CILEGON, MAJALAH CEO. Usia 72 tahun bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru pada usia yang tidak lagi muda, Pakde Turijo membuktikan bahwa semangat kewirausahaan tidak mengenal batas usia. Berawal dari usaha sederhana yang dirintis bersama sang istri menjelang masa pensiun, kini ia berhasil mengembangkan bisnis minuman herbal hingga menembus pasar internasional.
Perjalanan tersebut menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana ketekunan, keberanian berinovasi, serta kemauan untuk terus belajar mampu mengubah usaha rumahan menjadi bisnis yang memiliki daya saing global.
Pakde Turijo, yang sebelumnya merupakan karyawan PT Krakatau Steel, mulai mengenal dunia usaha pada 2006. Empat tahun menjelang pensiun, ia bersama istrinya mendapatkan bekal pelatihan kewirausahaan. Dari sinilah muncul keputusan untuk membangun usaha minuman herbal dengan memanfaatkan kekayaan rempah-rempah Indonesia.
Menariknya, usaha tersebut pada awalnya lebih banyak dijalankan oleh sang istri. Berbekal kegemaran meracik minuman tradisional, sang istri mulai memperkenalkan produk kepada tetangga, saudara, hingga lingkungan kegiatan PKK.
Promosi dilakukan secara sederhana. Produk dibagikan untuk dicoba, kemudian diperkenalkan melalui jaringan pertemanan dan organisasi masyarakat. Dari lingkungan kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten, jangkauan pemasaran perlahan semakin luas.
Setelah pensiun, Pakde Turijo mulai mencurahkan perhatian penuh untuk mengembangkan bisnis bersama istrinya.
Dari Minuman Cair Menuju Inovasi Produk Serbuk
Pada tahap awal, produk yang dihasilkan masih berupa minuman herbal cair dalam kemasan botol. Namun, keterlibatan dalam berbagai pameran menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait daya tahan produk.
Tidak ingin berhenti pada keterbatasan tersebut, Pakde Turijo bersama istrinya mulai melakukan pengembangan produk. Minuman herbal cair kemudian diinovasi menjadi produk serbuk melalui proses kristalisasi.
Inovasi ini menjadi langkah penting karena produk lebih praktis, mudah dibawa, dan memiliki karakteristik penyimpanan yang berbeda dibandingkan produk cair.
Sejumlah varian dikembangkan, mulai dari jahe merah, wedang uwuh, kunyit, temulawak, hingga empon-empon yang mengombinasikan beberapa jenis rempah.
Pengembangan produk juga tidak semata-mata berdasarkan gagasan produsen. Masukan konsumen menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menciptakan varian baru.
Bahkan, perusahaan turut mengembangkan kopi rempah dengan kadar gula lebih rendah untuk menjawab kebutuhan pasar tertentu, termasuk calon konsumen di luar negeri.
Penjualan Melonjak 600 Persen Saat Pandemi Covid-19
Salah satu fase paling menarik dalam perjalanan bisnis Pakde Turijo terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020.
Ketika banyak pelaku UMKM menghadapi penurunan penjualan, bisnis minuman herbal yang dikembangkannya justru mengalami pertumbuhan signifikan.
Menurut Pakde Turijo, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap produk berbahan jahe merah dan rempah-rempah menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan.
Ia mengungkapkan bahwa penjualan produknya sempat meningkat hingga 600 persen selama pandemi.
Momentum tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mengejar peningkatan penjualan sesaat. Pakde Turijo justru memikirkan strategi agar pertumbuhan bisnis tetap terjaga setelah pandemi berakhir.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas jaringan distribusi, dari toko-toko di wilayah Serang hingga memasuki jaringan ritel dan grosir di Jakarta.
Dukungan pemerintah daerah melalui Dinas UMKM Provinsi juga menjadi salah satu pintu masuk bagi produknya untuk memperoleh kesempatan memperluas pasar.
Empat Kali Ditolak, Akhirnya Berhasil Masuk Pasar Modern
Perjalanan menuju pasar modern ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Pakde Turijo mengungkapkan bahwa produknya sempat beberapa kali ditolak ketika diajukan ke jaringan ritel. Persoalan utamanya bukan terletak pada produknya, melainkan kemasan yang dinilai belum memenuhi standar dan kebutuhan pasar.
Alih-alih menyerah, ia memilih memperbaiki kekurangan tersebut.
Bahkan, ia mengikuti pembelajaran mengenai kemasan di lingkungan Kementerian Perdagangan melalui PPEI. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan untuk menyempurnakan tampilan dan kelengkapan kemasan produknya.
Setelah melalui empat kali pengajuan, akhirnya produknya berhasil diterima.
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi pelaku UMKM bahwa kualitas produk saja belum cukup. Kemasan, standar, legalitas, dan kemampuan memenuhi persyaratan pasar juga menentukan keberhasilan sebuah usaha.
Pakde Turijo juga menekankan pentingnya keberanian mendatangi dinas terkait untuk meminta pendampingan. Menurutnya, pelaku UMKM tidak perlu malu atau takut berkonsultasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan, maupun Dinas Perindustrian.
Dari Cilegon Menembus Australia, Kanada, dan Malaysia
Salah satu pencapaian terbesar Pakde Turijo adalah keberhasilannya membawa produk minuman herbal Indonesia ke pasar internasional.
Saat ini, produknya telah memiliki pasar ekspor rutin di Australia, Kanada, dan Malaysia. Ia juga mengungkapkan adanya peluang pengembangan pasar ke sejumlah negara lainnya.
Menariknya, perjalanan menuju ekspor justru dimulai dari keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris.
Pakde Turijo mengaku tidak menguasai bahasa Inggris. Bahkan, ketika pertama kali menerima panggilan telepon dari calon pembeli luar negeri, ia sempat kebingungan dan tidak berani mengangkat telepon tersebut.
Namun, ia tidak membiarkan keterbatasan itu menjadi penghalang.
Komunikasi kemudian dilakukan melalui WhatsApp. Dengan bantuan kamus dan penerjemah, ia mulai memahami kebutuhan calon pembeli hingga akhirnya berhasil menjalin transaksi.
Dalam salah satu pengalaman awalnya, calon pembeli bahkan melakukan pembayaran terlebih dahulu sebelum produk dikirimkan.
Kisah ini memperlihatkan bahwa keberanian mengambil peluang, disertai kesiapan administrasi dan pemenuhan persyaratan negara tujuan, dapat membuka jalan bagi UMKM untuk memasuki pasar ekspor.
Pakde Turijo juga menceritakan bahwa keikutsertaannya dalam berbagai pameran perdagangan dan kegiatan ekspor turut mempertemukannya dengan calon pembeli dari luar negeri. Ia bahkan mengungkapkan telah menjalin nota kesepahaman dengan mitra dari Australia.
Keluarga Menjadi Kekuatan dalam Membangun Bisnis
Keberhasilan usaha ini tidak dibangun seorang diri. Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan bisnis.
Pakde Turijo mengungkapkan bahwa anak, menantu, dan cucunya kini turut bergabung dalam perusahaan keluarga. Masing-masing memiliki tanggung jawab berbeda, mulai dari administrasi dan keuangan, pengelolaan distributor, pemasaran, hingga dukungan transportasi dan logistik.
Keterlibatan generasi berikutnya menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan usaha.
Dari yang semula hanya dibantu dua orang karyawan, kini bisnis tersebut memiliki tiga karyawan tambahan di luar anggota keluarga yang terlibat.
Model bisnisnya pun mulai berkembang. Selain penjualan produk dengan merek sendiri, perusahaan membuka peluang kerja sama reseller serta white label, yakni produksi menggunakan merek milik mitra yang telah memiliki jaringan pasar.
Dengan demikian, peluang bisnis tidak hanya terbuka bagi konsumen, tetapi juga bagi pelaku usaha lain yang ingin mengembangkan produk minuman herbal.
Menyiapkan Produk Rendah Gula untuk Pasar Global
Meski telah berhasil menembus beberapa negara, Pakde Turijo menyadari bahwa tantangan bisnis ke depan semakin besar.
Salah satu tantangan yang sedang dihadapi adalah perubahan preferensi konsumen di pasar internasional. Sejumlah calon pasar menginginkan produk dengan kandungan gula rendah atau tanpa gula.
Karena itu, inovasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Pengembangan kopi rempah rendah gula menjadi salah satu respons perusahaan terhadap perubahan permintaan tersebut.
Baginya, pelaku usaha tidak boleh hanya memaksakan produk yang dimiliki kepada pasar. Sebaliknya, pengusaha harus memahami apa yang dibutuhkan konsumen dan menyesuaikan inovasi berdasarkan karakteristik pasar tujuan.
Di tengah kondisi ekonomi global dan melemahnya daya beli domestik yang turut dirasakan pelaku usaha, pencarian pasar alternatif menjadi strategi penting untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis.
Pesan untuk UMKM Indonesia: Jangan Takut Bermimpi Ekspor
Dalam perbincangan di program Ruang UMKM Naik Kelas bersama Raden Tedi, Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia, Pakde Turijo menyampaikan pesan sederhana tetapi penting bagi para pelaku usaha.
Menurutnya, legalitas merupakan salah satu fondasi utama untuk mengembangkan bisnis. Pelaku UMKM perlu memperhatikan kelengkapan perizinan, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, serta persyaratan izin edar yang sesuai dengan kategori produk dan negara tujuan.
Selain itu, konsistensi menjaga kualitas produk harus berjalan beriringan dengan inovasi.
Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk tidak berhenti mencari pasar dan mempelajari kebutuhan konsumen.
Kisah Pakde Turijo menjadi bukti bahwa membangun bisnis tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, kemampuan bahasa asing yang sempurna, ataupun jaringan luas sejak awal.
Keberanian memulai, kemauan memperbaiki kekurangan, serta kesungguhan memanfaatkan peluang menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kesuksesan.
Dari sebuah usaha rumahan di Cilegon, Pakde Turijo bersama keluarga kini membawa cita-cita yang lebih besar: memperkenalkan kekayaan rempah Indonesia kepada masyarakat dunia.
Jika dahulu rempah-rempah Indonesia menjadi komoditas yang diperebutkan bangsa-bangsa asing, kini ia ingin menjadikan rempah sebagai kekuatan produk lokal yang mampu bersaing dan menguasai pasar internasional.
Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk berkarya dan membawa produk Indonesia mendunia tidak boleh berhenti. (andif)








