sumut atas permintaan Ketua DPRD Sumut, Baskami Ginting.
“Tapi tahu-tahu, dilarang sama Sekwan (sekretaris dewan). Katanya tak diizinkan oleh Ketua DPRD (Sumut), jadi harus, saya tanya kenapa? Karena bapak suka-suka bapak ngomong. Nanti kami pusing menetralisirnya,” kata Edy yang bercerita.
Bicara ceplas-ceplos, itu sah-sah saja. Namun sebagai seorang publik figur, alangkah bijak jika Eddy bisa menyampaikan sesuatu dengan kesantunan.
Sebagai orang yang dilahirkan dalam kultur masyarakat jawa, saya teringat pesan orang tua berhati-hati dalam setiap perkataan. Kita diajarkan untuk berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, karena mereka yang sudah Jawa (maksud Jawa disini adalah orang yang sudah mengolah rasa dan hati dengan baik) akan cenderung berhati-hati dalam berbicara dan berkomentar, karena setiap perkataannya akan menjadi kenyataan. Seperti daya magnet yang menarik segala hal. Berpikir baik dan berkata yang baik adalah kunci.
Meskipun ini bercanda, karena kekuatan dan sugesti dari kalimat yang keluar dari diri kita menjadikan kenyataan. Berbicara pada saat dan momen yang tepat adalah pilihan terbaik dalam sebuah kebijaksanaan.
Ajining Diri Gumantung Ana Ing Lathi. Filosofi Jawa ini mengajari tentang nilai diri seseorang tercermin dari ucapannya. Karena ucapan adalah ringkasan dari pikirannya. Ketenangan di dalam diri kita salah satunya bersumber dari ucapan kita sehari-hari.
Jangan pernah untuk mencoba menyerang orang lain hanya untuk menunjukkan bila kita lebih superior. Di awal memang terlihat keren, tetapi lama kelamaan kita sering dihantui ketidaktenangan yang membuat kita resah dan merasa bersalah.
Jangan pernah mencoba berbicara dengan umpatan, ya meskipun beberapa sudah biasa karena sudah amat kenal. Tapi ada baiknya kita belajar, karena sebagian besar dari kita menginginkan menjadi pemimpin yang baik, menjadi orang tua yang baik, supaya anak-anak kita, genernasi muda kita tidak meniru perkataan kita yang kurang pantas. Karena ceplas-ceplos dengan kalimat buruk dan umpatan ini secara tidak langsung terkadang menurun ke anak-anak. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin, seorang publik figur seperti Eddy Rahmayadi.
*) Pekerja media, penikmat kopi pahit










